Apabila Ridho dan Prita Disandingkan…………….

 

Setiap masa, pasti akan ada seorang pendobrak kelaziman, penggugah kesadaran dan muncul sebagai pahlawan. Karena memang setiap masa punya sosok pahlawannya sendiri.

Dan mereka yang menjadi sorotan karena kepahlawanannnya bukanlah sosok-sosok dengan kekuatan super power macam superman atau batman bahkan spiderman, jauh dari itu mereka hanya sosok-sosok biasa, bahkan terlampau amat biasa, sehingga mungkin kita tak akan pernah peduli pada mereka.

Mereka yang disebut sebagai pahlawan adalah mereka yang bangkit melawan kedzoliman, dan mereka ditasbihkan menjadi pahlawan bukan karena mereka punya kekuatan laser yang dapat menumpas musuh, bukan juga karena kelihaian mereka tampil di layar kaca dengan dandanan mewah bak selebritis, mereka justru datang dengan kesederhanaan, bahkan kesengsaraan, yang kadang kita tak pernah peduli untuk memberi bantuan.

Dimulai sejak tanggal 19 Juli 2010 media cetak maupun elektronik tak henti-hentinya membahas Ridho dan ibunya yang datang mengetuk pintu istana kepresidenan untuk mencari keadilan. Ridho merupakan korban ledakan gas yang luput (atau memang diluputkan) dari perhatian pemerintah yang seharusnya memang mengayomi rakyatnya. Ibunya tak mampu membayar biaya perawatan Ridho hingga tuntas, sehingga luka akar pada wajah dan sebagian tubuhnya masih belum tertangani dengan baik.

Berita mengenai kepedihan nasib Ridho langsung menyentak nurani kita, menyadarkan kepedulian jutaan pasang mata yang menyaksikan lakonnya di televisi maupun koran, dia memanggi-manggil rasa kemanusiaan kita yang sudah lama terpendam akibat arus pemberitaan ledakan gas beruntun yang akhirnya menjadi santapan sehari-hari , yang akhirnya menjadi berita biasa, bahkan kita hanya berpikir sambil lalu saja “ oh….ada lagi nih gas yang meledak” atau hanya sebatas “ Ya Allah…..lagi-lagi tabung gas meledak “ . Tapi adakah dalam pikiran kita terlintas nasib para warga yang menjadi korban, bagaimana dengan kondisi luka mereka, bagaimana dengan anak yang kehilangan ibunya, bagaimana dengan ibu yang kehilangan anaknya, atau suami yang kehilangan istrinya atau keluarga yang kehilangan rumahnya.

Sungguh banjir pemberitaan mengenai ledakan gas yang bertubi-tubi di tahun 2010 ini membuat berita tragedi menjadi biasa layaknya berita tertangkapnya koruptor yang menjadi biasa (aah……lagi-lagi koruptor tertangkap adalah hal biasa bukan ??? ). Kepekaan kita telah tergerus untuk tidak menyadari ada yang lebih harus diberitakan selain ledakan gasnya, terutama konten mengenai korbannya. Ridho hanyalah satu dari sekian banyak korban yang butuh bantuan.

Ridho hanyalah satu dari sekian banyak korban yang mewakili untuk mengetuk pintu istana minta perhatian. Ridho hanyalah satu dari sekian banyak korban yang harus kita perhatikan. Ridho adalah pahlawan yang tidak hanya mengetuk pintu istana, tapi juga mengetuk pintu kepedulian saudara sebangsa dan setanah-airnnya. Namun apakah dengan membantu Ridho  kita sudah bisa bernafas lega karena telah bersikap layaknya manusia ?? padahal masih ada banyak korban lain yang mungkin saja dari letak geografis lebih dekat dengan kediaman kita yang juga membutuhkan bantuan. Contohnya adalah bayi Siti Nurhalimah yang baru berusia 3 bulan yang langsung menjadi yatim piatu karena kehilangan kedua orangtuanya sekaligus kakaknya yang menjadi korban ledakan tabung gas.

Menjadi pahlawan tidaklah diharapkan oleh Ridho dan ibunya, mereka berani berjuang untuk membebaskan belenggu ketidak adilan dan ketidakmampuan yang mengikat mereka. Sungguhpun ketidak adilan banyak terjadi di sekitar kita, kita tak akan pernah peduli bila tidak muncul satu orang yang berani mendobrak ketidakpedulian kita. Masih ingat Prita ??? sungguhpun Kasus Prita tak sama dengan Ridho, tapi munculnya Prita sama pahlawannya dengan Ridho, dia muncul menggugah kepedulian kita akan nasib orang tak punya; yang tak berdaya di mata hukum dan peradilan Indonesia, sungguh tak hanya Prita yang menderita, di Kediri diberitakan pencuri satu buah semangka diganjar hukuman berbulan-bulan penjara, ada lagi kasus mengambil beberapa buah kapas langsung juga dipenjara, heeemmmm………..benar kalau ada guyonan bahwa pencuri kelas teri gampang dihukum daripada pencuri kelas kakap, jadi karena sama-sama pencuri ya mending dikakapin aja kelasnya sekalian hehehehe Jadi benar dong kalau ada film judulnya “Alangkah Lucunya Negeri Ini” paling tidak kita bisa tertawa sepuasnya dan awet muda kalau tinggal disini hahahaha……………(hussss……………)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s