Rokok……. >_<

Parmin menghirup rokoknya dalam-dalam…….rokok terakhir hari ini. Hari sudah larut malam, mungkin sekitar jam 12, Parmin hanya bisa mengira-ngira. Rombong mie ayam milik Pak Karyo sudah nangkring di depan gubuknya, bukankah Pak Karyo selalu pulang sebelum jam sebelas. Berarti sudah satu jam yang lalu ia duduk di luar, untung angin malam sekarang tidak begitu ganas menghadirkan dingin. Minah dan anaknya yang masih umur 2 tahun sudah terlelap di dalam, Minah tidak suka ia merokok di dalam rumah. Parmin bilang rumahnya tidak pantas disebut rumah, dia selalu bilang gubuk, lha bagaimana bangunan berkamar satu dari dus itu bisa disebut rumah ????

Sudah seminggu ini Parmin merasa pusing, bukan karena sakit, Parmin sering pusing karena tidak punya uang. Pekerjaannya sebagai pemulung sekarang banyak saingan, heran dia, masak jumlah pemulung tiap hari tambah banyak , apa tidak ada pekerjaan lain apa. Parmin sendiri sebenarnya tidak ingin lama-lama jadi pemulung, tapi……mau kerja apa ?? ijazah SD saja tidak punya, sekarang mana bisa dapat kerja kalau tidak punya ijazah, padahal Minah dan anaknya butuh makan setiap hari.

Nah…setiap kali pusing , Parmin merasa obatnya adalah merokok, meskipun harga rokok juga tidak murah, tapi Parmin merasa obat adalah dewa penyembuh, pokoknya hidup tanpa rokok seperti sayur tanpa garam. Tidak seperti yang dulu-dulu, sekarang Parmin hanya bisa membeli 2-4 puntung rokok, itupun dengan resiko diomeli Minah istrinya, maklum sekarang mencari uang makin sulit, apalagi bagi pemulung seperti dirinya. Dapat uang dua puluh ribu saja itu untung, mana bisa beli rokok banyak-banyak. Parmin sendiri heran, kenapa Minah sekarang lebih cerewet kalau dia merokok, padahal dulu istrinya tidak pernah ambil pusing, dan Parmin bisa merokok sepuasnya.

Seingatnya , Minah istrinya lebih cerewet sejak kedatangan mbak-mbak berjilbab ke kampungnya. Mereka katanya dari LSM kesehatan yang punya program membantu para kleuarga miskin mendapatkan akses pelayanan kesehatan Cuma-Cuma. Nah salah satu programnya adalah mendata keluarga miskin di kampungnya untuk mendapatkan pengobatan gratis. Parmin sebenarnya heran, kampungnya kan kampung miskin, keliahatn dari rumah sebagian besar warganya yang dari kardus, tempatnya saja di kolong jembatan, masak pake didata lagi. Perempuan berjilbab itu menjelaskan bahwa keluarga sasaran LSMnya adalah keluarga yang tidak merokok. Wah…..bukan hanya Parmin, tapi sebagian besar warga lain juga protes, bagaimana tidak , mereka kan kebanyakan perokok, bagaimana mungkin ada syarat aneh seperti itu ?? Lha wong mau kasih bantuan saja banyak syarat segala …

Tapi mbak-mbak berjilbab itu tetap keukeuh dengan programnya, mereka tidak gampang dirayu, tapi malah gencar merayu, bukan merayu para bapaknya, tapi merayu ibuk-ibuk. Mereka rutin datang dan mengadakan penyuluhan kesehatan, sering juga mengumpulkan ibu-ibu untuk mengaji bersama di rumah Pak Parwo. Tidak hanya berkumpul, mereka juga biasanya membawa kue dan mengajarkan ibu-ibu itu ketrampilan, jadi tidak heran kalau tidak lama kemudian para ibu-ibu jadi nurut sama mereka. Lha mereka sekarang kompak, rajin menceramahi suami masing-masing agar tidak merokok. Satu dua suami nurut, tapi tidak lama, gak tahan kalau selalu diomeli istrinya. Mereka memilih merokok malam hari di luar rumah kalau para istri sudah tidur, kadang sembunyi-sembunyi, seperti yang Parmin lakukan sekarang.

Dulu Parmin sudah hampir berhasil berhenti merokok, Minah istrinya rutin menceramahi tiap kali Parmin ada di rumah, mulai dari segala tetek bengek akibat merokok, persis seperti kata mbak-mbak itu, resiko kankerlah, paru-paru lah, sampai mati juga. Hah…..Parmin bahkan tidak pernah merasa sakit selama ini, padahal dia merokok sudah sejak umur belasan, ikut-ikut anak-anak lain yang ketularan para prema jalanan, sampai sekarang dia merasa sehat-sehat saja, paling juga batuk-batuk biasa yang sembuh dengan sendirinya. Orang merokok itu nikmat, masak mau berhenti cuman gara-gara omongan dari mbak-mbak itu.

Tapi akhirnya Parmin kalah juga, bagaimana tidak, ceramah Minah lama-lama berubah menjadi ancaman menakutkan, Parmin diancam tidak bisa masuk rumah kalau tetap merokok, nah…yang ini Parmin gak bisa, mau tidur dimana kalau tidak di dalam. Tambahan lagi anaknya waktu itu batuk-batuk terus gak berhenti, mau dibawa ke dokter gak ada biaya. Minah bilang bisa dapat bantuan pengobatan gratis kalau Parmin mau berjanji berhenti merokok dan ikut pelatihan terapi rokok yang diadakan mbak-mbak itu juga. Waktu anaknya sudah baikan, Parmin masih bertahan untuk tidak lagi merokok, meskipun mulutnya sering pahit dan tidak enak, Parmin sedikit sadar kalau asap rokoknya juga yang mebuat si kecil sakit, Parmin tidak mau anaknya sakit lagi gara-gara rokoknya, dan Minahpun sekarang sudah jarang mengomel lagi.

Tapi…..sudah seminggu ini Parmin tergoda lagi dengan rokok, tidak adanya uang dan biaya makan yang melangit membuat Parmin harus pusing setiap hari, waktu ngumpul dengan teman-temannya di pojok gang, dia tak tahan lagi waktu Pak Kardi nawarin rokok. “Halah…..cuman satu, lagian masak nolak rejeki, jarang-jarang dapat rokok gratis hahaha”

Parmin yang pusing, akhirnya menerima rokok dari Pak Kardi, ternyata nikmatnya tidak ada yang bisa mengalahkan. Parmin yang sudah kangen merokok dengan nikmat waktu itu, tapi ternyata berujung dengan kembalinya kecanduan pada si rokok. Pertama kali, Parmin bisa merokok sembunyi-sembunyi, ketika Minah tahu, cerewetnya kambuh lagi, Parmin yang lagi butek, tambah Bete dan pusing, semakin ingin merokok, dan Minah semakin meningkat ancamannya. Parmin tidak boleh masuk rumah. Tapi Parmin rela, asalkan bisa merokok. Semakin pusing, Parmin semakin ingin merokok, semakin Parmin pusing karena dimarahi Minah……heeeeh…..hidup kok tambah sulit. Parmin mendesah panjang.

Dan ini malam ketiga, Parmin menghabiskan rokoknya di luar. Minah sudah tidak mengomel lagi, tapi Minah ngambek dengan puasa bicara. Lha Parmin tambah bingung, mending ngomel daripada diem saja. Tambahan lagi, si kecil juga mulai kambuh lagi batuknya, sekarang ditambah sesak. Tadi ketika dibawa ke dokter, kata dokter yang memeriksa anaknya terkena radang paru-paru, apa itu Parmin tidak begitu mengerti, yang dia mengerti bahwa anaknya sakit karena asap rokoknya. Akhirnya Parmin sadar, dia berjanji dalam hati untuk berhenti. Tapi apa boleh buat, masih ada sisa 2 rokok, sayang kalau gak dihabiskan, untuk malam ini Parmin berjanji berhenti merokok, setelah rokok terakhir ini. Yah… Parmin berjanji.

Sudah separuh terakhir……Parmin menghisapnya dengan sepenuh hati, seperti seorang kekasih yang tak lama kemudian berpisah dengan kekasihnya. Parmin agak melamun, sampai suara batuk anaknya terdengar riuh dari dalam rumah, dengan terburu-buru Parmin masuk rumah, Minah sudah berdiri dengan menimang si kecil, agak parah sepertinya .
“Ada apa Minah ???”
“Gak tahu mas, tiba-tiba dia bangun terus sesek, sepertinya kudu cepet dibawa ke klinik gratis” Minah berkata dengan cemas
“Iya, ayo, cepat kita bawa saja sekarang” Parmin membuka pintu keluar dan mengambil alih anaknya dari gendongan Minah, agak berlari dia membawa anaknya ke klinik. Sudah malam, tidak ada bajaj lewat, sepertinya dia harus berlari, toh tidak begitu jauh. Minah berlari menyusul di belakang Parmin.

Sampai di klinik, anaknya langsung diperiksa dokter jaga, Parmin pucat, sepucat wajah anaknya yang kehabisan nafas di gendongannya, untunglah dokter cepat memberikan obat, kalau tidak..Parmin tidak bisa membayangkan akan kehilangan anak mereka satu-satunya.

Anaknya harus dirawat inap, Parmin mengiyakan saja, sementara anaknya masih diperiksa didalam, Parmin keluar menuju teras. Tapi………..asap apa itu ???
“Kebakaran…kebakaran !!!!!!” riuh orang-orang berteriak dari kejauhan
Loh…sepertinya itu dari………..Parmin setengah berteriak ke istrinya sambil berlari “Minah aku pergi dulu, ada kebakaran !!!!”
Sejauh ini Parmin merasa larinya ini yang paling cepat dia lakukan seumur hidupnya,
Tak sampai lima menit kemudian, Parmin tiba di kampungnya, dan benar saja, kampungnya……kampungnya sudah berubah menjadi merah membara, orang-orang masih berusaha mengambil air dari sungai, tak butuh selang, kelebatan orang berlari dengan timba, dengan kaleng, dengan apapun yang bisa digunakan untuk mengambil air. Parmin ikut berlari, mencari timba untuk membantu memadamkan api.

Akhirnya setelah 1 jam, api padam meninggalkan puing-puing rumah kardus itu, rumah Parmin salah satunya, sudah ludes. Parmin masih terduduk diam diatas puing rumahnya, sejak Pak Karyo bilang, perkiraan api berasal dari rumahnya, Pak Karyo bertanya apa ketika keluar tadi mereka lupa mematikan kompor, Parmin menggelang……yang tersisa dari ingatannya adalah rokoknya yang tinggal separuh. Rokok yang dinikmatinya dengan sepenuh hati, telah menenggelamkan seluruh harta miliknya, bukan hanya itu, juga belasan rumah tetangganya. Parmin tak bisa berkata-kata lagi, dia tak bisa bilang, bahwa rokoknya, yang tak sengaja dia letakkan sembarangan akhirnya membakar dan menghanguskan rumah kardus miliknya………………..

*nosy*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s