Ibu Ainun……

Tanggal 22 Desember kemaren hari ibu, dan 2 hari kemaren kita sudah mengawali topik dengan membicarakan hari ibu, tapi ini emang jadi satu hal yang ternyata masih ngikut dalam topik hidupku satu minggu ini (sok drama…..) yaitu apalagi kalau bukan hari ibu😀

Jadi mari kita bahas lagi, ………..

Bermula dari perburuan Buku Habibie&Ainun yang bener2 bikin mupeng hingga mencari ampe Malang (Alhamdulillah masih banyak stok disana), diluar pemaparan pak Habibie yang memang ilmuwan (jadi jangan membayangkan buku ini adalah story book dengan bahasa sastra atau bahasa novel yang ringan dibaca…yah..sekalinya ilmuwan tetaplah ilmuwan jadi bahasa dan topik yang diangkat juga lumayan berat bagi otak bukan ilmuwan hehehe), buku ini mengisahkan lika-liku perjalanan hidup pak Habibie dengan Ibu Ainun Besari dari mulai awal pertemuan mereka hingga akhirnya ibu Ainun wafat mendahului pak Habibie sendiri (sueer romansanya ngalahin cerita romeo n juliet…bahkan buku ini selain romantis juga penuh dengan teladan yang bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari _pancasila benget_ )

Buku ini berisi kisah-kisah dan pengungkapan rasa cinta terdalam dari sang profesor kepada almarhumah istrinya yakni Hj. Hasri Ainun Habibie binti R. Mohamad Bestari yang wafat pada tanggal 23 Mei 2010 lalu. Dalam kata pengantarnya, Habibie mengaku jika penulisan buku ini menjadi terapi bagi dirinya untuk mengobati kerinduan, rasa tiba-tiba kehilangan dari seseorang yang telah menemani dan berada dalam kehidupannya selama 48 tahun 10 hari, baik dalam berbagi derita maupun bahagia. Walau pun ia sudah ikhlas tetapi ia tidak bisa membohongi dirinya bahwa ia masih terpukul pasca ditinggalkan sang istri tercinta. Bahkan menurutnya antara dirinya dan Ainun adalah dua raga tetapi hanya satu jiwa. Dan kata-kata “Dua Raga Satu Jiwa ” ini adalah kata-kata ajaib yang selalu muncul pada lembar-lembar halaman ketika pak Habibie menceritakan sosok ibu Ainun. Hmmmm……gambaran sayang yang teramat dalam dari pak Habibie kepada istri tercintanya.

Buku ini memang lebih banyak mengupas kehidupan pribadi pak Habibie dalam rumah tangga dan peran serta keluarga dalam menentukan karier serta putusan-putusan yang diambil pak Habibie baik dalam hal posisi beliau sebagai kepala rumah tangga, karyawan, menteri, hingga Presiden. Dalam buku ini beliau menegaskan betapa besar peran sang istri”Ibu Ainun” dalam menyokong kariernya . “Dibalik kesuksesan seorang laki-laki terdapat dukungan dari seorang wanita” kata-kata ini sangatlah pas bagi pak Habibie, wanita-wanita teristimewa dalam kehidupan beliau adalah ibunda dan istrinya.

Merekalah sosok ibu yang mampu menjadi tempat Habibie tumbuh mendewasa baik secara intelektual, spiritual, sosial maupun profesional.

Ibu Ainun sejatinya adalah dokter lulusan FK UI yang sebenarnya mempunyai peluang karier yang sangat cemerlang di bidangnya, mengingat beliau adalah seorang wanita cerdas yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual dan intelektual. Namun ibu Ainun sangat menyadari bahwa perannya sebagai seorang istri terlebih seorang ibu adalah yang utama , dan beliau menjalani peran ini dengan sangat sempurna hingga akhir hayatnya. Bukan berarti beliau tidak ingin bekerja untuk membantu suaminya, dalam masa-masa awal kehidupan mereka di Jerman selama 3,5 tahun (ketika itu pak Habibie masih dalam proyek menyelesaikan gelar S3nya dengan penghasilan yang hanya cukup utk bertahan hidup saja bagi keluarganya) ibu Ainun sempat terpikir untuk ikut bekerja membantu menambah penghasilan keluarga, namun keinginan ini baru dapat terwujud ketika mereka sudah mampu menyewa baby sitter untuk menjada kedua anaknya , barulah ibu Ainun mulai bekerja sebagai dokter anak di salah satu RS Hamburg, namun setelah 2 tahun ada kejadian yang membuat Ibu Ainun kmbali sebagai ibu rumah tangga biasa dan meninggalkan pekerjaan _yang sebenernya sangat dicintainya_

Dalam buku A. Makmur Makka (SABJH) ibu Ainun menuliskan apa yang membuat beliau memutuskan untuk tidak bekerja “Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter ? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu.  Namun saya pikir : buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri ? Apa artinya ketambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya ? anak saya tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja ? Itulah sebabnya saya menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami begitu”

wow…..takjub saya pada kata-kata beliau diatas, visi yang sempurna…dan ketika beliau bekerja akhirnya dan memutuskan untuk kembali berhenti adalah karena pada saat itu anak mereka sedang sakit, dan membuat bu Ainun berpikir alangkah tidak adilnya bila ia merawat anak orang lain sedangkan anak sendiri dalam keadaan sakit dan dirawat oleh orang lain…

Tidak hanya perannya yang begitu besar dalam kehidupan pribadi pak Habibie, namun juga kehidupan profesional beliau sebagai pejabat negara. Tidak hanya dalam kehidupan Rumah Tangga beliau tangguh, namun sumbangsih pada negara beliau buktikan dengan pemberdayaan kaum wanita di lingkungan kerja kantor suaminya dan pendirian Bank Mata yang beliau menjadi Ketua Dewan Penasehat sampai akhir menutup mata.

Kehidupan beliau yang romantis juga dilingkupi oleh lingkup spiritual yang kental, selalu shalat berjama’ah dan puasa senin-kamis bersama-sama . So romantic……………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s