Bila Nanti Bicara Cinta

cinta menurutku tak berwarna
ia menjadi jingga sebagai mana kau memaknainya
ia pun menjadi kuning, biru dan merah
sebagaimana kau menginginkannya
cinta bagiku tak ubahnya kumpulan narasi
tentang kejujuran dan keberanian
tentang kemarahan dan kasih sayang
cinta adalah lukisan yang unik dan tak terkatakan
sebab ia menenggelamkan kita
pada angan-angan dan mimpi yang abadi
dan cintaku padamu
adalah surga yang tak bisa kumasuki
jika tanpamu *)

*) Muhasabah Cinta Seorang Istri

Cinta baginya adalah hal yang absurd, bila didefinisikan dengan kata-kata, ia akan kacau, tetapi bila tak diungkapkan, ia akan menjelma menjadi bermacam tingkah……. huuuuuh…….Rinta mengeluh panjang di depan komputer. Matanya seakan jadi rabun waktu ia melihat jam dinding, dibutuhkan waktu 2 menit untuk mengucek dan mengedipkan mata sebelum angka2 jam dinding terlihat jelas “Haaaahhhh jam setengah 1 !!!! oh no !!!!” dan tugasnya belum selesai juga, gila !!!! padahal besok pagi2 jam 7 teng harus sudah diletakkan di meja Bu Selfi, dosen killer mata kuliah bahasa yang suka memberikan tugas aneh . “Haduuuuuh…..mana masih kurang 200 kata lagi, apaan nih yang mau ditulis, gila ya…..nulis definisi cinta aja mbulet banget , aargghhh…….” . Rinta memutuskan pergi dulu dari muka komputer yang sedari 5 jam yang lalu di pelototi, hanya untuk merangkai ulasan deskripsi tentang cinta, tugas yang sebenarnya sangat dia benci, ini sih bukan dia banget, mana gak boleh ngopy dari kata-kata ilmuwan cinta macam kahlil gibran atau yang lain. Dengan berat hati dan berdoa sehikmat mungkin, Rinta perlahan bangkit menghadapi komputernya lagi untuk mengungkapkan cinta dalam 200 kata terakhirnya. Alhamdulillah……Bismillah semoga Bu Selfi murah hati dan murah senyum waktu menciretkan nilai untuknya besok. Dan jam sudah menunjukkan pukul 2 dinihari saat Rinta merebahkan badannya dan langsung tertidur pulas.

****
” Oey…gila loe, kemana aja, lihat jam berapa nih, 7 lewat 10 tauk !!!!!” dengan berisik Santi menjejeri langkahnya menuju ruangan Bu Selfi
” Udah gak usah banyak nanyak, Bu Selfi belum datang kan??? gue belum liat mobilnya di parkiran”
“Loe emang gila !!! belum datang tapi cuman lo yang belum ngumpulin” Santi mengomel sambil berbelok ke kelas

Rinta pelan-pelan masuk ruangan Bu Selfi.
“Hmmm….untung belum datang” Ditaruhnya tugas _ulasan penuh perjuangan_ itu diatas tumpukan bahan teman-temannya.
“Ehem…ehem….kamu terlambat 12 menit Rinta” sebuah suara mengejutkan Rinta tiba-tiba, menyebabkan gadis itu terlonjak dan hampir saja menjatuhkan gelas diatas meja. Pelan-pelan dia membalikkan tubuh dan menemukan sesosok wanita cantik sudah mengawasinya dengan tatapan mata tajam.
“Eh…Bu Selfi hehehe” Rinta langsung salting.
“Maaf ya bu, please………..Bu Selfi kan baik hati ”
“Untung ini masih pertama kali kamu telat ngumpulin tugas, lain kali tidak ada kata maaf untukmu”
“Wuah, terima kasih banyak bu, terima kasih………” Rinta pengen meluk Bu Selfi sebenernya saking bahagianya hahaha

***
“Eh…gimana tadi, sukses ??” Santi menjajari langkah Rinta menuju kantin
“Iya, untungnya Bu Selfi baik hati n gak sombong, gak kayak elu hehehe” Rinta nyengir ke arah sahabatnya
“Ih enak aja loe, lagian gue jg udah bayangin loe bakalan klepek2 ngarang tuh tugas hahaha, secara mana pernah loe ngrasain cinta ??”
“Eh emang cinta cuman bisa diartikan begituan ??? gue gak ngaruh kok meskipun g pernah pacaran ”
“Hmmmm…. oke ntar gue liat loe dapat nilai berapa hahaha”
“Sadis loe…segitunya ke gue, kasih support dikit kek !” Rinta menepuk pundak sahabatnya pelan.

****
Sore itu Rinta separuh sadar diatas tempat tidur saat pintu kamarnya diketuk dari luar
“Dek, buatin minum buat tamu papa gih!” Ibunya mengetuk pintu perlahan
“Emangnya bik Ijah mana ma” Rinta membukakan pintu dengan wajah agak bertekuk.
“Bik Ijah lagi pusing, kasihan, udah buatin aja, masak bikin teh aja g bisa” Ibunya tersenyum sambil melihat wajah putrinya
“Eh…sebelum itu pake jilbabnya ntar yang rapi ya, masak kusut masai gitu anak mama”
“Maklum ma baru bangun Rinta, emang siapa sih yang datang ? Tumben-tumbenan mama nyruh Rinta bikinin teh, kan mama bisa bikin sendiri hehe”
“Eh…ni anak, udah sana buatin”
“Iya..iya mama sayang hehehe” diciumnya pipi mamanya sebelum lari ke kamar untuk memakai jilbab

Butuh waktu 10 menit bagi Rinta untuk membuat teh, ternyata jiwanya tadi masih 3/4 sadar waktu jalan ke dapur, seperempatnya lagi masih belum balik benar. Akhirnya 5 menit sendiri waktu yang dibutuhkan buat mencari gula dan teh celup, Bik Ijah kemarin baru membongkar dan merevisi tata ruang istananya(baca dapur* red), kata Bik Ijah sih biar ga bosen, tapi ya itu…bikin Rinta kalang kabut.

Dari ruang tengah sudah terdengar suara papa, mama dan tamu mereka, suaranya laki-laki dan masih muda (tipe suara kan juga bisa ngebedain usia kan🙂 *red). “Aduuuh….mama ini gimana sih, Rinta kan belum pake kaos kaki, kirain tamunya seusia papa” Rinta membatin sambil meletakkan nampan di meja makan dan bergegas ke kamarnya.
Saat balik ke meja makan, sudah ada mama yang geleng2 kepala “Kamu ini bagaimana sih dek, masak bikin teh satu aja lama banget, gimana nanti kalau masak coba ”
“Ih….mama, ni tadi lagi nyari kaos kaki, mama g bilang kalau tamunya masih muda”
“Emang kenapa kalau masih muda ? tau darimana ? ngintip ya”
Rinta ga menjawab sindiran mamanya dan langsung membawa nampan menuju ruang tamu.
“Hmmmm…….jangan lupa Rinta, gadhul bashar huhu” Rinta membatin saat kakinya sudah separuh masuk ruang tamu
“Nah..ini Rinta anak saya, sudah besar kan ??? masih ingat nggak !!” Papanya berseru riang saat Rinta masuk membawa nampan.
“Oh…iya pak, agak lupa sih hehe” Sebuah suara milik Rio menjawab pertanyaan papa.
” Rinta ini nak Rio anak Pak Mardi, masih inget gak ???”
Rinta yang sedari tadi menundukan muka sambil meletakkan gelas spontan menengadahkan wajah menatap si Rio.
“Ooooh….” Rinta ber oo-oo sambil berusaha mengingat wajah di depannya, yang punya wajah tersenyum dengan sangat manisnya
“Ehem..ehem…”Mama berdehem karena melihat anak gadisnya terpana
“Itu Rio yang dulu waktu kecil tetangga kita di Semarang Rinta, masak sudah lupa, dulu kalian kan main bareng terus” Papanya kasih penjelasan singkat, pengantar bagi memorinya yang tiba-tiba lemot karena wajah cakep si Rio
“Eh udah dong ngliatin Rionya, dah ingat belum ???”kata-kata mama sekarang sukses membuat Rinta nyadar diri kalau selama 2 menit tadi bikin Rio salting terkena efek tatapan mata bintangnya hehe
“Rio……Rio Rahadian…..yang gendut dulu ?? eh maaf….masih g percaya hehe” Rinta jadi salting juga
“Iya…dulu sih gendut hehe, kamu juga kan ??” Rio menjawab sambil menahan senyum, takut Rinta terpana lagi gara2 senyum manisnya
“Ohhhh, iya ingat , maaf ya, dah lama g ketemu sih, berapa tahun pa ??? 15 tahun ya, kok kesini ??? ngapain ?”
“Huss ..kok ngapain sih” Mama ngingetin
“Eh maaf, maksudnya kok bisa kesini?”
“Rio ini kebetulan kerja di perusahaan papa, kemarin baru dipindah dari cabang Kalimantan, eh gak taunya Rio anak Pak Mardi hahaha”
“oooooo……….” Rinta ber oo-oo sekali lagi sambil ngikutin pembicaraan Papa n Mama ttg masa lalu, sekali-kali Rinta ngikut nimbrung kalau mereka lagi membahas tentang kenakalan masa kecil Rinta dan Rio.

Rinta gak nyadar sudah 1 jam berlalu sejak dia bangun tidur tadi, dan Rinta juga gak nyadar kalau sedari tadi dia sering lupa buat ghadul bashar ke arah Rio

***
to be continued _masih nyari ide lanjutannya :)_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s