Dia yang bernama waktu

Sesungguhnya aku tak pernah peduli dengan berjalannya jarum jam, yang selalu berputar detik demi detik dari kiri ke kanan setiap saat, ritmik dan monoton, patent dan permanent. Dialah akhirnya yang memnentukan bergantinya hari , bertambahnya minggu  dan hingga berubahnya tahun demi tahun.

Sesungguhnya aku tak pernah memperhatikan bagaimana jarum jam berputar detik demi detik, hingga melalui hitungan menit dan hitungan jam. Sungguh aku tak pernah mengamatinya, kecuali melihatnya ketika dalam penantian yang panjang dan kejaran deadline pekerjaan.

Sesungguhnya aku tak pernah memperhatikan putaran jam, mengiringi pergantian siang dan malam dan menghadirkan pergantian musim. Sungguh aku tak pernah peduli kecuali ketika kerutan di wajahku dan uban yang tumbuh dalam kulit kepalaku tiba-tiba menyadarkan betapa cepatnya jarum jam berlari

Sesungguhnya aku tak pernah mengamati bagaimana jarum jam itu mengulang sejarah dengan menapaki jalan yang sama sepanjang hitungan yang tercipta. Kecuali saat tiba-tiba aku melihat  diriku tak lagi bertubuh mungil, wajahku tak lagi kanak-kanak, dan orang-orang mengatakan umurku bertambah pada saat kalender menunjukkan tanggal yang sama dengan tanggal ketika aku lahir bertahun-tahun yang lalu.

Sesungguhnya aku tak pernah memikirkan bagaimana putaran monoton jarum jam itu kemudian mengingatkanku akan dia yang dipanggil dengan nama WAKTU……………

Waktu ……….. dia yang pernah kucoba untuk kutentang, kutaklukkan bahkan pernah kucoba untuk menghentikannya. Bukan karena suara langkah kakinya yang membosankan, atau angka-angka kalender yang memusingkan, atau angka tahun yang semakin lama semakin bertambah. Aku mencoba menantang waktu berlomba untuk membuktikan bahwa sesungguhnya dia tak berhak untuk membuatku merasa tertekan, karena target yang tak selesai sesuai deadline, karena tugas yang selalu mengejar-ngejar dengan batas waktu, atau dengan usia yang tak toleransi terhadap harapan yang selalu kusampaikan tiap berjalan dengannya, tiap pergantiannya, bahkan tiap jejak langkahnya.

Waktu…..dia raksasa yang angkuh dan cuek, tak peduli apakah aku berlari dengan nafas terengah-engah disampingnya, atau dengan sempoyongan mencoba untuk mengimbanginya, namun nyatanya dia tak pernah toleransi untuk memperlambat lajunya atau bahkan menghentikan gerak langkahnya. Terus berlari dengan ritmik monoton dan teratur, sedangkan aku ……………..tak pernah monoton langkahku untuk mengikutinya, kadang sejajar, kadang melebihinya, namun seringkali tertinggal dengannya.

Waktu………….mengiringi langkahnya membuatku sangat menderita, sempoyongan dan nafas terengah-engah. Waktu………….mengikutinya adalah keharusan, karena bila tidak maka aku akan kehilangan nafasku sekaligus harapanku.

Waktu…………semakin kucoba menantangnya, semakin aku menjadi lelah dan hampir binasa.

Waktu……………pernah kucoba memohon padanya untuk mengerti kondisiku, namun dia hanya menoleh sekilas tanpa menghentikan langkahnya, hanya gumamannya yang mendesir di telingaku “ kau tak boleh berhenti, teruslah berlari dengan semua kemampuanmu yang tersisa…..terus….jangan berhenti, bila kau berhenti, kau akan mati dan tak akan pernah bersamaku lagi”

Waktu……….semakin lama berlari dengannya maka semakin banyak kisah yang kuukir bersamanya, dan semakin banyak makna yang kutulis dalam episode cerita hidupku.

Waktu………berlari dengannya memberiku hikmah nyata, jangan pernah mencoba menantangnya bahkan menghentikannya hanya untuk memuaskan dirimu. Karena sesungguhnya kepuasan itu ada ketika kau bisa harmoni berlari dengannya menaklukkan hawa nafsumu.

Waktu………….memberiku banyak rangkaian bunga saat ku berlari dengannya membawa doa, ikhtiar dan semangat pantang menyerah.

Waktu …………. Dia tak pernah mendorongmu untuk terburu-buru, dia hanya memberikan ritme yang tepat agar kita bisa berlari dengannya lebih baik lagi dari sebelumnya.

Waktu…………….. dia yang tahu kapan saat yang tepat untuk mempercepat laju langkahmu atau memperlambatnya.

Waktu ………. Tak pernah mengejarmu, karena sebenarnya kaulah yang terlalu cepat hingga mendahuluinya, kau tak tahu bahwa ada kalanya hanya waktu yang tahu kearah mana tujuan akhirmu.

Waktu………….. tak pernah memintamu untuk berhenti ketika kau tertinggal jauh,karena berhenti berlari dengannya berarti MATI.

Dan akhirnya WAKTU ………….. tak pernah memintamu untuk merubah tujuan akhirmu hanya karena kau merasa kalah dengan peserta lain yang lebih cepat melampauimu. Karena sesungguhnya WAKTU adalah mitramu, hanya mitramu, dan dia yang mengerti kapan waktu yang tepat untukmu, bukan waktu yang kau kira tepat untukmu.

Nb : saat terluka, sadarlah bahwa hanya waktu yang bisa menyembuhkannya, belarilah bersamanya dengan senyum, maka ia akan memberikan senyuman yang lebih manis untukmu, berlarilah dengan doa, ikhtiar dan semangat agar dia memberikan bunga indah dalam perjalananmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s