Mengurai Hikmah

Sekarang hari ke-6 ramadhan, banyak sekali yang membuat ramadhan kali ini semarak, selain semarak di masjid dengan kegiatan tarawih, iktikaf dan tadarus, juga semarak di sekitar masjid dengan takjil, bazaar ramadhan dan petasan🙂 _ di kampung saya setiap habis maghrib menjelang isya’ suara petasannya bener2 heboh dari berbagai penjuru kampung hehe_. Alhamdulillah…paling tidak ramadhan kali ini ramai dan insyaAllah berkah _apapun aktivitasnya bisa bernilai ibadah kalau kita meniatkannya untuk Allah, selain melakukan hal-hal yang dilarang tentunya_

Selain semarak di masjid, TV juga ikutan semarak dengan memberikan tayangan2 yang bernuansa ramadhan, sehari penuh, full dari waktu sahur sampai sahur berikutnya, acaranya ya seputar kultum menjelang maghrib, sinetron yang akhirnya bernuansa ramadhan(para aktrisnya pada berjilbab hehe), lawakannya juga nuansa ramadhan euy (nuansa ramadhannya keliatan di waktu tayangnya _menjelang maghrib dan sahur_). Tapi acara favorit saya di TV selain adzan maghrib (meskipun telat soalnya yang ditayangin maghribnya jakarta) adalah sinetron PPT (para pencari Tuhan) ajaibnya yg sekarang sudah 5 tahun ini diputer dan g pernah bikin bosan.

Sebenernya apa yang menarik dari PPT ??? Selain dibintangi oleh Dedy Mizwar (aktor yang TOP Banget dengan film yang berkualitas) sinetron ini membuat kita banyak berpikir, banyak sekali hikmah yang bisa diambil. Kadangkala sederhana, tapi mengurai banyak alasan untuk mengatakan bener juga nih kata si udin atau si asrul hehe, banyak juga kritikan sosial yang bisa kita lihat, baik tentang kepemimpinan, kenegaraan, hubungan antar sesama, spiritualitas sampai gosip🙂, semuanya menggambarkan realita nyata yang terjadi di sekeliling kita, tapi memberikan jawaban atau ulasan yang simpel tapi mengagumkan

Contohnya adalah ketika Bang Jak selaku pengurus Mushola digusur oleh Pak RW dengan alasan gagal memimpin dan memajukan mushola kampung mereka, karena merasa dirinya gagal dalam menunaikan tugasnya, maka Bang Jak memutuskan untuk pergi meninggalkan mushola , tapi kemudian bingung dia mau tingal dimana , secara Bang Jak hidupnya sebatang kara. Akhirnya berdiskusilah mereka dimana Bang Jak akan tinggal setelahnya. Waktu diskusi, banyak alternatif yang diajukan, banyak tawaran agar Bang Jak bersedia tinggal bersama keluarga Azam dan asrul, hingga salah satu usulan tinggal di rumah Pak RW, tapi Pak RW-nya sensi _gak mau kalau Bang Jak tinggal dirumahnya_ sampai2 Ustadz Feri memarahi Pak RW karena menganggap seharusnya Pak RW lah yang utama dalam meikirkan nasib bang Jak yang juga adalah rakyatnya_dibawah tanggung jawabnya_

Mungkin saja kritikan sosial yang disampaikan adalah :
1. Seorang pemimpin yang tahu bahwa dirinya gagal dalam menunaikan tugas yang dibebankan pada dirinya tahu kapan saatnya bertanggungjawab dan dengan cara bagaimana🙂
2. Seorang pemimpin bukan hanya hidup dengan membanggakan kekuasaan yang ada padanya, tapi juga bertanggung jawab atas semua yang menjadi beban tanggung jawab yang dimiliki karena kekuasaannya itu
3. Budi baik yang ditanam seseorang tidaklah hilang seketika, ia akan membekas dalam hati dan semakin rindang tumbuh di setiap jiwa yang menerima kebaikan, seperti tongkat estafet, kita akan terdorong untuk berbuat kebjikan apabila kita menerima kebajikan dari orang lain.

Bagi saya, hikmah itu ada di setiap titik kehidupan, hanya tergantung bagaimana kita menyikapinya🙂
Happy Fasting ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s