Tak Kunjung Hamil…Enjoy Aja ! ^^d

Zakaria sudah uzur, istrinya juga mandul. Tapi mereka tak putus asa berdoa. Allah akhirnya mengabulkan doa mereka

Seorang perempuan yang sudah dua tahun berumah tangga mengungkapkan kesedihan hatinya. Ia gundah lantaran belum juga ada tanda-tanda akan punya momongan. Termasuk yang membuat dirinya kerap merasa tidak nyaman adalah lontaran pertanyaan dan pernyataan dari orang-orang sekitar yang sering terasa menusuk hati. Memikirkan semua itu, perempuan muda ini hanya bisa menangis, sedih, dan pilu.

Siapa pun perempuan, ketika mengalami masa penantian yang panjang seperti ini, pasti memiliki sensitivitas bila ada orang yang menyinggungnya. Memang hanya pertanyaan, tapi itu sebenarnya tidaklah menyenangkan. Pun dengan saya yang telah merasakan betapa tidak nyamannya menantikan masa-masa indah itu.

Setelah menikah, tentu saja setiap pasangan tidak akan menunda untuk segera mempunyai momongan. Sebab kehadiran buah cinta bagi pasangan suami istri dianggap sebagai prestise di mata orang. Ia adalah kelengkapan kebahagiaan setelah mengarungi bahtera rumah tangga. Juga kebahagiaan untuk sanak saudara dan famili kita.

Banyak pasangan hari ini yang mungkin sedang resah menunggu datangnya kehamilan. Pertanyaan seperti ini tentu sering muncul: sudah isi belum? Kapan, nih nyusul? Sudah ada calon generasi kah? Kok belum hamil-hamil? Sebagai perempuan yang pernah mengalami masa penantian seperti ini, saya akui bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang sering membuat diri sangat tidak nyaman, tidak kuat, kadang bikin sewot, dan menohok di hati.

Allah Maha Berkehendak

Lantas, apa yang harus dilakukan pasangan suami istri yang tak kunjung dianugerahi anak? Pertama, berpikir postif kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,. Allah Maha Tahu atas segala keinginan dan kebutuhan kita. Apa yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan di mata Allah. Yang harus dipahami bahwa keinginan kita sangatlah banyak dan tidak ada batasnya, sedangkan apa yang kita butuhkan sebenarnya hanya Allah-lah yang tahu.

Jika Allah belum mengaruniakan anak kepada kita, barangkali karena Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) melihat kita belum butuh dengan itu. Semua telah diatur oleh-Nya. Kita cukup berusaha sebaik-baiknya sedangkan hasilnya kita serahkan kepada-Nya.

Kedua, tanamkan percaya diri dan keyakinan bahwa saatnya nanti pasti hamil juga. Bagi seorang lelaki (suami), tidak bisa dipungkiri, keadaan yang demikian itu bisa saja membuat diri menjadi tidak percaya diri, merasa akan dipandang orang lain, maaf, tidak jantan. Kondisi seperti ini bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan. Yakin saja bahwa memang belum saatnya untuk memiliki momongan. Allah masih menunda untuk menguji kesabaran kita sebelum kita benar-benar mempunyai keturunan.

Ketiga, nikmatilah. Mungkin kita akan berpikir, kenapa kok tidak hamil-hamil juga, padahal datang bulan lancar. Nah, para pasangan yang mungkin sudah berbulan-bulan atau bertahun-tahun menanti kehamilan, nikmatilah kesempatan ini. Nikmati saat-saat berdua dengan pasangan, Allah memberikan kita kesempatan untuk bisa menikmati saat-saat berdua tersebut.

Teladan Keluarga Nabi Zakaria

Adalah Nabi Zakaria ‘Alaihisalam, seorang bapak yang hingga masa tuanya belum juga mendapatkan anak. Sementara istrinya seseorang perempuan tua yang belum melahirkan seseorang pun dalam hidupnya, karena ia wanita mandul.

Pada usia tuanya itu Nabi Zakaria menjadi semakin khawatir. Sebab belum ada generasi yang diharapkan yang melanjutkan risalah suci yang ia emban. Zakaria selalu berdoa agar dikaruniakan seorang anak laki-laki yang dapat mewarisi ilmunya dan menjadi pelanjut risalah tauhid.

Dalam usahanya itu, Zakaria tidak menyampaikan keinginannya tersebut kepada orang banyak, bahkan kepada istrinya, tetapi ia hanya mengadukannya kepada Allah. Hingga pada suatu pagi Zakaria mendapati Maryam di mihrabnya lengkap dengan buah-buahan yang sedang tidak musim ketika itu. Kejadian ini diabadikan di dalam al-Qur’an.

“Zakaria berkata: ‘Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari sisi Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.’ ” (Ali ‘Imran [3]: 37-38)

Dari peristiwa tersebut, Zakaria semakin yakin Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu, termasuk masalah keturunan yang terus ia munajatkan kepada-Nya. Kondisi fisik Zakaria kala itu sudah tua renta, rambutnya sudah memutih, tulangnya tak sanggup lagi menopang tubuh. Sementara istrinya sendiri adalah wanita mandul yang tak mungkin lagi punya anak. Tapi Zakaria tetap optimis. Ia tidak berputus asa dengan keadaannya yang begitu rupa. (lihat Maryam [19]: 2-6).

Hingga pada akhirnya Allah pun mendengar doa panjang yang dilafazkan Zakaria. Zakaria semakin takjub atas kehendak Allah memberikannya anak, dalam kondisi dirinya yang sudah tua dan istrinya pun wanita yang mandul.

“Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (Maryam [19]:9)

Pasangan yang sedang menanti kehamilan, marilah kita menyelami kisah tentang Nabi Zakaria ini. Tentang kesabarannya selama bertahun-tahun menanti kehadiran generasi penerus dan kemudian Allah menjawab doa panjang itu. Itulah dahsyatnya kekuatan kesabaran, doa, dan keyakinan.

Saling Menguatkan

Tentu saja pasangan yang sedang menanti kehamilan membutuhkan motivasi dari orang sekitarnya. Sebaiknya sesama Muslim saling menguatkan satu sama lain. Jangan sampai kita melontarkan pertanyaan atau perkataan yang bisa membuat saudara kita yang sedang menunggu kehamilan bersedih.

Karena itu ada baiknya kita menghindari pertanyaan-pertanyaan yang “memojokkan,” meski itu semata-mata iseng. Akan sangat elok jika kita memberikan motivasi dan menguatkannnya dengan ucapan yang baik, berbicara dari hati ke hati, siapa tahu ada problem lain yang enggan diutarakan.

Selanjutnya, kita menawarkan solusi. Sikap kita terhadap saudara kita yang sedang menunggu kehamilan adalah memberikan solusi. Jadikan ia nyaman ketika ia berada di sekitar kita. Jangan sampai keberadaan kita menjadi momok yang menakutkan bagi mereka karena kata-kata kita yang kerap menyindir yang mungkin tidak kita sadari.

Karena bisa saja ia jadi takut dan tidak nyaman berada dekat kita lantaran khawatir dengan pernyataan atau pertanyaan yang keluar dari mulut kita yang lebih banyak iseng, tanpa memberikan solusi atau motivasi. Kita sesama Muslim adalah bagaikan sebuah bangunan. Saling menguatkan, karena bahagia kita adalah bahagia saudara kita juga. Salinglah memberi dukungan dan motivasi, juga mendoakan.* Fiqih Ulyana, Ibu rumah tangga tinggal di Depok, Jawa Barat. SUARA HIDAYATULLAH, JUNI 2011

Menantikan Cahaya Hati Kami Berdua

Bismillahirohmanirrohim
Rabu, 4 Januari 2012
15.20 WIB

Akhirnya tergerak juga jari ini mengetik sebuah tulisan di blog tercinta. Yang biasanya ramai dengan tulisan Nisa yang penuh inspirasi ^^d. Niat untuk menulis tulisan ini sebenarnya cukup lama namun selalu tertunda dengan berbagai alasan tapi akhirnya sekaranglah saatnya,hehehe…

Jadwal bulan ini yang selalu membuat deg-degan akhirnya maju sehari dan tetap memberikan rasa kecewa meskipun sudah berusaha dibendung dengan ikhtiar sabar dan tawakal. Yup, tampaknya rejeki yang kami nantikan kami berdua (saya + suami) belum hadir di bulan ini. Sudah terhitung 16 bulan kami menikah dan masih dengan berjuta harapan akan hadirnya Cahaya Hati kami untuk meramaikan serunya hidup di rumah cahaya kami. Alhamdulillah kami tetap yakin Alloh akan memberikan kelak pada waktu yang paling tepat bagi kami, namun kami sebagai manusia biasa juga masih belum bisa bersabar seperti Nabi Zakaria. Nampaknya memang musuh terbesar ada dalam diri kami sendiri, bagaimana kami bisa mengatur hati kami untuk selalu bersabar karena orang-orang tercinta di sekitar kami begitu mensupport kami untuk selalu bersabar.

Alhamdulillah selama penantian ini membuat kami banyak belajar akan arti kesabaran. Kesabaran akan sepasang suami istri yang baru setelah 7 tahun dikaruniai anak dan bahkan ada yang setelah 15 tahun mereka dikaruniai anak. Subhanalloh sungguh besar sabar di hati mereka. Kalau dibandingkan dengan mereka. kami yang masih 16 bulan menjalani penantian ini tidak apa-apanya. Namun bagi kami sungguh penantian yang penuh perjuangan. Sehingga jika ada yang menanyakan : “Sudah isi apa belum?” maka akan selalu kami jawab : “Belum, masih berjuang nich.” karena kami ingin segala ikhtiar kami bernilai pahala ^^.

Alloh pasti memiliki rencana terbaik bagi kami. Bagi saya sendiri, membuka mata dan hati ternyata banyak yang menjalani penantian ini. Banyak pula yang para calon ibu yang penuh dengan semangat saling mensupport walaupun lewat dunia maya. Sharing dengan berbagai tips-tips dan berbagi pengalaman membuat hati kami dekat meskipun tak pernah kenal wajah. Kebahagiaan akan kabar salah satu dari kami yang akhirnya “positif” menjadi kebahagiaan yang kami miliki bersama. Rasa sedih yang manusiawi saat kesempatan itu belum hadir di bulan ini pun menjadi rasa sedih kami bersama dan kalimat-kalimat saling menguatkan membuat kami kembali tersenyum optimis.

Bersambung yaaaaaa…

Relia_aqil ^________^

Tempayan Retak

_ Untaian Hikmah Dari Negeri Cina _


Seorang ibu mempunyai dua tempayan yang digunakannya untuk mengambil air , yang dibawanya setiap hari menggunanakan sebilah bambu. Satu tempayan tersebut sudah retak, sedangkan satunya tak bercela sehingga selalu membawa air dalam kondisi penuh. Setelah menempuh perjalanan dari sungai, air yang tersisa di tempayan retak itu hanya tinggal separuhnya saja. Jadi selama dua tahun terakhir, si ibu hanya membawa air sebanyak satu setengah tempayan. Tentu saja hal ini membuat bangga si tempayan utuh atas pencapaiannya. Sedangkan tempayan retak merasa malu karena hanya memenuhi setengah dari kewajibannya.

Maka, setelah dua tahun merasa gagal menunaikan kewajibannya, si tempayan retak memberanikan diri untuk berbicara kepada si ibu.
“Aku malu, selama perjalanan air keluar melalui bagian tubuhku yang retak, sehingga air yang dapat kubawa hanya tinggal separuh”
Si ibu kemudian tersenyum, dan berkata pada si tempayan retak “ Tidakkah kau mengamati tiap perjalanan pulang, bunga-bunga bermekaran di sisi jalan yang kau lalui, dan tidak disisi yang satunya ?
Aku mengetahui kekeuranganmu, oleh karena itu aku menabur benih bunga disisi jalan yang kau lalui, dan setiap perjalanan pulang, kau telah menyirami benih-benih itu hingga dia bersemi dan tumbuh subur. Aku selalu dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghiasi rumahku. Kalau bukan karena kau, rumah ini tak akan seasri ini

Tempayan retak pun kini menyadari bahwa keretakan dan cacat di tubuhnya bukanlah tidak membawa manfaat.

Disadur dari power point yang dikirim salah satu teman ^_____^

Keretakan yang dialami oleh tempayan diatas, kalau kita ibaratkan dalam hidup kita bisa jadi adalah kekurangan-kekurangan yang kita miliki. Dan bisa jadi kita juga adalah tempayan-tempayan retak yang belum memahami bahwa retak dalam tubuh kita bukanlah sesuatu yang bisa membuat kita melakukan kegagalan-kegalan selanjutnya. Kita hanya harus membuka mata, hati dan pikiran kita, bahwa segala sesuatu yang terjadi bukanlah tanpa alasan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, karena kesempurnaan itu hanyalah milik Allah semata. Oleh karena itu, tidak hanya ada aku, tapi kita. Karena dengan kita, maka kekurangan-kekurangan yang dimiliki akan disempurnakan oleh yang lain.
Kita … adalah sesuatu yang tak berkesudahan.

Allah selalu punya hadiah untuk kita
Sebuah cahaya di kegelapan
Sebuah rencana di hari esok
Sebuah jalan keluar untuk tiap permasalahan
Sebuah kebahagiaan untuk tiap kesedihan
Sebuah kedewasaan untuk tiap ujian yang datang

Bukan Rindu Biasa

Saat temaram lampu membiaskan kelam
Itulah saat perih itu merajam
Entah apakah ini seperti yang dulu
Yang pasti ……..
Aku tahu ini bukan rindu yang biasa

Waktu itu …..
Tuhan memberi tanda
Pada kompas untuk menunjukkan arah yang sama
Pada waktu untuk memberikan satu kesempatan
Pada kita untuk saling menemukan
Pada hati untuk melihat lebih dalam

Sekarang …….
Mungkin Tuhan memberi tanda
Bahwa aku masih menyimpan rindu yang sama

*****

Apakah engkau tahu ??
Bintang tak pernah dusta memberi petunjuk arah
Begitupun dengan hatimu
Seandainya engkau masih menyimpan bening kilau iman itu didalamnya :)

Awal Tahun 2012

# Ada Apa Di Tahun Baru 2012 …. #

Tahun baru tadi malam adalah sebuah tragedi bagi saya, Kenapa ??? seperti tradisi tahun baru di kota besar, Terompet dan Kembang Api menjadi dua ikon yang wajib hadir untuk merayakannya. Bukan apa-apa …. Bagi saya cukup menyadari bahwa pergantian hari kali ini juga menjadi pergantian tahun, tak perlu lah sampai hura-hura segitu hebohnya. Oleh karena itu, setelah 3 hari berturut-turut menemani malam berganti pagi, saya berniat untuk istirahat malam kemarin, tapi rencana saya gagal total, tepat pada jam 00.00 perjalanan saya menuju alam mimpi diganggu hingar bingar suara terompet dan letusan kembang api dari Mall sebelah rumah. Alhasil…….saya terpaksa mengulangi lagi agenda menemani malam berganti pagi sekaligus menemani tahun 2011 pergi terganti tahun 2012 *ironis sekali, kepergian 2011 dirayakan dengan hura-hura, teman saya bilang ini adalah tragedi kematian yang tragis.

Perayaan Tahun Baru sepertinya telah menjadi budaya dan agenda wajib yang harus dirayakan hampir bagi semua orang. Beribu harapan tertuang, selaksa doa dilangitkan, semoga tahun selanjutnya menjadi awal yang lebih baik dari tahun kemarin. Ah…bukankah setiap haripun seharusnya begitu, bahkan tak perlu menunggu tahun berganti untuk berharap lebih baik. Moment ini menguras banyak sekali debat, canda dan kesedihan.

Berikut adalah beberapa rangkuman renungan, tulisan, bercandaan dan harapan di pergantian tahun 2012 ini, dirangkum dari banyak sumber :)

****

# Bukan Hingar Bingar Tahun Baru Bagi Kita #

Entah direncanakan atau sekadar latah, pada malam itu orang-orang seakan secara serempak melonggarkan moralitas dan kesusilaan. Bunyi terompet diselingi gelak tawa (bahkan dengan minuman keras) bersahut-sahutan di setiap tempat. Sepeda motor mengepulkan asap hingga mirip ‘dapur berjalan’ meraung-raung. Mobil-mobil membunyikan klakson sepanjang jalan. Cafe, diskotik dan tempat-tempat hiburan malam sesak padat. Orang-orang ‘tumpah’ di jalanan dengan satu tujuan: merayakan Tahun Baru.

Sebenarnya tahun Masehi adalah tahun yang baru bagi bangsa Indonesia, karena ia tidak memiliki akar kultur dan tradisi dalam sejarah bangsa ini. Ada beberapa faktor yang dapat mendukung anggapan ini.

Pertama, latarbelakang sosio-historis. Berlakunya tahun Masehi tidak bisa dipisahkan dari pengaruh teologi (keagamaan) Kristen, yang dianut oleh masyarakat Eropa. Kalender ini baru diberlakukan di Indonesia pada tahun 1910 ketika berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap atas seluruh rakyat Hindia Belanda.

Kedua, karena latarbelakang teologis. Sebagaimana diketahui, kalender Gregorian diciptakan sebagai ganti kalender Julian yang dinilai kurang akurat, karena awal musim semi semakin maju, akibatnya, perayaan Paskah yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea I pada tahun 325, tidak tepat lagi.

Jadi jelas, apa yang ada saat ini, merayakan tahun baru masehi adalah bukan berasal dari budaya kita, kaum muslimin, tapi sangat erat dengan keyakinan dan ibadah kaum Nasrani.

Hari raya merupakan hari paling berkesan dan juga merupakan simbol terbesar dari suatu agama. Karenanya, seorang muslim tidak boleh mengucapkan selamat kepada umat nasrani atas hari raya mereka. Hal ini sama saja dengan meridhai agama mereka dan juga berarti tolong-menolong dalam perbuatan dosa. Padahal Allah telah melarang kita dari hal itu. Allah Azza Wajalla berfirman, artinya:
“Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al Maidah: 2).

Harusnya kita sadar, maraknya perayaan tahun baru merupakan sebuah upaya yang dilakukan orang kafir untuk meracuni akidah Islam yang murni tertanam dalam diri umat Islam. Perayaan tahun baru dikemas begitu apik hingga tanpa sadar kita jauh dari nilai-nilai Islam. Terlepas dari segala bentuk acaranya, keterlibatan dalam perayaan tahun baru telah membawa kaum muslimin secara tidak langsung membenarkan ajaran agama selain Islam.

Lalu bagaimana hukum merayakan tahun baru dengan niat bukan menghormati kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan agama Nasrani? Ya….!, sekadar senang-senang dan refreshing.
Ada baiknya kita menyimak ucapan Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, “Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka, pada hari besar mereka, karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka.” (HR. Baihaqi).
Umar Radhiyallahu ‘Anhu juga berkata, “Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka.” (HR. Baihaqi).

Wallahu a’lam

http://www.rumahrohis.com/2011/12/gemerlap-tahun-baru-jangan-latah.html

***
# Gerimis Akhir Tahun #

(1)
Aku suka gerimis. Gerimis membuat udara pengap di kolong jembatan menjadi lumayan. Tapi gerimis di malam Tahun Baru tak pernah membuatku senang. Hujan di malam Tahun Baru hanya membuat orang malas keluar. Tak ada pesta pora di jalanan. Artinya lagi tak ada yang bisa kupungut untuk menyambung hidup.

Gerimis dan angin makin pekat. Kurapatkan sarung yang membalut tubuhku. Dua tahun yang lalu, gerimis turun sama pekatnya, saat hendak kutinggalkan istriku ke Jakarta.
“Tunggulah sebentar. Nanti akan kulunasi semua hutang berobat anak kita,” janjiku.
Kau tersenyum. Tapi kabut di matamu tak juga hilang. Malah menelanku di dalamnya.

Saat itu, kau mencoba menahanku sejenak. “Masih hujan, Mas,” katamu. Kau berbalik hendak mengambil payung. Namun tersadar, itulah barang terakhir milikmu yang kau jual. Saat itu pula aku berjanji dalam hati, akan kubelikan kau payung baru saat pulang nanti.

Tapi, istriku, berapa janji yang tak bisa kupenuhi. Kau benar, sudah hampir dua tahun aku di ibu kota, tapi uang yang kukumpulkan masih juga tak seberapa. Menggelandang dan memulung hanya untuk tetap jadi manusia. Katamu, Jakarta menelan manusia. Kau benar, Jakarta menelan harapan.

Suara arak-arakan sesekali terdengar di atasku. Masih 4 jam ke penghujung tahun. Gerimis belum juga reda. Samar-samar suara terompet terdengar. Suara klakson bersahutan. Betapa meriah di luar sana. Gerimis membahasahi mataku lalu kurasa nyeri di dadaku.

(2)
Batu, Malang, Jawa Timur
31 Desember 2011

Sedari pagi hape bututku berbunyi terus. Di layar tertera sepuluh panggilan tak terjawab dari satu nama, Mami. Sialan, bila ada maunya, nyonya tua itu perhatian bukan main.
Satu pesan masuk dari nama yang sama: jangan sampai tak datang nanti malam. Akan ada banyak tamu. Banyak yang minta ditemenin.

Ah, aku ingin perei saja malam ini. Mami harusnya tahu, aku tak suka suara terompet. Ia mengingatkan pada suamiku. Pada kehilangan-kehilangan yang kualami. Aku ingin istirahat malam ini. Menemani anakku. Tadi siang, anakku meminta jagung bakar yang ada di alun-alun. Tapi, sungguh, sudah tak ada uang di kantong.

Uang. Mungkin benar kata Mami, nanti malam akan banyak orang berpesta. Lumayan, bisa menyambung hidup dan menambah buat beli obat anakku. Kata dokter, kartu miskin tak bisa buat beli obat anakku.

Langit gelap, gerimis mulai turun. Kutaburi wajahku dengan bedak murahan. Sayup-sayup, jalanan mulai riuh. Ya.. berangkatlah. Berpestalah. Aku tahu kau butuh hiburan. Sedang aku butuh uang. Mampirlah ke tempatku nanti..

Jam sepuluh hujan tak juga reda. Hape bututku berbunyi lagi. Kuabaikan. Mungkin Gusti Allah sedang marah padaku. Tapi bukankah ini Maha Penyayang juga Maha Mengerti??

Di ranjang kulihat anakku sudah tertidur nyenyak. Ah, wajahnya mirip betul dengan ayahnya. kubersihkan wajahku, lalu kudekap ia sampai aku tertidur.

_______________________
Selamat Tahun Baru, kawan.
Saya doakan semoga tahun depan menjadi lebih baik.

http://www.facebook.com/bambangtrismawan

***

# Status FB teman-teman saya #

“ Hujan mengakhiri tahun 2011, Alhamdulillah…deras…deraslah …. Agar tak bisa lagi orang-orang hura-hura malam ini”

“ Sebenernya apa sih yang mereka lakukan di jalan malam ini, paling-paling hanya meninggalkan banyak sampah di jalan”

“ Tahun Baru … terompet …. Kembang api…..I Like It :)

“ PERINGATAN !!!
Jangan masuk kamar mandi pada kam 23.59 pada tanggal 31 Desember ….
BERBAHAYA !!

#Kamu bisa-bisa keluarnya tahun depan hehehe ^_~

****

Bagi Saya, tahun baru adalah saat memahami bahwa hari-hari kemarin di tahun 2011 menjadi rangkuman perjalanan dengan banyak pelajaran yang indah, hanya butuh waktu untuk memahami bahwa tiap episode kehidupan memberikan banyak kesempatan bagi kita untuk menjadi lebih baik, hanya butuh waktu…butuh kesiapan …. butuh kesadaran ….bahwa kita sekali lagi telah diberi waktu olehNya untuk kembali menata tujuan hidup dengan menemani waktu mengeja hari , kembali berlari dan berpeluh untuk mencari cintaNya
Semoga hari-hari kita esok adalah hari-hari terbaik dan lebih baik :)

***

Atau …. Mengutip status teman saya di FB (BT)

Kucopot kalender dari dinding. Tak kubuang, kusimpan di lemari untuk sampul buku keponakanku.

“Ada yang baru di Tahun Baru?” Bisik kalender baru saat kupasang.
Tidak. Dadaku masih mengeja nama yang sama. Masih rindu yang lama.

***

Tak Lelo Lelo Ledung

Ciptaan : Markasan
Vokal : Sunyahni
Produksi : Dasa Studio

Tak lelo lelo lelo ledung
Cep meneng ojo pijer nangis
Anakku sing ayu rupane
Yen nangis ndak ilang ayune

Tak gadang biso urip mulyo
Dadiyo wanito utomo
Ngluhurake asmane wong tuwo
Dadiyo pandekare bongso

*)
Wis cep menengo anakku
Kae bulane ndadari
Koyo buto nggegilani
Lagi nggoleki cah nangis

Tak lelo lelo lelo ledung
Cep meneng anakku cah ayu
Tak emban slendang batik kawung
Yen nangis mundak ibu bingung

reff :
kembali ke *)

Salah seorang adik saya mengirimi saya note yang berisi syair lagu berbahasa jawa yang biasanya dinyanyikan oleh pakpoh saya untuk menidurkan cucunya :) *membuat saya juga familiar dengan lagu ini karena ikut mendengarkan lagu ini tiap malam

Tak lelo lelo ledung merupakan lagu :nina bobok yang dinyanyikan agar sang anak tidur dan tidak rewel, kalau dilihat syairnya sih buat anak perempuan, karena ponakan saya laki-laki jadi pakpoh biasanya mengganti syairnya beberapa agar cocok, misal

Tak lelo lelo lelo ledung
Cep meneng ojo pijer nangis
Anakku sing bagus rupane
Yen nangis ndak ilang baguse

Tak gadang biso urip mulyo
Dadiyo satrio utomo
Ngluhurake asmane wong tuwo
Dadiyo pandekare bongso

*)
Wis cep menengo anakku
Kae bulane ndadari
Koyo buto nggegilani
Lagi nggoleki cah nangis

Tak lelo lelo lelo ledung
Cep meneng anakku cah bagus
Tak emban slendang batik kawung
Yen nangis mundak ibu bingung

reff :
kembali ke *)

Nah…. lagu ini cukup efektif membuat ponakan saya terlelap tidur sambil digendong dan dinyanyikan lagu ini di bawah bulan purnama hehe. Selain itu , ini juga afektif agar anak-anak nantinya tidak melupakan akar budaya bangsa, mungkin dari hal yang kecil seperti ini, syair pengantar tidur *saya juga jadi gimana gitu kalau mendengar lagu ini, bagus dan berasa jadi berada di mana gitu :)

…………….
sayup2 suara paman yang empuk menggema

Tak gadang biso urip mulyo
Dadiyo satrio utomo
Ngluhurake asmane wong tuwo
Dadiyo pandekare bongso

……….

Ketika Tiba Saatnya

Ketika tiba saatnya mengambil sebuah keputusan, baik aku …….. dan juga kamu.
Perlu sebuah keberanian dalam wilayah ketidakpastian.
Ini bukanlah masalah coba-coba, namun sedikit pengharapan akan hadirnya sebuah kehidupan yang lebih baik, baik dalam sudut pandang Allah pastinya.
Ini adalah masalah yang sedikit melibatkan hati dan memperbesar ruang untuk melibatkan Allah, meskipun semua pertanda mungkin akan sulit terbaca.
Namun ini adalah masalah keberanian.
Keberanian mengambil keputusan, meskipun mungkin akhirnya akan menjumpai sebuah kenyataan … ………. akan hadirnya sebuah rasa yang bernama kehilangan.

Sejumput Rindu Untukmu


Hujan menumpahkan seluruh rasa ke bumi. Deras dan tak ada jeda. Begitupun dengan air mata Kinan. Awalnya dia tahan, tak ingin kedua anaknya ketika pulang nanti menemui matanya yang sembab. Ah…tapi rindu ini terasa benar tajam menusuk jiwanya. Entah dengan apa lagi dia ungkapkan perih itu. Yang dia tahu, untuk inilah Tuhan menciptakan air mata untuk wanita seperti dia.

Sejenak tadi, saat dilihatnya wajah teguh yang tergantung di dinding kamar. Kinan teringat Mas Pram. Awalnya Kinan hanya ingin mengenang Mas Pram. Hanya ingin memandang wajahnya. Hanya ingin menghabiskan sepinya. Hanya ingin ……… Kinan rindu padanya.

Penghabisan tahun ke-4 Mas Pram pergi, namun Kinan masih merasa luka itu baru ditorehkan dalam jiwanya. Bukankah tepat pada hari ini, 4 tahun yang lalu Kinan masih bisa melihat Mas Pram tersenyum padanya , meskipun saat itu wajah Mas Pram semakin tirus. Waktu itu dia bahagia, Kinan melihat wajahnya sangat cerah bercahaya. Mas Pram juga sudah mulai banyak makannya. Bubur yang tadi pagi dia buatkan dimakan habis. Sejak tumor limpha menggerogoti tubuhnya 1 tahun ini, Mas Pram memang banyak berubah. Badannya lebih kurus, makannya sudah tak bisa seperti biasanya. Mas Pram harus mengkonsumsi bubur dan jus, karena makanan biasa tak lagi mampu ia telan. Tak hanya itu, setiap hari ada saja obat yang harus diminum pagi , siang maupun sore. Namun Mas Pram tak pernah mengeluh, hanya ia kadang sering menyendiri. Bagi Kinan, sakit yang diderita Mas Pram tak pernah membuat Mas Pram berubah. Mas Pram tetap rajin bekerja, tetap dengan selera humornya. Bahkan dia melarang Kinan mengabarkan sakitnya kepada kolega bahkan saudaranya. Hanya kondisi fisik Mas Pram yang semakin kurus yang membuat banyak orang bertanya kenapa, dan Mas Pram hanya menjawab kalau pola dietnya berhasil dengan baik. Mas Pram juga selalu melarang Kinan menemani kontrol ke dokter. Mas Pram tidak mau Kinan juga ikut repot dan khawatir. Cukuplah Kinan repot mengurusi dua permata hatinya, begitu selalu Mas Pram menjawab saat Kinan bertanya kenapa.

Ah…. Entah kapan pengobatan Mas Pram memberikan hasil. Meskipun Mas Pram tak pernah sekalipun mengeluh. Kinan tahu, tak ada progress yang baik dari terapi yang dijalankan. Mas Pram bertambah kurus, makanan tak lagi bisa ditelannya. Kinan kini rajin membuat bubur dan jus buah agar suaminya tetap mendapat sumber energy bagi tubuhnya. Hingga sore kemarin, Mas Pram memutuskan untuk pulang ke rumah ibunda Kinan. Katanya ingin refreshing, Kinan menuruti saja apa kehendak suaminya, toh tidak ada salahnya menghabiskan liburan disana. Kedua anak mereka juga akan senang.

Pagi itu, Mas Pram mengimami shalat shubuh dengan khusyuk, begitu pula saat Dhuha, setelah selesai shalat Mas Pram memintanya memakaikan baju yang baru dibeli sebulan yang lalu. Tampak rapi, meskipun Kinan juga bingung untuk apa Mas Pram berpakaian serapi itu.
Memangnya Mas Pram mau kemana ?” Tanya Kinan sambil membantu memakaikan kemeja biru itu untuk suaminya
Hari ini hari penentuan, aku ingin pergi” Mas Pram menjawab tanyanya dengan tersenyum
Penentuan apa ? bukankah masih besok hasil lab Rumah Sakitnya keluar, kan Eka yang ngambil. Mas Pram tunggu disini saja, tak perlu ke Rumah Sakit sendiri” Kinan masih terheran-heran dengan perilaku suaminya. Bukankah kata Mas Pram hasil pemeriksaan laboratorium suaminya di sebuah Rumah Sakit besar di Kota baru akan keluar besok, kenapa bingung sejak sekarang ? apakah Mas Pram sangat khawatir akan hasilnya ?
Nggak, hari ini keluarnya, aku akan pergi sekarang “ kata suaminya meyakinkan
Tapi Mas Pram kan masih lemah, apa gak sebaiknya besok saja?”
Iya juga, kayaknya aku ingin tidur dulu, o ya bisa tolong ambilkan air putih, aku haus”
Iya Kinan ambilkan”
Manis ya …enak rasanya” Mas Pram meminum habis air yang disodorkan Kinan.
Ah.. hanya air putih saja kok, enak bagaimana “ Tanya Kinan heran, masak air putih saja dipuji rasanya.
Oh ya, mau tilawah ya ? gimana kalau disini saja, biar Mas ikut dengerin” Kata Mas Pram kemudian
Kalau begitu Kinan ambil mukena dulu ya Mas” Kinan beranjak pergi, dilihatnya Mas Pram mulai membaringkan diri di tempat tidur, ah bajunya lupa dilepas lagi, jadi aneh melihat Mas Pram tidur dengan baju serapi itu.
Tak berapa lama, Kinan kembali ke kamar dengan membawa mukena. Dilihatnya Mas Pram sudah terlelap tidur. Wajahnya sangat tenteram, seulas senyum tipis mengembang di wajahnya. Sejenak Kinan terpaku, wajah itu adalah wajah yang sepuluh tahun menanyakan kesediaannya untuk menikah. Ah.. kenapa jadi inget-inget masa lalu begini ? Kinan cepat-cepat menggelar sajadah di samping tempat tidur. Dilihatnya lagi Mas Pram yang masih tertidur, tapi …. tanpa sadar disentuhnya wajah itu, Kinan tercekat …….. Mas Pram bukan tidur, wajah itu masih hangat, senyum itu masih hangat, namun ……….tangan Mas Pram telah dingin. Kinan tak ingin menerka …… Kinan tak ingin mencari tahu. Kinan telah tergugu, tangisnya menghilang. Dia hanya memeluk suaminya dengan erat. Kinan hanya ingin memastikan Mas Pram masih ada disampingnya. Kinan tak tahu berapa lama ia bersimpuh, Kinan juga tak tahu berapa kali ia memanggil-manggil nama Mas Pram , yang ia tahu kemudian Paklek telah membelai kepalanya dan berbisik pelan “Sabar Kinan, masmu telah pergi ….dia telah pergi dengan nyaman. Jangan khawatir, sabar ya……..”

Saat itulah Kinan sadar, bahwa dia kehilangan …………..

Kinan tak lagi tahu apa arti kesedihan saat jenazah Mas Pram dikuburkan. Yang dia tahu hanyalah tiba-tiba ada ruang kosong dalam hatinya yang tiba-tiba tercipta. Kinan tak tahu bagaimana mengisinya. Yang dia tahu, segala sesuatu menjadi kurang setiap harinya.
10 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Kinan untuk tiba-tiba melepaskan Mas Pram pergi. Terlalu banyak kenangan yang diberikan, terlalu banyak hadiah yang didapatkan, dan terlalu banyak ruang indah yang masih Kinan siapkan untuk rumah tangga mereka. Semua rencana itu…..impian itu, kepergian Mas Pram membuat Kinan tiba-tiba menjadi manusia mati dalam satu hari.

**
Butuh waktu lama bagi Kinan untuk pulih. Tak lagi menangis mengenang Mas Pram dalam sepi, tak lagi melamun mengenang kenangan yang ditinggalkan Mas Pram seorang diri. Dia sadar, Romi dan Regi, dua malaikat kecil yang dititipkan Tuhan untuk mereka masih membutuhkan cintanya. Mas Pram memang telah pergi, namun tidak cintanya.

Meskipun berat, Kinan perlahan bangkit menata kembali puing-puing kesedihannya. Kinan menyadari, Mas Pram tak begitu saja meninggalkannya. Meskipun terlambat, Kinan menyadari Mas Pram telah membuatnya siap sejak beberapa waktu yang lalu.
Ah..mengapa Kinan tak sadar bahwa Mas Pram telah memberikan isyarat saat beberapa bulan yang lalu memaksa untuk mengadakan acara aqiqah untuk anak-anak mereka. Mas Pram bahkan memaksanya membuat SIM sendiri, padahal selama ini Kinan tak pernah pergi tanpa Mas Pram. Mas Pram juga telah membelikannya sebuah jaket tebal, yang ketika Kinan bertanya dengan keheranan untuk apa, Mas Pram hanya menjawab agar Kinan tak kedinginan kalau menyetir motor sendirian. Ah…. bukankah sebuah isyarat juga telah diberikan saat Mas Pram membelikannya tanah di dekat Rumah Ibunya agar Kinan tak lagi kesepian kalau Mas Pram pergi. Kinan hanya tak pintar membaca isyarat.

Kinan bahkan tak tahu kenapa Mas Pram tak mengucapkan sepatah kata perpisahan untuknya, apakah Mas Pram sakit ? namun waktu itu, paklek mengatakan bahwa wajah Mas Pram damai, seperti tidur dan tersenyum. Kinan tahu dia tak salah melihat, Mas Pram telah meninggalkannya dalam tenang, mungkin Allah lebih sayang padanya, lebih merindukan pertemuan dengan Mas Pram, dan lebih ingin Mas Pram dekat dengannya. Kinan tahu, suaminya adalah yang terbaik yang telah Allah berikan padanya dalam 10 tahun perkawinan mereka. Itu waktu yang cukup untuknya.

MasPram tak hanya membuatnya menjadi istri yang bahagia, namun juga memberikan banyak hikmah dalam tiap saat yang mereka lewati bersama.
Kinan mengenal makna murah hati dengan melihat Mas Pram sebagai pribadi yang suka menolong dan ramah kepada sesama.
Kinan mengenal makna kasih sayang dengan melihat Mas Pram sebagai pribadi yang sangat berbakti ketika merawat ibundanya yang sakit stroke hingga akhirnya meninggal dalam pelukannya.
Kinan mengenal makna cinta kasih dengan melihat Mas Pram sebagai pribadi yang sangat bertanggung jawab dan menyayangi keluarga mereka, Mas Pram yang tak sungkan membantu mencuci popok ketika anak mereka baru lahir, Mas Pram yang tak segan memasak ketika Kinan jatuh sakit, Mas Pram yang selalu berusaha memastikan rejeki mereka halal untuk dimakan setiap hari. Mas Pram yang tak pernah letih berdongeng untuk si kecil meskipun pekerjaan menumpuk setiap hari di kantornya. Mas Pram yang lucu, yang disiplin, yang baik, yang ramah, dan yang mencintainya.
Kinan tak tahu, tak tahu apakah Allah memang punya rencana indah untuk keluarga mereka saat membawa Mas Pramnya pergi darinya…………….

Banyaknya kawan yang takziah, menggambarkan Mas Pram bukan hanya suami yang baik, namun juga manusia dan sahabat terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Kinan tahu, semua sudah cukup baginya sebagai pertanda, Allah menyayangi Mas Pram dan menjaganya disana. Sama seperti Dia menjaga Kinan dan dua anaknya disini.

**

Penghabisan tahun ke-4, Kinan tahu bahwa ini rindu. Dan Kinan tahu bahwa tak pernah ada cukup air mata untuk menumpahkan semua rasa. Biarlah … mungkin disana MasPram juga selalu menjaga mereka dari Surga.
Pelan Kinan memandang langit ….

Dan engkau wahai cinta
Bisakah kau kirimkan untukku pengobat luka
Dengan sejumput senyuman dari Surga ……………………..

***
Di penghujung malam
Saat rindu padamu membekukan perasaan
Aku mencintaimu Ayah …..

Ribetnya mempersiapkan pernikahan …

Ternyata menikah itu gak hanya seputar kegiatan sebar undangan, nerima ucapan selamat berbahagia, trus nampangin foto berdua yang ehem gitu deh di mana-mana :) (rasanya nggayaaaaaa gituuuuu …… :) )

Dan mempersiapkan kegiatan pernikahan itu sama saja dengan mempersiapkan diri menghadapi keribetan yang banget-banget ribet (saking ribetnya.com).

Apa saja sih yang harus dipersiapkan ??
1. Yang pertama tentu saja calon pengantinnya hahaha (tapi kalo ini sih gak usah dipikirkan, sudah disiapkan sama Allah kok :D )

2. Persiapan niat <– ini penting !!, meskipun calon sudah ada, tanggal sudah ditetapkan, dan perias pengantin sudah siap, tentu saja niat harus terus di update, jangan sampai ada celah sedikit saja untuk niat yang tidak baik datang tiba-tiba

3. Persiapan Fisik <– untuk calon pengantin, meskipun ribet kesana kemari mempersiapkan segala macam persiapan, tetep jangan lupakan kesehatan fisik, olahraga teratur, makan banyak sayur dsb sehingga pada hari H bisa menjalani dengan bugar :)

4. Anggaran pernikahan <– penting ini :p
gak perlu banyak, asalkan mencukupi untuk rencana kegiatan pernikahan nantinya :) , pilih acara pernikahan yang berkesan namun gak terlalu heboh dalam anggaran dana, bagaimanapun anggarannya kan bisa buat biaya hidup setelah nikah :D

5. Persiapan Tanggal <–ini nih, ribetnya minta ampun, usahakan dua keluarga bertemu, berbicara baik-baik, mengutarakan pendapat masing-masing dan kemudian memutuskan dengan baik tanpa konflik :)
Tanggal baik ?? gak usah yang cantik-cantik deh, yang penting ketika hari H dua calon pengantinnya bisa datang hoho

6. Persiapan di Hari H <–
a. Tamu ?? usahakan list tamu disipkan jauh-jauh hari sebelumnya, bisa temen sendiri (utamakan yang terdekat jaraknya _bukan apa-apa sih, tapi yang terpenting semua terjangkau, jangan sampai yang jauh entah dimana diundang n belum tentu datang, eh yang dekat jaraknya malah terlupakan, kan sayang kadonya hehehe), disamping temen2 sendiri, jangan lupakan teman dari ortu , atasan, bawahan, dan tetangga radius 2 km dari rumah (atau yang sekiranya mendengar keramaian sound system di rumah kita)
b. Catering ?? kalau gak mau ribet, pesen aja sesuai porsi tamu, inget sediain tempat duduk yang banyak, kalau perlu sediain saung untuk lesehan, biar tamu kita gak makan sambil berdiri hehe. Biasanya selain mengandalkan katering juga masak sendiri, ini menguntungkan agar makanan tersebut bisa dibagi-bagi ke tetangga :p
c. Perias ?? usahakan ketemu sendiri sama periasnya, pilih make up yang gak menor-menor amat, yang penting kelihatan cantik dipandang mata (calon suami atau istrinya). Paling ribet adalah menentukan model riasannya, biasanya perias maunya yang bagus menurut dia, karena kalau bagus atau sebaliknya kan yang dibawa-bawa nanti nama periasnya, jadiiiii….pengalaman buat akhwat emang rada ribet nanti kalau berhubungan dengan perias dan gaun pernikahannya *mending saya bantu meriasnya :)
d. Souvenir ?? kalau mau murah ya beli sendiri, dan di setting sendiri, di Jakarta tempat termurah, dan terbanyak pilihannya ya di Jatinegara :) . Agar bermanfaat ada baiknya souvenir juga merupakan barang yang bisa dimanfaatkan, bukan hanya sebagai pajangan saja.
e. Undangan ?? pilih yang simple tapi elegan, gak usah terlalu banyak pernak-pernik. Kalau mau serbaguna bisa aja di setting kalender juga atau tas, atau … banyak lah …
f. Dokumentasi ?? pilih yang profesional lah, ini kan acara penting seumur hidup, jadi kalau bisa foto-fotonya juga yang keren n bisa bikin bangga kalau dipamerkan hehehe
g. baju pengantin ?? nyewa aja hehehe, kalau mau bikin sendiri, mending untuk baju aqad nikahnya, kalau baju resepsi sih nyewa lebih efisien
h. hmmm….apa lagi ya ??o ya jangan lupa daftar ke KUA setempat dan inden penghulu hehehe, temen saya karena agak mendadak akhirnya dapat giliran no 3 karena hari itu pak penghulunya sibuk :)
i. o ya…panitia pernikahan juga penting itu , pilih orang2 atau temen2 yang asyik, gaul dan kreatif biar nikahan kita nantinya rame, seru dan moment yang gak terlupakan (ini nikahan atau reunian coba ?? )

Yang pasti, yang perlu diingat sebenernya adalah persiapan menempuh hidup baru nantinya , itulah yang terpenting, jadiiiii……..wish everything berjalan dengan lancar, sukses dan tanpa hambatan. Jangan lupa berdoa, itu yang penting !!!!

Agar Dia tak Membuang Saya

Sebuah catatan hati dari seorang Helvy Tiana Rosa :: ____ semoga memberi sebuah hikmah pada kita semua ___ ::

Mukminah seorang penggembira yang senang menolong siapa saja. Di Panti Werdha I, Cipayung ini, ia selalu membantu para manula. Mulai dari mengambilkan makanan, menuntun mereka ke kamar mandi, menemani para orangtua itu memeriksakan kesehatan pada dokter keliling, menghibur, dan apa pun yang bisa dilakukannya…
Hari-hari yang mungkin terasa suram, menjadi lebih cerah dengan kehadiran dan kebaikan perempuan gemuk, putih, bermata sipit itu.
Saya harus berdoa. Saya senang ibadah…,” ujarnya sekali waktu.

Tetapi tak banyak yang tahu, apa yang ia ceritakan pada saya, di suatu hari. Dulu, ia adalah bayi kecil yang ditemukan di depan panti sebuah rumah sakit di Cirebon. Seorang Haji keturunan Arab mengambil dan membesarkannya. Kemudian ia menikah dengan seorang lelaki sederhana yang memberinya seorang putri cantik. Sayang, sang suami meninggal tak lama kemudian. Ia pun jatuh bangun membesarkan anak satu-satunya dengan segala rasa cinta dan tanggung jawab. Anaknya tumbuh dewasa, menikah, namun dililit kemiskinan. Menantunya yang bertemperamen kasar mengusirnya, sebelum mereka pindah entah kemana.

Saya dibuang saat dilahirkan, lalu dibuang lagi di sini, ketika tua,” ujarnya pelan dengan mata berkaca-kaca. “Maka, apa yang ingin saya lakukan sekarang hanyalah berbuat kebaikan, agar satu-satunya harapan saya, Dia, meridhoi. Ya, agar Dia meridhoi, dan tidak membuang saya… di neraka.”

Setiap kali melewati Panti Werdha I, Cipayung, saya selalu teringat perkataan Mukminah, nenek berusia lebih dari 65 tahun itu, yang selalu senang menolong siapa saja. Dan saya selalu berdoa untuknya.

Helvy Tiana Rosa
19 April 2001

Banyak hal yang tersisa dalam waktu kita
Hitungan jam…dan hari
Seandainya kita mau memahami
Itulah kesempatan besar untuk kita
Mencari jalan terbaik dengan menjadikan hidup kita sebagai manusia terbaik bagi sesama ……..
Semua …. Agar Tuhan Tak Membuang Kita Di Neraka.