Feeds:
Posts
Comments

Segala puji bagi Allah Ta’ala, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Suatu persoalan yang sering muncul di dunia bisnis adalah jual beli kredit melalui pihak ketiga. Kasusnya adalah semacam ini: Sebuah dealer menjual motor kepada Ahmad dengan cara kredit. Namun, Ahmad harus membayar cicilan kredit tersebut kepada sebuah bank.

Praktek jual beli seperti inilah yang banyak dipraktekkan di banyak dealer atau showroom. Juga dapat kita temui praktek yang serupa pada beberapa KPR dan toko elektronik. Sekarang, apakah jual beli semacam ini dibenarkan? Mari kita simak pembahasan berikut, semoga kita bisa mendapatkan jawabannya.

Yang Harus Dipahami Terlebih Dahulu

Di awal pembahasan kali ini, kita akan melihat terlebih dahulu praktek jual beli yang terlarang yaitu menjual barang yang belum selesai diserahterimakan atau masih berada di tempat penjual.

Contohnya adalah Rizki memberi beberapa kain dari sebuah pabrik tekstil. Sebelum barang tersebut sampai ke gudang Rizki atau selesai diserahterimakan, dia menjual barang tersebut kepada Ahmad. Jual beli semacam ini adalah jual beli terlarang karena barang tersebut belum selesai diserahterimakan atau belum sampai di tempat pembeli.

Larangan di atas memiliki dasar dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang dibawakan oleh Bukhari dan Muslim. Bukhari membawakan hadits tersebut dalam Bab:

باب بيع الطعام قبل أن يقبض وبيع ما ليس عندك

Menjual bahan makanan sebelum diserahterimakan dan menjual barang yang bukan miliknya.”

Sedangkan An Nawawi dalam Shahih Muslim membawakan judul Bab,

بُطْلاَنِ بَيْعِ الْمَبِيعِ قَبْلَ الْقَبْضِ

Batalnya jual barang yang belum selesai diserahterimakan.

Hadits yang menjelaskan hal tersebut adalah:

[Hadits Pertama]

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ

Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.”

Ibnu ‘Abbas mengatakan,

وَأَحْسِبُ كُلَّ شَىْءٍ مِثْلَهُ

Aku berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[Hadits Kedua]

Dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اشْتَرَى طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ وَيَقْبِضَهُ

Barangsiapa membeli bahan makanan, maka janganlah dia menjualnya hingga menyempurnakannya dan selesai menerimanya.” (HR. Muslim)

[Hadits Ketiga]

Ibnu ‘Umar mengatakan,

وَكُنَّا نَشْتَرِى الطَّعَامَ مِنَ الرُّكْبَانِ جِزَافًا فَنَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نَبِيعَهُ حَتَّى نَنْقُلَهُ مِنْ مَكَانِهِ.

Kami biasa membeli bahan makanan dari orang yang berkendaraan tanpa diketahui ukurannya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menjual barang tersebut sampai barang tersebut dipindahkan dari tempatnya.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain, Ibnu ‘Umar juga mengatakan,

كُنَّا فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَبْتَاعُ الطَّعَامَ فَيَبْعَثُ عَلَيْنَا مَنْ يَأْمُرُنَا بِانْتِقَالِهِ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِى ابْتَعْنَاهُ فِيهِ إِلَى مَكَانٍ سِوَاهُ قَبْلَ أَنْ نَبِيعَهُ.

Kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan. Lalu seseorang diutus pada kami. Dia disuruh untuk memerintahkan kami agar memindahkan bahan makanan yang sudah dibeli tadi ke tempat yang lain, sebelum kami menjualnya kembali.” (HR. Muslim)

Dari hadits-hadits di atas menunjukkan beberapa hal:

  1. Terlarangnya menjual barang yang belum selesai diserahterimakan.
  2. Larangan menjual barang yang belum selesai diserahterimakan ini berlaku bagi bahan makanan dan barang lainnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas di atas.
  3. Barang yang sudah dibeli harus berpindah tempat terlebih dahulu sebelum dijual kembali kepada pihak lain.

An Nawawi mengatakan,

“Dalam hadits-hadits di atas terdapat larangan untuk menjual barang hingga barang tersebut telah diterima oleh pembeli. Dan para ulama memang berselisih pendapat dalam masalah ini. Imam Asy Syafi’i mengatakan bahwa menjual kembali barang kepada pihak lain sebelum diterima oleh pembeli adalah jual beli yang tidak sah baik barang tersebut berupa makanan, aktiva tetap (seperti tanah), barang yang bisa berpindah tempat, dijual secara tunai ataupun yang lainnya.” (Syarh Muslim, 169-170)

Apa hikmah di balik larangan ini?

Hal ini diterangkan dalam hadits lain. Dari Thowus, Ibnu ‘Abbas mengatakan,

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى أن يبيع الرجل طعاما حتى يستوفيه . قلت لابن عباس كيف ذاك ؟ . قال ذاك دراهم بدراهم والطعام مرجأ

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli bahan makanan hingga barang tersebut telah diserahterimakan.

Thowus mengatakan kepada Ibnu ‘Abbas, “Kenapa bisa demikian?

Beliau pun mengatakan, “Sebenarnya yang terjadi adalah jual beli dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda.” (HR. Bukhari) [Bukhari: 39-Kitabul Buyu’, 54-Bab Masalah Jual Beli Bahan Makanan dan Barang yang Ditimbun]

Hikmah lainnya adalah karena barang yang diserahterimakan kepada pembeli boleh jadi rusak. Hal ini disebabkan barang tersebut terbakar, rusak terkena air, atau mungkin karena sebab lainnya. Sehingga jika pembeli barang tersebut menjual kembali barang tadi kepada pihak lain, ia tidak dapat menyerahkannya.

Sekali Lagi Tentang Riba dalam Hutang Piutang (Riba Qordh)

Perlu diketahui bahwa yang namanya hutang-piutang adalah salah satu jenis akad yang di dalamnya terdapat unsur menolong dan mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan bantuan. Sehingga akad hutang-piutang semacam ini tidak diperbolehkan sama sekali bagi siapa pun untuk mencari keuntungan. Keuntungan yang diperoleh dari hasil hutang piutang seperti ini disebut riba yakni riba qordh.

Contoh riba qordh: Ahmad berhutang pada Rizki sejumlah Rp.1.000.000,-. Kemudian Ahmad harus mengembalikan hutang tersebut dengan jumlah lebih yaitu Rp.1.200.000,- dalam jangka waktu satu bulan.  Tambahan Rp.200.000,- inilah yang disebut riba.

Para ulama memberi kaedah yang sangat masyhur dalam ilmu fiqih:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا

Setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, maka itu adalah riba.” (Lihat Asy Syarh Al Mumthi’, 8/63)

Perlu diketahui bahwa perbuatan menarik riba adalah perbuatan yang diharamkan dan suatu bentuk kezholiman. Kezholiman meniadakan keadilan yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al Baqarah: 279)

Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa orang yang berhutang itu ridho (rela) jika dikenakan bunga atau riba? Ada dua sanggahan mengenai hal ini:

Pertama, ini sebenarnya masih tetap dikatakan suatu kezholiman karena di dalamnya terdapat pengambilan harta tanpa melalui jalur yang dibenarkan. Jika seseorang yang berhutang telah masuk masa jatuh tempo pelunasan dan belum mampu melunasi hutangnya, maka seharusnya orang yang menghutangi memberikan tenggang waktu lagi tanpa harus ada tambahan karena adanya penundaan. Jika orang yang menghutangi mengambil tambahan tersebut, ini berarti dia mengambil sesuatu tanpa melalui jalur yang dibenarkan. Jika orang yang berhutang tetap ridho menyerahkan tambahan tersebut, maka ridho mereka pada sesuatu yang syari’at ini tidak ridhoi tidak dibenarkan. Jadi, ridho dari orang yang berhutang tidaklah teranggap sama sekali.

Kedua, pada hakikat senyatanya, hal ini bukanlah ridho, namun semi pemaksaan. Orang yang menghutangi (creditor) sebenarnya takut jika  orang yang berhutang tidak ikut dalam mu’amalah riba semacam ini. Ini adalah ridho, namun senyatanya bukan ridho. (Lihat penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di –rahimahullah- dalam Fiqh wa Fatawa Al Buyu’, 10)

Hati-hatilah dengan riba karena orang yang memakan riba (rentenir) dan orang yang memberinya (nasabah), keduanya sama-sama dilaknat.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim) [Muslim: 23-Kitab Al Masaqoh, 19-Bab Laknat pada Orang yang Memakan Riba dan yang Menyerahkannya].

Maksud perkataan “mereka semua itu sama”, Syaikh Shafiyurraahman Al Mubarakfury mengatakan, “Yaitu sama dalam dosa atau sama dalam beramal dengan yang haram. Walaupun mungkin bisa berbeda dosa mereka atau masing-masing dari mereka dari yang lainnya.” (Minnatul Mun’im fi Syarhi Shohihil Muslim, 3/64)

Jadi bukan hanya rentenir saja yang mendapatkan laknat dan dosa, namun orang yang menyerahkan riba (yaitu nasabah) juga terlaknat berdasarkan hadits di atas. Nas-alullaha al ‘afwa wal ‘afiyah.

Perkreditan Melalui Pihak Ketiga

Setelah kita mengetahui dua pembahasan di atas, yakni masalah jual beli barang sebelum dipindahkan dan praktek riba dalam hutang-piutang, maka kita akan meninjau praktek perkreditan mobil, motor ataupun rumah yang saat ini terjadi. Gambarannya adalah sebagai berikut:

Sebuah dealer menjual motor kepada Ahmad dengan cara kredit. Namun, Ahmad harus membayar cicilan kredit tersebut ke bank atau PT. Perkreditan dan bukan dibayar ke dealer, tempat ia membeli barang tersebut.

Kalau kita mau bertanya, kenapa Ahmad harus membayar cicilan tersebut ke bank bukan ke dealer yang menjualkan motor padanya?

Jawabannya:

Bank ternyata telah mengadakan kesepakatan bisnis dengan dealer tersebut yang intinya: Bila ada pembeli yang membeli dengan cara kredit, maka pihak banklah yang akan membayar secara cash kepada dealer. Sedangkan pembeli diharuskan membayarkan cicilan kepada bank tadi. Dealer mendapatkan keuntungan karena dia mendapatkan uang cash langsung. Sedangkan bank mendapatkan keuntungan karena dia menjual barang tersebut dengan harga lebih tinggi, namun dengan cara kredit. Seandainya pembeli itu ngotot untuk membayar kepada dealer, maka pihak dealer akan berkeberatan. Pihak dealer menganggap urusannya dengan pembeli telah selesai, sekarang tinggal urusan pembeli dengan bank.

Jika kita melihat, kejadian di atas memiliki dua penafsiran. Masing-masing penafsiran akan jelas menunjukkan kesalahan, yaitu terjatuh dalam riba atau dalam jual beli barang yang belum dipindahkan (diserahterimakan).

Penafsiran pertama:

Misalnya kita anggap kalau harga motor adalah Rp. 15.000.000,- secara cash. Sedangkan secara kredit adalah Rp. 18.000.000,-. Jadi, kemungkinan yang terjadi, bank telah menghutangi pembeli motor sejumlah Rp.15.000.000,- dan dalam waktu yang sama bank langsung membayarkannya ke dealer, tempat pembelian motor. Kemudian bank akhirnya menuntut pembeli ini untuk membayar piutang tersebut sejumlah Rp.18.000.000,-.. Bagaimana dengan akad semacam ini?

Ini adalah akad riba karena bank menghutangi Rp.15.000.000,-, kemudian minta untuk dikembalikan lebih banyak sejumlah Rp.18.000.000,-. Ini jelas-jelas adalah riba. Hukumnya sebagaimana disebutkan dalam hadits yang telah lewat, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim)

Penafsiran kedua:

Bank telah membeli motor tersebut dari dealer dan menjualnya kembali kepada pembeli. Jika memang penafsirannya seperti ini, maka ini berarti bank telah menjual motor yang ia beli sebelum ia pindahkan dari tempat penjual (dealer) dan ini berarti bank telah menjual barang yang belum sah ia miliki atau belum ia terima. Di antara bukti hal ini adalah surat menyurat motor semuanya ditulis dengan nama pembeli dan bukan atas nama bank. Penafsiran kedua ini sama dengan penafsiran Ibnu ‘Abbas yang pernah kami sebutkan,

ذاك دراهم بدراهم والطعام مرجأ

Sebenarnya yang terjadi adalah jual beli dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda.” (HR. Bukhari)

Jadi, yang terjadi adalah jual beli rupiah dengan rupiah, sedangkan motornya ditunda. Dengan demikian penjualan dengan cara seperti ini tidak sah karena termasuk menjual barang yang belum selesai diserahterimakan.

Kesimpulan: Perkreditan dengan cara ini adalah salah satu bentuk akad jual beli yang haram, baik dengan penafsiran pertama atau pun kedua tadi. Wallahu a’lam.

Alangkah baiknya jika kita sebagai seorang muslim tidak melakukan praktek jual-beli semacam ini. Lebih baik kita membeli barang secara cash atau meminjam uang dari orang lain (yang lebih amanah, tanpa ada unsur riba) dan kita berusaha mengembalikan tepat waktu. Itu mungkin jalan keluar terbaik.

Saudaraku, cukup nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut sebagai wejangan bagi kita semua.

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih)

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pengusaha muslim sekalian. Semoga Allah selalu memberikan kita ketakwaan dan memberi kita taufik untuk menjauhkan diri dari yang haram.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

****

18 Rabi’ul Awwal 1430 H

Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Allah

Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com

just a poem……

Kelompok kita kawan….

Menjadi saksi indah salah satu episode kehidupan

Yang terangkai dalam kata-kata hikmah

Mengisi tiap kekosongan jiwa

Menjernihkan hati

Menyejukkan jiwa

Sepenggal kisah dalam perjalanan hidupku bersamamu

Saat kita dipertemukan…

Saat hati tertautkan…..

Saat tak ada lagi yang bisa tersampaikan selain indahnya cinta

Dalam tawa canda yang mewarnai pertemuan2 kita

Membubuhkan goresan yang tak lekang dihapus masa

Sahabat……..

Saat ikrar itu terukir dalam hati, terpatri dalam janji

Maka saat itulah kau menjadi salah satu simfoni dalam bait-bait sajak hidupku

Maka ketika Allah merangkai skenario kita

Pada akhirnya nanti…………….

Saat untaian kalimat perpisahan akan terdengar

Tak mau ditemui namun tak bisa dipungkiri

Biarkanlah jarak hanya akan menghalangi pandanganku akan sosokmu

Tapi jemari ini akan selalu menggenggammu dalam hatiku

ketika kau menjejakkan langkah terakhirmu bersamaku

Ijinkan aku kembali mengucapkan bait cinta ini

Dalam separuh malamku mengenangmu…..

semoga Allah memengijinkan pertemuan kita di Surga

di atas mimbar cahaya

dimana kesyukuran mengenalmu menjadi tangga menuju kesana

karena hanya dengan cinta-Nya

ana uhibbuki fillah ………….

Rahasia cinta…..

Dia…..

Sebuah chemistry

Yang tak pernah terduga

Mungkin datang dalam santun kata

Mungkin hadir dalam gelak tawa

Atau hanya dalam maya

Mengingat satu kata

Biarlah chemistry itu datang ketika hati telah siap menerima

Ketika hati tak perlu disadarkan itulah cinta

Ketika muara hati telah terisi sejuta makna yang tanpa penjelasan-pun kau tahu artinya apa


Diatas segalanya-lah, penghambaan manusia kepada Allah sebagai Sang Pencipta harus diletakkan, tak ada ragu, tak ada alasan untuk mengatakan tidak bisa apalagi tidak akan…………

Allah sudah berfirman bahwa dunia hanyalah tempat bermain saja, tempat ujian bagi manusia untuk menentukan jurusan yang akan dia tempuh : Surga atau Neraka….

Yang pasti tiap-tiap jiwa yang berikrar bahwa Tiada Tuhan Selain Allah, maka Allah ingin tahu kesungguhannya…lewat ujian-ujian, dan ujian itu bukan ujian biasa, sesungguhnya Allah akan menguji hamba-hambaNya pada titik terlemahnya…tepat pada titik dimana dia akan merasa sedih sesedih sedihnya, dadanya sesak dsb.

Namun berbahagialah pada orang-orang yang beriman, yang menyerahkan segala sesuatu hanya pada perlindunganNya, yakin bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Allah dan Allah tidak akan menguji hambaNya di luar batas kemampuannya sebagai manusia

Di tengah ujian pasti akan ada keputus asaan, kehilangan harapan, dan kehilangan semangat, maka disanalah manusia benar-benar akan dilihat seberapa besar penghambaannya pada Tuhannya, Allah sudah berjanji, bahwa Dia ada, ketika manusia berdo’a, Dia ada ketika manusia memint hanya kepadaNya.

Husnudzon selalu pada Allah dan Allah aan memerikan pertolongan melalui jalan yang tak disangka-sangka.

Lewat lebaran beberapa hari, saat kesedihan bagai tak berujung, seorang teman berkisah beliau ada masalah dengan ibunya, ada yang tak bisa dilakukan sebagai seorang anak untuk meletakkan hormat sebegitu tingginya, ada yang mengganjal saat ibu yang dia harapkan lebih bijak ternyata malah menyakiti hati anaknya, dan usaha untuk meletakkn kehormatan yang Rasul bilang hormatilah ibumu 3 x baru ayahmu sangat sulit…bahkan teramat sulit terhalangi sakit yang tak terbantahkan menyesak dada.

Ibu , bagaimanapun sosok yang wajib diletakan kehormatan setinggi-tingginya, namun bagaimna kalau masalah itu sebenarnya bermula dari sang ibu, bagaimana seorang anak bisa tetap menghormati walaupun kadang sulit, sesulit Mus’ab bin Umair yang bahkan tak bisa meluluhkan hati ibunya untuk Islam……

Sungguh ujian yang sangat berat, membuat hati gerimis dan dada sesak, tapi Allah tak pernah tidur, Dia Maha Mendengar Do’a, dan bantuanNya datang langsung pada saat itu juga, ketika kami berkunjung ke sesepuh pondo pesntren, kami mendapatkan wejangan dan tausdiyah yang Subhanallah sangat pas dengan masalah yang menimpa teman kami tersebut, bagaimana kami bersikap kepada orang tua terlebih ibu saat kami dihadapkan pada masalah yang tidak sepaham dengan ibu, sungguh…jawaban yang menyejukkan jiwa, tepat pada waktunya…tak disangka..

Maka keraguan apa yang bisa membuat kita terhalang untuk tetap husnudzon pda Allah………………

Salah satu epispde profesi

Di tengah para lansia

Di Panti Sosial Tresna Werdha Pandaan

Pertama kali datang ke tempat ini..

Melewati gerbang sebuah perumahan mewah

Tapi bukan berarti disini tempatnya

Hanya saja lokasinya ada lebih dulu daripada rencana pembangunan perumaahan ini

Akhirnya jadilah ia panti jompo dalam lingkungan rumah elite…

Masuk gerbang pertama……..

Adem

Seger

Dan sepertinya menyenangkan (walau berakhir dengan usaha keras membersihkan asrama masing-masing)

Banyak pohon…banyak taman….banyak ladang dan kolam ikan

Dan yang pasti…..banyak kakek dan nenek disini (bisa hunting kakek dan nenek deh pokoknya

Itulah panti jompo yang akan menjadi a part of this story

@ Pandaan (31 Maret 2008)

Meninggalkan R 23 yang penuh kesan..

tiba di markaz baru yang siap dihebohkan oleh keanehan polah kami (suerr…kyaknya udah berasa hawa kejailan dan kenakalan beredar disini…)

Di wisma kemuning, salah satu dari 10 wisma yang ada disini…penghuninya 11 orang yang terdiri dari 5 nenek dan 6 kakek (mbah Darmadi yang cool & berwibawa, mbah sukarto yang over confidence dan didiagnosa HDTTP ***harga diri terlalu tinggi puooool, tapi keren he2***, mbah darmo yang calm, mbah rasiman yang smilling face, mbah Bandi…mbahq yang bauaek hati dan tidak sombong *** aq selalu berdoa smoga mbah dapat pulang ke rumah dengan membawa banyak uang***, mbah Sabar yang selalu menyimpan bahan makanan untuk musim paceklik, mbah sukiyem yang cantiq dan putih, mbah Endang yang shaleh, mbah Irah yang tersayang, mbah Nuriyah yang ……… serta mbah Sumi yang bijaksana —we love u all)

Maka kami cukup terkesan dengan penerimaan yang bik dri mereka yang sudah hafal kalau kami adalah mahasiswa pencari ilmu yang akan menggunakan salah satu potensi yang ada disini untuk objek belajar, maka lucunya…mereka sudah siap diwawancrai tentang riwayat hidup , begitulah…..akhirnya satu demi satu cerita hidup terangkai dalam kisah yang gado-gado…………..Manis, asam, asin,rame rasanya………tapi berakhir pada kepahitan….(wahai….para manusia yng menyandang status anak dari kedua orang tuanya masing-masing, dan para manusia yang yakin dirinya akan menjadi lansia nantinya…camkan bahwa bagaimanapun mewahnya sebuah panti jompo, tetap saja TIDAK MENYENANGAN !!!)

Maka didapatkan bahwa

  1. seseorang yang berada di panti jompo adalah orang yang ditelantarkan anaknya (ada yang dulu diantar sang anak kesini, 2-3 bulan berikutnya masih rutin mengunjungi hingga akhirnya hingga 2 tahun ini tiada kabr berita )karena telah tua dan penyakitan, atau tidak ada an yang mampu merawat karena alasan jauh dan banyak kerjaan (Apa kata dunia…)
  2. seseorang yang berada di panti jompo adalah orang yang tidak punya siapa-siapa (istri atau suami mneninggal sedangkan beliau tidak mempunyai anak)
  3. seseorang yang berada di panti jompo adalah seseorang yang direkomendasikan tinggal karena terlantar, berada di jalan-jalan atau tiada sanak keluarga yang dikenal di lingkungan masyarakat normal sedangkan ia dalam keadaan renta yang saki-sakitan dan butuh sekali pertolongan dalam ADLnya (activity daily living…alias aktivitas makan, minum, mandi, tidur dll)
  4. seseorang yang berada di panti jompo adalah orang yang ditangkap polisi di kota besar dalam rentang usia 55-70 tahun, yang ketika ditanya kemana jawabnya adalah untuk mencari kerja dengan pengalaman kerja bertani (????!!!) dan ketika ditanya KTP nya mana maka jawabnya adalah tidak punya (arrrgggghhhhhhh……..so…….panti werda pilihan yang tepat)
  5. seseorang yang berada di panti jompo adalah orang yang telah mengabdikan hidupnya sejak dari kecil sebagai PRT  dan diwariskan hingga beberapa turunan, hingga akhirnya renta dan tidak mampu lagi mengabdi  (keterbatasan tenaga dan akal sehat karena demensia), maka di panti inilah tempatnya kemudian
  6. seseorang yang berada di panti jompo adalah seseorang yang terlantar di kota asing sedangkan dia adalah korban penipuan yang sadis (uang puluhan jutanya raib dibawa penipu, sedangkan dia sudah tidk punya apa-apa dan siapa2 lagi…..akhirnya disinilah dia berada)
  7. seseorang yang berada di panti jompo adalah para lansia warisan penjajahan yang turut berjuang namun tak mendapat penghargaan dan terlupakan dari kisah perjuangan panjang sejarah kemerdekaan (untuk kalimat ini….boros kata y )
  8. seseorang yang berada di panti jompo adalah orang tua yang sudah bertekd untu hidup di panti jompo karena tak ingin merepotkan anaknya ketika usianya telah tua dan akal serta sikapnya menjadi seperti anak kecil lagi (4 this reason………..aku menjadi kerdil….)

the last…..apapun yang terjadi disini ini adalah dunia mereka kini, dan seruwet apapun yang mereka hadapi…………………apalah daya maka akhirnya diterima juga (so sad ….)

sick……sick……hospital

Di lorong yang ramai

Banyak yang dapat kita temui di lorong ini…ada wajah dokter yang terburu-buru dengan status paasien ditangan, ada co ass dan mahasiswa perawat yang hilir mudik membawa laporan (macam-amacam pula wajahnya, ada yang senang, ada yang susah bahkan ada juga yang tanpa ekspresi), ada tukang sampah dan petugas kebersihan yang mendorong gerobaknya berkeliling ruangan (membawa sampah medis dan non medis…di luar negeri masih ada gak ya kayak gini…), ibu2 yang membawa cucian hilir mudik, pasien yang tergolek lemah diatas brankart yang didorong petugas (macam-macam juga wajahnya…ada yang terbalut sebagian, ada meringis kesakitan, ada yang tidak sadar tapi yang pasti mereka telah mendapat peran baru di RS ini, sebagai orang sakit dengan gelar “pasien”), maka yang paling banyak ditemui selain petugas kesehatan yang banyak macamnya (bayangkan dalam satu rumh sakit pendidikan ini berukmpul berbagai macam tenaga kesehatan dengan peran yang berbeda, dokter dengan berbagai macam spesialisasi tugas belum lagi yang sudah jdi dokter, PPDS, co-ass ataupun clerk, perawat juga begitu, dari yang perawat beneran (pegawai RS maksudnya) sampai perawat belajar (kami yang S1 dan dari D3 dari berbagai macam daerah asal). Jumlahnya ratusan hilir mudik di lorong ini, kemudian petugas administrasi yang jumlahnya juga tak alah banyak, serta tenaga kebersihan yang terspesialisasi juga dalam berbagai jurusan he2 …mulai dari clening lantai, cleaning baju, cleaning alat-alat medis dan cleaning-cleaning lainnya, satpam yang hilir mudik mengamankan lingungan juga ada…pokoknya Rumah Sakit ini suangat ramai dengn berbgai macam orang setiap harinya, kalau bisa dibilang GAK ADA MATINYA LAH he2)

Di setiap pagi aku menemukan seluruh keluarga duduk di tikar lantai Rumah Sakit, entah sudah berapa lama mereka disana, sudah berapa malam mereka tidur disana atau sudah berapa kali mereka diusir dari sana oleh petugas ketertiban karena memang gak boleh tidur disana…tapi bagaimana lagi, dalam budaya rakyt Indonesia, kekeluargaannya sangat kental, ketika salah satu anggota keluarga sakit, maka tidak afdhol rasanya kalau ada yang tidak ikut serta menunggui, walhasil karena ruangan hanya diperuntukkan untuk pasien maka keluarga yang lain duduk, tidur, berdiri dan berjejer di lorong rumah sakit dan bisa dipstikan bahwa biaya tinggal di RS sangat mahal……bagaimana tidak, walaupun sebenarnya si sakit dibebaskan dari biaya pengobatan dan kamar dengan adanya GAKIN, tetep saja mereka harus membayar mahal, bukan untuk biaya si sakit, tapi yang banyak mengurangi pendanaan adalah biaya hidup keluarga yang menunggui yang segitu banyaknya….tragis memang, tempt dimana banyak orang kesushan, malah harga2 baraang dan makanan disna 2 kali lipat tingginya dibandingkan di luar,

maka saudara-saudara …… sepertinya do’a untuk si sakit lebih penting daripada harus beramai-ramai menjenguk, ntar malah bikin rame dan bikin pusing pasien yang lain he2…..

cerita dilorong…yang saat pulang akhir malam dari jaga sore ternyata serem juga.

DI SUDUT RUANG 23

Wajahnya membuat aku agak tidak percaya apakah benar tempatnya disini…kulitnya putih dan sikapnya anteng dalam posisi tidurnya saat ini, trus satu tanda Tanya dalam hatiku..kenapa dia sampai direstrain(diikat untuk pengamanan) segala? Apakah dia berontak atau berperilaku amuk hingga tali-tali itu dengan kuat mengikat kaki dan tangannya? Saat kutanya pada salah seorang perawat disana…katanya dia barusan mengamuk sehingga terpaksa direstrain seperti itu…

Wahai…..apa yang membuat dia mengamuk? Sungguh dari seluruh yang aku lihat dia tidak nampak seperti pasien sakit jiwa yang lain, wajahnya kekanak-kanakan, walau usianya telah mencapai 33 tahun, Ciri khas orang dengan retardasi mental. Hanya senyum yang sulit terlukiskan maknanya yang menyambut sapaan-q saat aku memperkenalkan diri dan membantunya minum obat.

Ibunya adalah penjual keliling dan ayahnya adalah buruh bangunan semasa mudanya, dan sekarang…ketika badan sudah membungkuk dan usia yang renta  memaksa beliau untuk beralih profesi menjadi pemulung sampah agar nasi selalu terhidang dan anak semata wayangnya tersebut mendapat pengobatan semestinya.

S…. namanya, orang tuanya juga tak tahu sebab kenapa dia selalu mengamuk beberapa hari terkhir ini,memecahkan barang, gelisah tidak mau tidur dan perilaku aneh lainnya, karena khawtir akan melukai orang lain dan dirinya sendiri, maka memaksa kedua orang tuanya untuk membawa S ke RS.

Dengan riwayat retardasi mental, dan hambatan dalam berkomunikasi maka menjadikan dia sangat terbatas dalam bergaul disini…tak ada teman (biasanya para pasien mempunyai satu temen mhasiswa yang intens memantau perkembanganya atau mereka kadang punya pasangan yang klop untuk diajak main bersama)…hanya petugas kesehatan yang kadang silih barganti menemui dan memberi perhatian, serta ayah dan ibunya yang setia menungguinya bergantian siang dan malam.

Maka hari ini setelah 2 hari pertemuan pertamaku dengan dia, pagi tadi dia sudah mau diajak senam pagi dengan teman-temannya yang lain, mengikuti gerakan-gerakan dengan aneh (dia tidak bisa menirukaan gerakan senam dengan pas) dan selalu tersenyum bila ada yang mengajak bicara, mengajak bermain, bertanya dan memberinya obat, yah hanya senyum……pun saat dia duduk sendiri di depan kamarnya…tak ada yang menemani, sambil memandang orang-orang berseliweran….dia selalu tersenyum…tanpa kata…tanpa sapa, senyum…yah senyum dalam kesunyian, senyum dalam kegembiraan dan senyum dalam kepedihan…maka baginya adalah sama saja.

Maka ketika hikmah berada di depanmu, ada kesadaran dalam diri yang terbangun, bahwa kau begitu sempurna….walau kadang harus irit dengan makan satu kali sehari (apalagi kalau tanggal sudah makin membungkuk karena tua)….walau harus berjalan kaki pulang pergi kuliah…walau kadang hanya puas dengan nilai B untuk mata kuliah wajib…..kita harus bersyukur…karena Allah memberi kita ujian kenikmatan, kadang kita lupa bahwa kita masih dapat menjumlah 2+2=4, kita masih dapat marah bila ada yang mengesalkan kita, kita masih dapat tersenyum saat kita bahagia dan kita masih punya Allah yang selalu menjaga agar detak jantung kita tetap teratur, aliran darah ini tetap harmoni, maaka nikmat yang bagaimana lagi yang kau dustakan?

Senyum pertanda bahagia…marah pertanda kesal dan tertawa pertanda hati yang berbunga…itulah tanda bukti cinta Allah yang masih memberi kesinergisan dalam gerak hidup kita….maka bayangkan…apabila kita dilahirkan  seperti  S  yang bahkan tak tahu bagaimana memanggil ibu pada orang yang setia menyuapinya, dan mengucapkn ayah pada orang yang selalu menemaninya dalam sunyi..dalam gelap…bahkan saat ia tak tahu apa arti sendiri………

Jadi ibu nomor satu :D

Precet…..akhir bulan februari

Mengulas tentang pendidikan dalam impian

Precet….hampir separuh penduduknya adalah masyarkat dalam rentang usia 18-45 tahun, usia yang produktif untuk bekerja dan berkarya…..tapi sayang sekali hanyalah 1/5 saja yang tingkat pendidikannnya lanjutan SD, Lainnya yah hanya tamatan SD,  Hal ini sangatlah memprihatinkan……karena kondisi  itu menular pada anak-anak mereka (seperti penyakit keturunan)…dari perbincangan dengan beberapa adik kecil yang masih SD dan SMP….saat ditanya kelak akan melanjutkan kemana, meereka menjwab “nggak mbak, mau kerja aja, Bantu orang tua” dan saat ditanya apakah alasan itu karena ketiadaan biaya maka jawab mereka “bukan mbak,…saya sudah malas mikir” mengejutkan !!!! what!!! malas mikir ???? amboi…apakah yang dibayangkan  anak-anak itu? Atau apa yang diajarkan pada mereka hingga mereka merasa udah cukup dengan bekal pendidikan SD atau SMP dan hanya karena malas mikir mereka tidak ada motivasi untuk lebih maju,

Kebanyakan ukuran kesuksesan dilihat bukan pada seberapa tinggi tingkat pendidikan mereka, tapi seberapa banyak-kah yang bisa mereka hasilkan ketika mereka sudah bekerja, dan bekerja tidak berhubungan sama sekali dengan tingkat pendidikan karena mereka melihat fakta walaupun sarjana juga banyak yang pengangguran ( jadi miris ngeliat masa depan kami nantinya hiks……)

Liat saja  fakta berikut : pada suatu waktu kami  berbincang dengan salah seorang ibu muda, bagaimana ia nanti merencanakan masa depan anak balitanya yang kini berumur 4 tahun, maka ibu pun mengutarakan bahwa adik kecil ini diharapkan menjadi anak yang dapat memuliakan hidup kedua orang tuanya, menjadi anak sholeh dan kaya he2…..

Yup….untuk itulah anak anda harus pintar ibu, maka sekolahkanlah ia sampi jenjang tertinggi, itulah yang saya utarakan dengan nada berapi-api pada ibu muda itu( berasa orasi ha..ha…)

“Buat apa mbak sekolah tinggi2 kalau nganggur, buktinya banyak sarjana yang kemudian gak kerja, tapi disini lulus SD saja udah bisa kerja daan punya rumah kok……Jedheng!!!!!!! Jawaban si ibu langsung menyadarkan saya dari impian yang diam-diam juga saya rancang untuk si kecil.

Wah…..sudut pandang seperti ini yang saya jumpai di dusun ini……anak-anak dusun dibesarkan di lingkungan dimana bekerja adalah orientasi hidup yang utama, bekerja menghasilkan uang untuk membangun rumah bagus adalah gambaran kesuksesan…sementara pendidikan ditempatkan di nomor sekian.

Teringat perbincangan santai di gubuk desa dengan seorang teman…bahwa para kaum muda sudah dibiasakan dengan mindstream bahwa kita sekolah untuk bekerja, akibatnya para sarjana yang baru keluar dari PT akan berbaris dengan map ditangan mengantri di sebuah pintu perusahaan yang membuka lowongan…..dan begitu seterusnya…dan seterusnya, maka ketika para kaum muda lain melihat bahwa yang pintar dengan gelar kesarjanaan di tangan tidak bisa bekerja sedangkan yang lain bisa sukses hanya dengan ijasah SD….maka sampailah pada kesimpulan bahwa apa gunanya gelar kalau susahnya mencari pekerjaan sama saja…bahkan dengan ijasah SD pun kalau beruntung bisa dapat kerja…..mereka melupakan keruja keras, kemampuan dan skill mumpuni.

Maka bila diibaratkan sebuah cerita tentang gelar dan pekerjaan, bias kita gambarkan seperti berikut : efris say : apabila ada dua orang, yang dalam hal profesi  mereka sama-sama petani dengan kebun yang luas ditanami sayuran, petani A lulusan SD sedangkan Petani B adalah seorang insinyur pertanian, maka petani A menanam apa yang diajarkan oleh nenek moyangnya dengan berbekal cangkul, menggemburkan tanah dan menanam dengan cara yang biasa dan hasil yang biasa tergantung…tergantung cuaca…tergantung ada tidaknya hama dan tergantung harga di pasar…hingga keuntungaan kadang tak bisa diperhitungkan

Sedangkan sang insinyur petani, dia mulai dengan perencanaan yang matang, mengolah dengan traktor dan teknologi yang terbaru, berselang-seling tanamannya dengan memperhitungkan kebutuhan pasar, memagari tanaman dari hama yang menyerang, serta lihai dalam bermain dengan harga pasar..karena ia tahu maka para tengkulak tidak ada yang berani mempermainkan harga.

Maka apa yang membedakan dari kedua orang itu?

Tidak penting pekerjaan apa yang mereka lakukan..yang penting adalah bagaimana memanfaatkan sebuah ilmu untuk menjadikan sebuah pekerjaan bisa lebih optimal, baik proses ataupun hasilnya. Maka kalau bisa berandai-andai petani Indonesia semuanya adalah insinyur, maka apakah Indonesia nanti akan tetap mengimpor beras dari negara tetangga?

Dan masih ada cerita lainnya…continued @ the sesion lain…

Lanjutan tentang makna pendidikan sebenarnya…………

Baik….itu tadi satu gambaran umum….sekarang tentang wanita…yang menduduki angka tertinggi dalam jumlahnya di muka bumi (heran……udah tahu wanita lebih bnyak dari laki-laki, eh bukannya berusaaha agar jumlahnya bisa seimbang, malah ada beberapa oknum yang mengubah identitasnya untuk semakin meenambahi jumlah yang ada), banyak anggapan bahwa wanita, dengan keduduannya yang utama dalam rumah tangga tidak butuh pendidikan tinggi untuk menjalani perannya atau anggapan lain bahwa buat apa sekolah tinggi kalau nanti akhirnya tidak bekerja malah menjadi ibu rumah tangga.

Maka layaklah ini menjadi pertimbangan……my friend said that — ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya, maka gak masalah walau seorang wanita sarjana hanya menjadi ratu dalam rumahnya karena itu tidaklah sia-sia, bandingkan saja seorang anak yang besar dalam didikan ibu dengan titel sarjana denga anak dari seorang ibu yang biasa saja—- maka ilmunya lebih berguna untuk ditanamkan pada anak-anaknya, anak-anak yang cerdas lebih berharga daripada jumlah uang yang didapat sekiranya mereka bekerja, bayangkan bahwa anak-anak cerdas itu dapat menjadi tulang punggung kemajuan bangsa, negara dan agama…..maka wahai wanita yang mulia, raihlah ilmu setinggi mungkin untuk mencetak generasi Rabbani yang memiliki akhlak mulia,hanif, sholeh, cerdas dan baik budi pekertinya.

Maka ketika kemajuan teknologi makin membabi buta, dan anak yang lugu itu bertanya pada uminya tentang bagaimana mengoperasikan komputer, maka ibu yang pintar dapat mengajarinya, tatkala sang jundi bertanya tentang seni sastra yang berbudi maka sang ibu bisa menjelaskannya, pun saat sang jundi bertanya teentang siapa Tuhan dan nabi mereka maka sang ibu dapat dengan arif bercerita tentang keesaan Allah, keteladanan Rasul dan para sahabat dalam memimpin dunia, atau sang jundi bertanya tentang isi dunia, maka sang bunda juga bisa menjadi discovery channel yang handal, atau ketika sang jundi dengan wajah lucunya minta dibuatkan spagetti atau opor ayam, maka sang ibu dapat dengan sigap menghidangkan di meja makan he2….itulah ibu luar biasa !!!! (Jadi ngaco……temanya kan pendidikan kenapa jadi …???? )

Maka pendidikan tidak hanya gelar kesarjanaan atau bermacam-macam titel dibelakang nama, tapi pendidikan=proses pembelajaranilmu yang bermanfaat

Jadi sekolah tinggi ??? Siapa Takut !!!!!

Februari awal….2008

Ketika terperangkap di sebuah dusun dalam rangka pengabdian masyarakat saat profesi…….

Dusun ini sangat terpencil (tidak ada angkot, jalan masih berbatu dan berlubang gak jelas, gak ada sekolah, gak ada supermarket, gak ada mall ????$$$$@@@!!! He..he…),

Untuk kesana kami harus melewati jalan desa yang penuh dengan lubang (ngojek…), sawah di kanan kiri jalan kira-kira 2 kilometer hingga sampai di dusun paling ujung dari kecamatan Dau Malang, yang juga merupakan batas antara daerah Dau dan Batu. Yup….jalannya juga  sepi karena tidak ada rumah penduduk…sawah yang terbentang di sekitar jalan sekitar 2 km inilah yang memisahkan dusun satu dengan yang lain.

Sekolah ? jangan harap kita mendapati SD di dusun atas ini…para mujahid kecil  itu tiap hari berangkat jam 06.00 pagi dengan berjalan kaki agar sampai di sekolah tepat waktu(2 km lo…kayaknya lebih malah ), begitupun pulangnya…(wuih…kebayang gak sich kalau ujan deres, panas dan dan capeknya  ) so..teman-temnq…dan juga aku sendiri yang kadang mupeng dengan sliweran sepeda motor atau mobil, janganlah lagi kau memandang silau ke atas dengan segala kemewahan diniawi…namun tengoklah kebawah dengan kesederhanaan indah dan semangat membaja ini (bayangkan…2 km ditempuh dengan jalan kaki pulang dan pergi sekolah dan mereka tetap enjoy, dibuktikan dengan tidak adanya angka putus sekolah SD dengan alasan capek jalan kaki  )

Maka mereka adalah cermin betapa kesederhanaan dan kemauan yang keras tak akan mampu meluruhkan tekad menjadi orang pintar, maka bagi yang mendapat keberuntungaan merasakan bangku kuliah, jangan pernah menyerah…walau TA gak selesaai2…walau ujian khusus susul menyusul dan walau antum udah capek…percayalah bahwa SEMANGAT-LAH YANG TELAH MEMBAWA ANTUM SAMPAI DI TEMPAT INI, jadi never give up!

Maka hari dimana kalau antum berkesempatan melihat anak-anak ini, pastilah akan menjadi hari dimana anda akan bersyuur puluhan kali, alaupun tidak berkesenpatan maka just imagine…or antum dapat juga ngeliat anak-anak di perempatan lampu merah yang masih punya semangat untuk tetap melanjutkan sekolah, secara nasib…mereka tidaklah jauh berbeda……………..

andai bahagia bisa diraba bukan hanya dengan rasa

aku akan mencarinya walau ke ujung dunia

dan karena bahagian hanya rasa

maka tersenyumlah

karena rasa itu bisa diupayakan

bukan hanya diminta……………….

buat mereka yang merasakan bahagia

simpanlah dalam hatimu

dan bagilah dengan senyummu………

@ all my friend –> bersamamu, menciptakan senyum diwajahku

Older Posts »