Rumah Megah di Kampung Kami….

Sekarang lagi rame berita pro kontra pemberian gelar kepada Raja Arab Saudi oleh UI, masalahnya ada pada pendapat sebagin orang yng mengatakan bahwa Raja Abdullah tidak pantas menerima gelar terhormat itu karena negaranya telah memancung TKI kita. Hmmm…..saya tidak termasuk orang yang ikut dalam diskusi layak atau tidak layak, sebabny saya gak begitu ngerti dg aturan pemberian gelar tersebut. Secara budaya akademik, sah-sah saja apabila telah memenuhi syarat2 yang telah disepakati, tapi menurut budaya “kepantasan” di mata masyarakat awam, tentu saja kurang tepat. Model pemberian gelar hampir sama dengan penghargaan atas prestasi atau jasa yang telah diberikan seseorang kepada kita, padahal banyak TKI kita yang hidupnya menemui akhir mengenaskan di negara Arab.

Tapi saya nggak mau membahas pemberian gelar itu dengan panjang lebar disini. Saya lebih suka membahas tentang libur lebaran dan TKI🙂

Libur Lebaran kemarin, seperti lebaran-lebaran sebelumnya saya habiskan dengn mengunjungi rumah snak saudara alias mudik. Salah satu tujuan mudik adalah rumah mbah dri Bapak di Tulungagung. Menuju kesna melalui perjuangan yang berat (*halah…..). Pasalnya dulu sebelum rutinitas diantar jemput oleh mobil pakpoh, rute ke rumah mbah sungguh aduhai capeknya😀

Perjalanan kesana harus ditempuh dengan naik ngkutan pedesaan dari Terminal Tulungagung yang kalau berangkat biasanya menunggu penumpangnya lumutan dulu di dalam angkot (biasanya baru jalan kalau penumpangnya sudah full sampai mepet-mepet dan sempit-sempitan dalam angkot, padahal jumlah penumpang yang ikut rute ini lumayan sedikit). Nah….petualangan ini dilanjutkan dengan menikmati suasana naik angkot yang jalannya merayap 50 km/jam melewati jalan tak mulus yang terbentang sejauh 20 km ke rumah mbah. Setelah turun di pertigaan, maka kami akan melanjutkan berjalan kaki sejauh 3 km untuk sampai di rumah.
Bisa dibayangkan, betapa luar biasanya perjuangan kami untuk mudik hehehe.

Kampung mbah saya memang jauh dari kota Tulungagung, sebagian besr penduduknya adalah petani. Tanahnya tidaklah sesubur lagu “tanam tongkat menjadi pohon”. Tanah disini adalah tanah gamping, dan rawa. Tapi Alhamdulillah panenan padi lumayan bagus.

Rumah mbah sama dengan rumh penduduk lainnya, bangunan sederhana (punya kamar mandi tapi tak ada kakus :(……..), setengan tembok, berlantai semen ala joglo, dengan kandang sapi disamping rumah (kamar kami untungnya gak dempet dengan kamar sapi hehehe. Disana dulu sawah, ladang dan sungai adalah tempat main kami, tidak pistol mainan, yang ada hanya tembakan sederhana dari batang tanaman, dan suluh bambu yang kami buat ramai2 untuk malam takbiran😀

Hmmm…..itu kurang lebih 15 tahun yang lalu, sekarang ???
Terakhir kami pergi kesana, kondisi kampung mbah kami sudah banyak berubah, disana sini banyak rumah Mewah bertebaran ; mewah bukan hanya konotasi "mepet sawah" tpi mewah degan arti sebenarnya. Rumah dengan model modern minimalis, mayoritas berlantai 2 dengan luas bangunan yang besaar telah mengisi banyak lahan . Rumah2 joglo yang dulu kami sambangi sebagai target angpau sebagian besar telah digusur. Namun, penghuni rumah rumah mewah tersebut bukanlah keluarga mudaa bahagia, kebanyakan merek adalah para lansia yang ditemani cucu2 mereka yang masih usia SD atau SMP. Lha … apakah rumah ini adalah kesuksesan orang kampung yang menjadi petani ??? Bukan !!! Rumah-rumah megah tersebut dibangun atas jerih payah para TKI yang bekerj di luar negeri, bik Arab, Malaysia, Taiwan atau Hongkong (entah kenapa nama negara2 ini lebih familiar dibandingkan Surabaya atau Jakarta).

Para TKI tersebut biasanya akan mengirimkan uang untuk keluarga di kampung setelah bekerja selama 1 atau 2 tahun. Uang tersebut bisanya digunakan untuk membangun rumah mewah dan membeli perbotan lux didalamnya, tapi para TKI ini biasanya tidak langsung pulang, mereka biasanya bekerja lagi untuk mengumpulkan modal usaha apabila kembali dari lur negeri nantinya.

Rumah-rumah mewah itu dalah gambaran keberhasilan yang akhirnya merayu para generasi muda untuk bercita-cita menjdi TKI selanjutnya, meskipun hanya bermodalkan pendidikan ala SMP dan SMA, tidak heran kalau di luar negeri mereka hanya menjadi PRT, baby sitter atu kuli bngunan dengan kemampuan kopmunikasi seadanya.

Memang tidak semua TKI berhasil membawa uang yang berlimpah, namun derita Ceriyati atau Ruyati atau bahkan derita TKI lain yang mati atau pulang dengan kondisi mengenaskan tidaklah menghalangi keinginan para kaum muda di kampung mbah saya untuk menjadi TKI. Gambaran kesuksesn dan rumah mewah tetangga mereka, serta lapangan pekerjaan yang tidak ada membuat himbauan pemerintah untuk hati-hati terhadap agen tenaga kerja ilegal bagai angin lalu saja. Yang penting buat mereka adalah bisa keluar negeri dan bekerja.

Jadi….apakh sepadan bila seandainya ratusan TKI terlantar yang hidup di kolong jembatan tersebut telah dipulangkan, namun ratusn TKI lainnya masih tetap berangkat menggantikan tempat mereka ??? Kita bisa saja heran mengapa mereka begitu nekat bekerja di luar negeri < tapi saya melihat sendiri betapa gambaran kesuksesan orang lain menjadi motivasi mereka untuk meniru ….

Lalu…..mungkin 3 tahun lagi, kampung mbah saya menjadi pemukiman mewah para TKI🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s