Rindu di sisi langitMu

****
Siang itu, Slamet merasa hawa begitu panasnya, pohon beringin di alun-alun saja kelihatan meranggas, rumput di lapangan juga tidak tampak ada hijaunya, semuanya kuning kering, ditambah angin yang menerbangkan debu, menambah perih di mata.

Karyo temannya, masih asyik main bola di lapangan, tidak seramai biasanya, karena para serdadu kumpeni yang berjaga di pos depan alun-alun sekarang bertambah banyak, galak-galak lagi, kadang mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan pentungan kepada Slamet dan teman-temannya kalau mereka mainnya terlalu ramai. Suasana sepi ini juga didukung oleh banyaknya penduduk yang malas keluar rumah, hawa kota Blitar yang semakin panas membuat orang-orangnya lebih senang “leyeh-leyeh” di rumah.

Hari ini kebetulan Slamet tidak membantu mbah-nya berjualan di pasar pahing, mbahnya batuk terus sejak seminggu lalu, biasanya masih memaksakan diri terus berjualan, kalau tidak mereka tidak akan bisa makan, meskipun pasar sekarang sepi, para kumpeni yang sering merazia membuat pasar tidak seramai biasanya. Sudah beberapa hari ini mereka hanya makan “tiwul”, tak ada beras. Mbahnya juga semakin parah batuknya, tidak kuat untuk memanjat kelapa untuk mereka jual. Slamet masih belum cukup terampil, mbahnya khawatir kalau cucunya ini nanti malah jatuh dari pohon kelapa yang tinggi.

“Suit….suit….” suara suitan membuat Slamet menoleh
“ Hei ….. Slemet…!!!” seorang serdadu Belanda melambaikan tangan di seberang jalan.

Bocah 7 tahun itu berdiri dan menghampiri John, Slamet tak takut padanya meskipun badan serdadu ini hampir 3 kali lebih tinggi darinya, _John Pierre Van Bossch_, Slamet tak hapal nama panjangnya, cukup ramah untuk seukuran tentara kumpeni, bahkan kadang-kadang dia mengajak Slamet dan beberapa kawannya untuk bercakap-cakap, meskipun bahasa mereka agak tidak nyambung😀. Slamet merasa John orang baik, meskipun dia kumpeni. Bukankah semua tentara kumpeni jahat ??? kata bapak , kumpenilah yang membuat mereka miskin, kumpeni yang membuat Bapak terpaksa bergerilya dan terus menjadi buron, bahkan karena kumpeni ibunya meninggal waktu melahirkannya ketika tidak ada dukun bayi yang menolong, semua keburukan hidupnya disebabkan karena kumpeni. Sejauh ini paling tidak John tidak pernah menyakitinya atau membentak seperti yang biasa serdadu kumpeni lain memperlakukan anak-anak pribumi seperti Slamet.

John hanya menanyakan kabarnya, kemana Slamet selama 5 hari ini tak pernah kelihatan di alun-alun, Slamet hanya bilang kalau dia menjaga mbahnya yang sakit, John tersenyum dan mengelus kepalanya kemudian pergi. “Hmmm……orang yang aneh, masak gitu aja pake manggil segala” Slamet mendengus.
“ Bug !!!! “ Tiba-tiba, ada yang mengenai punggungnya. Ketika Slamet berbalik, sebuah buku sudah tergeletak di bawah kakinya, agak jauh dari sana, John tertawa lebar sambil berteriak “ Itu buku buat kamu, kemarin Karyo dan Supri sudah dapat ! “
Slamet tertawa, dia melambaikan buku itu ke udara sambil berteriak “Terima kasih Meneer !!!!” . Kemudian berlari pulang, hari sudah sore, mbahnya pasti khawatir kalau dia tidak pulang sebelum petang.

****
Malam ini sunyi senyap, bahkan jengkerikpun malas bersuara. Gelap menyelimuti seluruh kota, karena Belanda memang memberlakukan jam malam seminggu terakhir ini, 7 hari yang lalu mereka kecolongan, gudang makanan di pojok benteng dijarah para pencuri, entah pencuri atau tentara gerilyawan, yang pasti Komandan mereka marah besar. Penjagaan diperketat, dan jam malam diberlakukan. Razia kerumah penduduk juga makin sering dilakukan. Tapi nihil….tak ada satupun gerilyawan yang tertangkap. Semua warga yang sebagian besar para orang tua, wanita dan anak-anak kompak tak mau buka mulut. Hanya membuat Komandan mereka bertambah murka.

John menatap awas di kegelapan, 2 temannya sudah terkantuk-kantuk dari tadi. Beberapa nyalak anjing di kejauhan terdengar, lonceng berbunyi 1 kali…..”hmmm…jam 1 malam” John menghela nafas, sejenak dia tadi tiba-tiba ingat ibunya di Belanda sana, juga adiknya Patrick, terakhir kali melihat, Patrick masih umur 3 tahun, mungkin sekarang sudah 5 tahun, dia tak pernah pulang, tak pernah dapat pulang tepatnya, atau malah tak bisa pulang, entahlah……John sudah tahu resikonya ketika pertama kali dikirim ke Hindia, dia seringkali berkirim surat dengan berpesan agar ibunya selalu mendoakan agar dia bisa selamat hingga pulang nanti, dia masih ingin melihat wajah lembut ibunya, senyum Patrick adiknya dan Katreen………..seperti apa dia sekarang ??? tiba-tiba John tersenyum sendiri.

“Sreek……” Lamunan John terhenti waktu mendengar suara mencurigakan di gudang amunisi. Dia tak perlu bertanya karena sesaat kemudian terdengar teriakan-teriakan diselingi beberapa letusan senjata, temannya yang lain sudah berlari ke arah gudang, temannya yang di barak juga, mereka kini lebih waspada setelah kejadian 7 hari yang lalu.
“ Disana……..Ya…mereka melarikan diri….kejar…………hei berhenti ……………………ke utara !!!!” Riuh para tentara kumpeni itu mengomandoi satu sama lain. Sampai akhirnya beberapa orang keluar dari benteng dan melanjutkan pengejaran.
Malam yang gelap, tidak ada cahaya sama sekali, ditambah dengan jalan pemukiman yang sempit membuat pengejaran mereka tak bisa selincah pelarian sang buruan. Kehilangan jejak, beberapa tentara kembali ke pos masing-masing dengan mengumpat, paling tidak , maling itu tidak membawa apa-apa, dan Komandan mereka tak akan se-emosi kemarin pastinya.

“Uhuk…uhuk…..”
“Uhuk….uhuk…..”
Suara batuk di sebuah rumah mengentikan langkah John, kawannya yang di depan sudah pergi dengan langkah bergegas, mereka tahu bahwa mereka berada di luar area aman, mereka diantara rumah penduduk, target mudah bagi para gerilyawan.
John berbalik dan mengintip lewat celah dinding “gedhek” rumah yang dilewatinya. Di dalam nampak seorang kakek tua berbaring dengan sarung lusuh di dipan tak beralas, disampingnya seorang anak kecil memberikan wadah untuk tempat “riak” sang kakek. John kemudian melangkah pergi kembali ke barak.

Mengambil kotak obat, John menemukan yang dia cari, 8 pil mungkin cukup, kalaupun ada yang bertanya aku bilang saja aku yang mengambil untuk persediaan besok, toh Hendrick sang penjaga kotak obat tak kan begitu mempermasalahkan. Tapi….kembali kesana seorang diri, bahkan sekarangpun belum lagi jam 2, John menimbang – nimbang keberaniannya. Dia sebenarnya bukan pria penakut, tapi cukup berotak. Dia tahu bahwa kembali kesana, keluar dari zona amannya, seperti sapi yang menyerahkan diri pada “sang penjagal”, dia bisa menjadi sasaran empuk para tentara hindia.

John berpikir lagi, dia tahu dia harus kesana, mbah tua ini sangat parah sakitnya , kalau tidak segera ditolong….ah…entah siapa yang akan merawat anak kecil itu, John tidak tega, dia sudah tahu rasanya menjadi yatim piatu, dia cukup paham bahwa Tuhan menyayanginya dengan mempertemukan dengan Sophie, wanita yang kemudian menjadi ibu angkatnya, dan dia ingin membagi kasih sayang Tuhan kepadanya sekarang. John meyakinkan dirinya sendiri.

Tak mudah baginya berjalan di kegelapan, agak lambat namun tetap waspada, agak terburu karena dicekam rasa takut yang kuat. John tiba di rumah yang ia tuju, diletakkannya bungkusan obat di depan pintu, suara batuk kakek tua di dalam masih terdengar seru. Diketuknya pelan pintu rumah, tanpa menunggu dibuka dia melangkah pergi dengan bergegas. Tak dilihatnya anak kecil yang terpana menemukan bungkusan obat di depan pintu rumah. Tak menunggu lama ditutupnya pintu untuk masuk menemui kakeknya.

***

Slamet memburu bola dengan tersengal, dia gembira, kakeknya sudah lumayan mendingan. Temuan obat 2 malam kemarin sangat membantu. Dia menduga-duga siapa yang meletakkannya di depan pintu, apakah Bapak ??? Tidak mungkin Bapak langsung memberi tanpa menengoknya dengan Mbah lebih dulu. Ah……..Meneer John juga tak kelihatan 2 hari ini, tentara yang di benteng tampak lebih sibuk, katanya mau mencari para gerilyawan di luar permukiman, jadi banyak yang keluar masuk berganti-ganti, mungkin Meneer John sedang bertugas di luar, semoga dia baik-baik saja, tapi……….Slamet lebih berharap Bapaknya yang baik-baik saja sekarang. Karena pejagaan yang makin ketat, Bapaknya sudah lama tak menengoknya, entah dimana dia sekarang.

***
Pasar semakin sepi, Kumpeni makin sering merazia dan merampas apa yang mereka suka, para pendudukpun enggan untuk keluar rumah, rasanya bagai makan buah simalakama, bertahan disini, terancam oleh kumpeni, keluar dari sini, mereka tidak tahu apakah diluar sana masih ada tempat yang steril dari tentara pirang itu ????

Slamet makin jarang keluar rumah sekarang, dia banyak menghabiskan waktu membantu mbah-nya di rumah, mengumpulkan kayu bakar, mencari singkong dan apapun yang bisa dimakan. Kadang-kadang latihan menulis, tapi Meneer John masih mengajarkan huruf sedikit padanya, hmmm…paling tidak Slamet sudah bisa menulis namanya sendiri, Karyo saja masih gagap kalau disuruh memegang pensil hehehe
“Slamet !!!!! ayoo keluar !!” Lengkingan Karyo membuayrkan konsntrasi Slamet yang mencoba menulis nama Meneer John di bukunya
“ Ada apa sih Yo ??” Slamet membuka pintu
“ Ayo lihat iringan tentara, banyak sekali, mereka mau keluar, ayoooo, pasti bisa lihat iringan tentara yang banyak, kan enak kalau nanti sepi, bisa main bebas di lapangan” Karyo menjelaskan dengan nafas memburu dan mulai mengambil langkah tak sabar
“ iya, aku pamit mbah dulu ya..nanti aku nyusul !!”
Apa bagusnya melihat iringan tentara kumpeni, tapi Slamet dan kawan-kawannya suka melihat seragam dan gaya mereka yang gagah, meskipun kata Slamet lebih gagah Bapaknya.

5 peleton tentara bergerak beriringan naik 5 truk, truk mereka berjalan sambil meninggalkan kepulan debu yang tebal. Di belakang salah satu kap truk, terlihat satu orang yang melambai, ah…..Meneer John !!
“ Hoii……Mbahmu sudah sembuh kan ???” teriaknya
“Sudah Meneer !!!!” Slamet menjawab sambil tersenyum lebar
Tiba-tiba Slamet tersadar, obat itu….mungkinkah ????
Iring-iringan semakin jauh….debu mengepul mengaburkan bayangan Meneer John dan para serdadu itu
Slamet memutuskan pulang.

***
Sudah 4 hari ini kondisi pemukiman kacau dan sepi , benteng masih mengepulkan asap tebal, para serdadu tak banyak kelihatan, para penduduk masih mengungsi karena gempuran gerilyawan kemarin membuat serdadu makin beringas, mereka menangkapi orang-orang tanpa pandang bulu, katanya komandan mereka marah besar, acara perburuan gerilyawan kemarin gagal total, mereka malah kehilangan banyak serdadu waktu itu. Penduduk memilih mengungsi, begitu juga Slamet dan mbahnya.

Beruntung , 3 hari kemudian Slamet bertemu dengan Bapaknya yang mendengar apa yang terjadi di desa. Slamet dan Mbah dibawa Bpak ke markas gerilyawan di tengah hutan. Slamet senang meskipun harus berjalan melewati belukar, baginya tusukan duri dan lelehan keringat tidak artinya dibandingkan bersama dengan Bapak, apalgi tak lama lagi dia akan bersama Bapak dan tentaranya, dia juga mau berjuang seperti Bapak, dia mau mengusir serdadu kumpeni dari desa, tapi kalau bisa Meneer John tetap tinggal, kan dia baik, lagi pula nanti dia bisa jadi guru buat anak-anak lainnya, mengajari menulis dan membaca . Slamet tersenyum sambil terus berusaha mengikuti langkah bapak dan mbahnya yang ternyata masih lincah menyusuri belukar.

3 jam perjalanan yang melelahkan bagi Slamet, sampai di markas , dia langsung masuk “kamar” Bapak untuk istirahat, Slamet ingin tidur dulu, besok pagi dia ingin melihat tentara Bapak latihan, katanya mereka mau belajar menembak, kalau bisa Slamet ingin ikut, makanya dia mau tidur dulu biar tidak terlambat bangun besok.

Slamet merebahkan diri di dipan, sama seperti rumah mereka di desa, dipannya tak beralas, tak ada selimut juga, tapi Slamet lebih bahagia rasanya disini, dia membalikkan badan mencari posisi yang enak ketika melihat sebuah benda di meja samping tempat tidur. Slamet bangun, ternyata benda itu sebuah gambar. Gambar satu keluarga mungkin, ada dua orang wanita, yang satu sudah agak tua menggendong anak kecil, wanita yang satu lebih muda, tampak tersenyum sambil merangkul wanita yang lebih tua tadi dan seorang laki-laki yang juga tersenyum di sampingnya. Warnanya agak buram sehingga Slamet harus mendekatkan gambar itu ke “lampu teplok”. Dia membalikkan gambar itu dan melihat ada tulisan di belakang, tapi Slamet tak bisa membaca, Meneer John belum mengajari banyak hehehe. Kembali dibaliknya gambar itu, dia merasa aneh, sepertinya wajah itu pernah dia lihat, tapi dimana ???? wajah itu, wajah laki-laki muda, rambut pirang, hidung mancung, tampan…….senyum yang lebar….sepertinya …….Haaaa Meneer John, tapi keliahatan lebih muda, apakah ini Meneer John ?? Kok ada disini ? kenapa ? apa Meneer John disini ???

Slamet berlari menemui Bapak yang baru selesai shalat di surau , sambil menunjukkan gambar itu dia bertanya “ Pak, tulisan di belakang apa artinya ?”
“ Oh…ini , ini bahasa Belanda, Sophie, Patrick, Kareen, John…sepertinya itu nama mereka yang di gambar, ada apa ??”
“Oh berarti benar kalau ini punya Meneer John, kok ada di Bapak ?”
“Kemarin Bapak dan teman-teman menyergap iring-iringan serdadu di Bukit Kranjang, kami berhasil memukul mundur mereka, banyak juga dari mereka yang tewas, nah….di salah satu saku mayat serdadu Bapak temukan dompet, gambar nya ada di dompet itu, Bapak ambil dompetnya karena bagus, gambar ini gak tahu, pengen Bapak simpan saja, sudah tidur sana !!! Besok biar gak kesiangan, Bapak mau melihat anak buah Bapak dulu”
Slamet terdiam……dia tidak tahu kenapa ia ingin menangis , ……….dan ia menangis……sampai pagi

***
Saya gak tahu kenapa ingin menulis ini, ini salah satu bagian cerita dari buku yang saya baca di SD, gak sama persis, tapi saya ingat bagian yang ini, kalau saya ingat, saya juga masih ingin menangis 
Saya ingin menuliskannya lagi, meskipun gaya ceritanya gak sebagus cerita aslinya

Tak ada manusia yang jahat seluruhnya, bagian dari mereka yang murni, bukannya tidak ada, tapi tidak terlihat, karena tertutup oleh bagian yang jahat mendominasi 

Langit tak pernah salah
Pelangi selalu muncul untuk orang-orang yang menghargai kebaikan untuk sesama😀

*nosy*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s