Be A Wife ………….

Ini adalah agenda berkumpul seperti biasa, menjadi tidak biasa karena percakapannya melenceng dari jalur yang biasa (halah…..), meskipun hanya bertiga……terima atau tidak, ada dari kami yang bukan lagi milik kami sendiri, bagian dari menjadi istri dan ibu, meskipun tak seperti dulu, kami tetap bersyukur kebahagiaan masih melingkupi ukhuwah ini (untuk mimah dan issi yang ga ikut, catatan ini buat kalian :D)
Pembicaraan kali ini cukup membuat saya terdiam dan merenung (tumben banget terjadi  ), berawal dari godaan ke calon pengantin yang menghitung hari dan sekarang di posisi H-16, tentang persepsi dan persiapan menikah. Dalam hal ini, saya akui bahwa kawan-kawan saya memang sudah dewasa (lah kemarin apa ????? setengah dewasa setengah anak-anak lah hehehe).

Beberapa yang menjadi bahan diskusi kami a.l :

1. Menikah itu akan membuat kita menjadi sama sekali lain (itu yang saya simpulkan), persepsi saya sebagai lajang dan rully sebagai istri misalnya sangat jauh berbeda, padahal dulu kami gak jauh-jauh amat beda pendapatnya😀, so far perubahannya dalam rentang yang baik, bukankah menikah akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik ?? paling tidak begitu😀.

Menikah tidak hanya membuat “aku dan kamu” menjadi “kita”, ada toleransi disana, bagi istri menikah adalah jalan bagi ‘pengabdian” pada suami, kawan saya merasa sangat bahagia (dia menceritakan dengan raut wajah bangga dan bersemangat) ketika dia bisa melayani suaminya dengan baik, meskipun sesibuk apapun , kawan saya selalu berusaha sampai dirumah terlebih dahulu sebelum suami pulang untuk menyambut kedatangannya, sederhana………..tapi saya merasa ada sesuatu yang membuat saya juga ikut bangga pada kawan saya😀 (saya sampai tak tahan untuk tidak memeluknya hehehe).

Kenapa ini menjadi perbedaan mendasar antara saya dan Rully ?? yah…karena saya belum pernah mengalaminya, tapi selain itu saya dulunya merasa hal ini sangat…sangat…sederhana, gak jauh dari “gak penting”, tapi ketika melihat raut wajah bahagia Rully, saya jadi berpikir “That’s why a woman created :D”

2. Masih tentang menikah, menikah itu bagi wanita adalah pelajaran untuk menekan ego, keputusan untuk menerima seseorang asing menjadi suami kita linier dengan keputusan untuk siap mendahulukan kepentingan suami daripada kepentingan pribadi , ketika seorang wanita telah terbiasa mandiri, berkarier, mengelola keuangan sendiri dsb, maka ketika ia memutuskan menerima tawaran menikah, maka siaplah ia untuk belajar melayani, bahwa seorang laki-laki secara naluriah sebenarnya gak mau kalau “dibawah” kendali seorang wanita, walau bagaimanapun superiornya wanita tersebut dari segi fisik, kecerdasan, maupun finansial.

Maka…………ketika kita menikah, ikhlaskanlah suami kita menjadi IMAM bagi diri kita, IMAM yang selalu dituruti, yang selalu dilayani dengan baik, yang selalu dibahagiakan dan dihormati segala keinginannya, sepanjang tidak melanggar ketentuan yang telah digariskan Allah😀. Seorang wanita yang benar-benar memahami ini , tidak akan pernah keberatan sama sekali untuk melakukannya, untuk ini saya heran hehehe. Paling tidak ada CINTA yang menguatkannya, CINTA yang DITUMBUHKAN, bukan CINTA yang melemahkan hati😀

3. Suami –Istri ……. Menyatu tak ada jarak, tak boleh terpisah satu sama lain, kuncinya adalah komunikasi yang baik. Ada kalanya ada perselisihan, namun dengan komunikasi yang “saling mengalah” semua pasti akan baik-baik saja. Tak ada kata-kata “Kamu yang salah, harusnya begini….”, yang ada adalah “Maafkan aku, harusnya memang begini”……ini akan lebih indah😀

4. Istri …… istilah ini menganding arti, bahwa wanita yang telah menyandangnya akan menjunjung tinggi kehormatan suaminya, menyenangkan hatinya, amanah dalam kewajibannya, dan menenangkan hati suaminya bila suaminya sedang pergi. Saya tak bisa lagi leluasa mengajak kawan yang notabene para istri sembarangan saja seperti dulu , istilahnya tak bisa lagi sembarangan “menculik” mereka dari para suami hehehe, masing-masing sudah mengerti bahwa kepergian mereka dari rumah adalah di bawah tanggung jawab suami, kalau suami tidak mengijinkan yaa…….otomatis tidak bisa dipaksakan, apa merubah pertemanan kita ??? nggak juga kok, kan kita bisa “maksa” suami mereka buat ngijinin istrinya kumpul2 ala bujangan kayak dulu hahahaha (nggak dhing, ini berhasil di beberapa kesempatan, tapi kami nyadar ini gak baiK untuk kesehatan “Rumah tangga” :D)

5. Dulu pernah gak ya kami diskusi seserius ini ????😀, rasanya berbeda (bagi saya pribadi) ini adalah bahasan yang “dewasa”, lebih matang daripada diskusi2 kita sebelumnya, saya merasa………….pola pikir dua kawan saya itu sekarang menjadi “pola pikir istri” hehehe

6. Gak ada yang berubah sih, karena seperti sebelum-sebelumnya, bahasan setelahnya menjadi ……kacau😀 (gak perlu dibahas disini :D)

Yup………..that’s whay the main topic is “Be A wife”

2 thoughts on “Be A Wife ………….

  1. Subhanalloh nis…ga salah sembilan tahun ini qt tetap solid di az zahra cause you are so special ^________^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s