Jadi ibu nomor satu :D

Precet…..akhir bulan februari

Mengulas tentang pendidikan dalam impian

Precet….hampir separuh penduduknya adalah masyarkat dalam rentang usia 18-45 tahun, usia yang produktif untuk bekerja dan berkarya…..tapi sayang sekali hanyalah 1/5 saja yang tingkat pendidikannnya lanjutan SD, Lainnya yah hanya tamatan SD,  Hal ini sangatlah memprihatinkan……karena kondisi  itu menular pada anak-anak mereka (seperti penyakit keturunan)…dari perbincangan dengan beberapa adik kecil yang masih SD dan SMP….saat ditanya kelak akan melanjutkan kemana, meereka menjwab “nggak mbak, mau kerja aja, Bantu orang tua” dan saat ditanya apakah alasan itu karena ketiadaan biaya maka jawab mereka “bukan mbak,…saya sudah malas mikir” mengejutkan !!!! what!!! malas mikir ???? amboi…apakah yang dibayangkan  anak-anak itu? Atau apa yang diajarkan pada mereka hingga mereka merasa udah cukup dengan bekal pendidikan SD atau SMP dan hanya karena malas mikir mereka tidak ada motivasi untuk lebih maju,

Kebanyakan ukuran kesuksesan dilihat bukan pada seberapa tinggi tingkat pendidikan mereka, tapi seberapa banyak-kah yang bisa mereka hasilkan ketika mereka sudah bekerja, dan bekerja tidak berhubungan sama sekali dengan tingkat pendidikan karena mereka melihat fakta walaupun sarjana juga banyak yang pengangguran ( jadi miris ngeliat masa depan kami nantinya hiks……)

Liat saja  fakta berikut : pada suatu waktu kami  berbincang dengan salah seorang ibu muda, bagaimana ia nanti merencanakan masa depan anak balitanya yang kini berumur 4 tahun, maka ibu pun mengutarakan bahwa adik kecil ini diharapkan menjadi anak yang dapat memuliakan hidup kedua orang tuanya, menjadi anak sholeh dan kaya he2…..

Yup….untuk itulah anak anda harus pintar ibu, maka sekolahkanlah ia sampi jenjang tertinggi, itulah yang saya utarakan dengan nada berapi-api pada ibu muda itu( berasa orasi ha..ha…)

“Buat apa mbak sekolah tinggi2 kalau nganggur, buktinya banyak sarjana yang kemudian gak kerja, tapi disini lulus SD saja udah bisa kerja daan punya rumah kok……Jedheng!!!!!!! Jawaban si ibu langsung menyadarkan saya dari impian yang diam-diam juga saya rancang untuk si kecil.

Wah…..sudut pandang seperti ini yang saya jumpai di dusun ini……anak-anak dusun dibesarkan di lingkungan dimana bekerja adalah orientasi hidup yang utama, bekerja menghasilkan uang untuk membangun rumah bagus adalah gambaran kesuksesan…sementara pendidikan ditempatkan di nomor sekian.

Teringat perbincangan santai di gubuk desa dengan seorang teman…bahwa para kaum muda sudah dibiasakan dengan mindstream bahwa kita sekolah untuk bekerja, akibatnya para sarjana yang baru keluar dari PT akan berbaris dengan map ditangan mengantri di sebuah pintu perusahaan yang membuka lowongan…..dan begitu seterusnya…dan seterusnya, maka ketika para kaum muda lain melihat bahwa yang pintar dengan gelar kesarjanaan di tangan tidak bisa bekerja sedangkan yang lain bisa sukses hanya dengan ijasah SD….maka sampailah pada kesimpulan bahwa apa gunanya gelar kalau susahnya mencari pekerjaan sama saja…bahkan dengan ijasah SD pun kalau beruntung bisa dapat kerja…..mereka melupakan keruja keras, kemampuan dan skill mumpuni.

Maka bila diibaratkan sebuah cerita tentang gelar dan pekerjaan, bias kita gambarkan seperti berikut : efris say : apabila ada dua orang, yang dalam hal profesi  mereka sama-sama petani dengan kebun yang luas ditanami sayuran, petani A lulusan SD sedangkan Petani B adalah seorang insinyur pertanian, maka petani A menanam apa yang diajarkan oleh nenek moyangnya dengan berbekal cangkul, menggemburkan tanah dan menanam dengan cara yang biasa dan hasil yang biasa tergantung…tergantung cuaca…tergantung ada tidaknya hama dan tergantung harga di pasar…hingga keuntungaan kadang tak bisa diperhitungkan

Sedangkan sang insinyur petani, dia mulai dengan perencanaan yang matang, mengolah dengan traktor dan teknologi yang terbaru, berselang-seling tanamannya dengan memperhitungkan kebutuhan pasar, memagari tanaman dari hama yang menyerang, serta lihai dalam bermain dengan harga pasar..karena ia tahu maka para tengkulak tidak ada yang berani mempermainkan harga.

Maka apa yang membedakan dari kedua orang itu?

Tidak penting pekerjaan apa yang mereka lakukan..yang penting adalah bagaimana memanfaatkan sebuah ilmu untuk menjadikan sebuah pekerjaan bisa lebih optimal, baik proses ataupun hasilnya. Maka kalau bisa berandai-andai petani Indonesia semuanya adalah insinyur, maka apakah Indonesia nanti akan tetap mengimpor beras dari negara tetangga?

Dan masih ada cerita lainnya…continued @ the sesion lain…

Lanjutan tentang makna pendidikan sebenarnya…………

Baik….itu tadi satu gambaran umum….sekarang tentang wanita…yang menduduki angka tertinggi dalam jumlahnya di muka bumi (heran……udah tahu wanita lebih bnyak dari laki-laki, eh bukannya berusaaha agar jumlahnya bisa seimbang, malah ada beberapa oknum yang mengubah identitasnya untuk semakin meenambahi jumlah yang ada), banyak anggapan bahwa wanita, dengan keduduannya yang utama dalam rumah tangga tidak butuh pendidikan tinggi untuk menjalani perannya atau anggapan lain bahwa buat apa sekolah tinggi kalau nanti akhirnya tidak bekerja malah menjadi ibu rumah tangga.

Maka layaklah ini menjadi pertimbangan……my friend said that — ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya, maka gak masalah walau seorang wanita sarjana hanya menjadi ratu dalam rumahnya karena itu tidaklah sia-sia, bandingkan saja seorang anak yang besar dalam didikan ibu dengan titel sarjana denga anak dari seorang ibu yang biasa saja—- maka ilmunya lebih berguna untuk ditanamkan pada anak-anaknya, anak-anak yang cerdas lebih berharga daripada jumlah uang yang didapat sekiranya mereka bekerja, bayangkan bahwa anak-anak cerdas itu dapat menjadi tulang punggung kemajuan bangsa, negara dan agama…..maka wahai wanita yang mulia, raihlah ilmu setinggi mungkin untuk mencetak generasi Rabbani yang memiliki akhlak mulia,hanif, sholeh, cerdas dan baik budi pekertinya.

Maka ketika kemajuan teknologi makin membabi buta, dan anak yang lugu itu bertanya pada uminya tentang bagaimana mengoperasikan komputer, maka ibu yang pintar dapat mengajarinya, tatkala sang jundi bertanya tentang seni sastra yang berbudi maka sang ibu bisa menjelaskannya, pun saat sang jundi bertanya teentang siapa Tuhan dan nabi mereka maka sang ibu dapat dengan arif bercerita tentang keesaan Allah, keteladanan Rasul dan para sahabat dalam memimpin dunia, atau sang jundi bertanya tentang isi dunia, maka sang bunda juga bisa menjadi discovery channel yang handal, atau ketika sang jundi dengan wajah lucunya minta dibuatkan spagetti atau opor ayam, maka sang ibu dapat dengan sigap menghidangkan di meja makan he2….itulah ibu luar biasa !!!! (Jadi ngaco……temanya kan pendidikan kenapa jadi …???? )

Maka pendidikan tidak hanya gelar kesarjanaan atau bermacam-macam titel dibelakang nama, tapi pendidikan=proses pembelajaranilmu yang bermanfaat

Jadi sekolah tinggi ??? Siapa Takut !!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s