semesra senja

******
Ranti masih termenung di pinggir danau. Lalu lalang mahasiswa dan kumpulan-kumpulan mereka yang berdiskusi di taman perpustakaan tak sekalipun mengganggunya. Bahkan hingga hari bertambah senja, dan kerumunan telah tergantikan oleh sepi, Ranti masih disana.
Alunan adzan maghrib Masjid Ukhuwah Islamiah yang bergema menyadarkannya, Ranti harus pulang, siang tadi ia hanya pamit pada mama untuk pergi sebentar ke kampus. Mama yang adalah ibu mertuanya mafhum, bahwa Ranti masih butuh waktu , hingga kapan tak ada yang mengerti , toh ini masalah hati. Dan Mama tak ingin mengusiknya sama sekali, hanya mengingatkan bahwa ia harus pulang sebelum petang menjelang.
Perlahan Ranti berdiri dengan enggan, ditatapnya sekali lagi danau yang kehijauan itu. Sejak 2 jam yang lalu ia disana. Persis di tempat yang sama seperti setahun yang lalu, dua tahun yang lalu juga, namun sepertinya yang ia tunggu memang tak akan datang hari ini.
Setelah menutup pintu mobil, Ranti masih merasa ada perih yang bergelayut di hatinya. Perih dan campuran rasa lain, yang pasti air mata Ranti tumpah tanpa ia sadari. Dibelokkannya Innova Bang Noe ke halaman masjid, banyak yang ingin ia sampaikan padaNya, pastinya akan sampai juga pesannya pada Bang Noe .Ah…..seakan baru kemarin Bang Noe datang dengan wajah berbinar untuk meminangnya.
************* 4 Tahun yang lalu…………… ***********
“Hei…..pinjem bukunya ya” suara itu tiba-tiba mengagetkan Ranti yang terkantuk-kantuk sambil memegang buku yang sebenarnya niat dibacanya tadi.
“Eh……..o iya dok silahkan”……tergagap Ranti menoleh, ternyata dr Nurrahman, dokter yang bertugas menjadi CI-nya 1 minggu ini di UGD.
“Haduuuh..kalau ditanya macem-macem gimana nih, belum selesai lagi belajarnya “ gumam Ranti dalam hati, ia mulai nggak nyaman berada dekat dengan CI yang katanya galak ini, rasanya pengen kabur dan ijin ke toilet.
“Hmm …… cedera kepala ……..manifestasi klinis???” tiba-tiba si dokter bertanya sambil melihat ke arahnya, kontan saja Ranti gugup, meskipun galak tapi kan dia senior paling cakep disini hehehe
“eh…anu ….” Memorinya mencoba membuka file-file kuliah yang entah kenapa bekerja sangat lambat.
“Oooo…gak tahu ??? tandanya bla…bla..bla…..” dengan runut si dokter menjelaskan panjang lebar, Ranti akhirnya cuman mengangguk-angguk dan menuliskan rangkumannya di notes kecilnya. Begitu terjadi beberapa kali, sampai-sampai Ranti bingung, ni dokter mau nanya atau cuman ngetes, lha wong nanya tapi kok dijawab-jawab sendiri, tapi emang Ranti juga salah sih masak kalau ditanya malah bengong hehehe.
Setelah hampir 5 pertanyaan yang dilontarkan dan dijawab sendiri, si dokter mengembalikan bukunya “ ini saya kembalikan, dibaca ya…masak punya buku nggak tahu isinya “ Hyaaaa………….parah ni dokter.
“Iya dok , makasih “ Lah…kok malah Ranti yg terima kasih jadinya 
Tapi dalam 10 menit tadi Ranti baru nyadar kalau si dokter emang cakep dan pinter hehehe.
*****
“Oooiii Ran, waktunya bed side teaching, siapin kasusnya gih …………” kata Yani teman satu kelompoknya.
“Oke…siapa nih nanti dokternya ? jam berapa jadinya janjian “
“Katanya sih dr Nurrahman…….tapi maunya jam 01.00 pagi nanti, mampus deh kita, mana masuk tuh materi” Kata Yanti sewot
“Oke……hmm….gaswat nih, tapi… adepin nyante aja kali ya hehehe”
“Nyante dari Hongkong, dokter galak gitu ….”
“Masak sih…emang pernah marah-marah ? seminggu ini kan dia adem ayem ngajarin kita di kelas”
“Kata kakak tingkat sih, galaknya bukan marah-marah, dia kan pinter, jadi nggak seneng tuh kalau mahasiswanya juga gak pinter hehehe, lagian jarang senyum, cakep kalau nggak senyum kan ngurangin nilai ”
“kan jadinya cool …..”
“Cool ???? nggak ah….mengarah somse, tapi emang cakep sih, belum nikah lagi, kamu kan lagi njomblo, siapa tahu bisa nyantol hahaha “
“Ih…emang jemuran, pake nyantol hahaha” Ranti cuman bercanda waktu itu ….. nggak nyangka malaikat nyatet di buku agendanya pake tulisan yang gedhe-gedhe buat Ranti.
****
Ting tong….ting tong……
Aduuuh…siapa sih siang-siang begini datang, mana mbok Sri belum pulang ngawal si mbah ke pasar. Dengan ogah Ranti membukakan pintu depan.
“Assalamualaikum, benar ini rumah Pak Rahmat ???” sesosok tubuh jangkung berdiri di depan pintu, Ranti harus agak mendongak untuk melihat wajahnya
“Wass……eh waalaikumsalam……” Sumpah Ranti kaget melihat siapa orang itu, Ya Ampun, ngapain dr Nurrahman nyasar kesini sih ??? mana penampilannya masih ala mbok-mbok rumahan, celana kulot, kaos lengan panjang dan jilbab rumah, benar-benar memalukan .
“Maaf…apa benar ini rumah Pak Rahmat ?” si tamu yang merasa dicuekin kembali bertanya
“Eh….iya benar” gagap Ranti menjawab
“Terus….apakah saya bisa masuk ?” Tanya si tamu lagi
“Oh…iya boleh….” Ranti langsung membukakan pintu dan menyilahkan duduk. Setelah tugas basa basi selesai dengan sigap Ranti langsung ngacir lebih tepatnya kabur ke belakang.
“Terus ini gimana ….buatin teh atau kopi ??? atau jus ?? kalau dia gak suka teh gimana ? atau malah lebih suka jus, atau ditawarin aja dulu …halah…susah bener sih” Ranti menimbang-nimbang segala kemungkinan sambil merazia dapur mencari gelas dan semua peralatan yang penting untuk menyuguhi tamu.
Baru saja Ranti mengupas jeruk untuk membuat jus, tiba-tiba muncul keramaian dari ruangan depan.
“Loh…ini nak Nur anak Pak Tarjo to….oalah le ternyata sudah besar ………” samar-samar suara mbah yang nyaring terdengar dari ruang depan.
“Ranti !!!! ….mana ini ya si Ranti, masih kenal sama Ranti kan ?? dulu waktu masih sering kesini kan si Ranti masih SD, o ya..dia sekolah yg sama kayak Nak Nur lo sekarang, tinggal 2 tahun lagi lulus, eh… aduh maaf ya nak, masak dibiarkan sendirian di sini, kok nggak dibuatin minum tho sama Ranti……ayo cepet Sri buatin minum buat si Nur” mbah yang heboh sejak datang dan melihat si dokter tambah heboh melihat kenyataan bahwa cucunya tega menelantarkan si dokter di ruang tamu sekian lama. Aduuuh…mbah kok lebay gitu sih…memangnya siapa dia ?.
Entah kenapa sejak saat itu si dokter kece tapi somse sering main ke rumah. Gaulnya ??? sama siapa lagi kalau bukan sama Mbah, Ranti sih jarang nemenin. Tapi meskipun begitu ternyata Ranti baru nyadar kalau si dokter kece gak somse tapi pinter n keren abis, Bang Noe (hahaha Ranti jadi pengen ketawa kalau inget panggilan baru itu sekarang ) ternyata nggak cuman ahli tentang ilmu kedokteran tapi juga keren kalau mengenai ilmu tanaman, nyambung banget dengan si mbah yang penggemar segala jenis tanaman hias. Kesan somsenya juga hilang, malah ternyata Bang Noe orangnya ramah dan lucu juga, Ranti bisa dapat tentor gratis jadinya hehehe
Kesukaan mereka juga sama, membaca buku di udara luar sambil menikmati pohon, langit dan air. Tempat favorit mereka di danau kampus, Ranti baru tahu kalau Bang Noe juga sering nongkrong di danau waktu kuliah dulu.

**
Sore itu, Bang Noe mengajak bertemu di tempat biasa. Ketika Ranti datang, Bang Noe sudah ada disana, duduk memandangi danau kehijauan yang tenang sendirian.
Dia hanya menoleh sebentar ketika Ranti menyapa. Kemudian menggeser duduknya, memberi ruang untuk Ranti duduk di hijaunya rumput tepi danau.
“Dek…abang sudah kenal baik dengan keluarga dek Ranti, keluarga abang juga, bolehkah … abang melamar dek Ranti”
Ranti sudah duduk, tapi kalimat Bang Noe barusan membuat dia serasa melayang…..apakah dia bermimpi ? Perlahan Ranti merasa pipinya panas, tapi kalaupun dilamar , masak disini ? nggak romantis banget ….. lagian Ranti belum siap buat ngejawab pertanyaan penting kayak gini tiba-tiba “Abang sadar ini mendadak, nggak perlu cepet dijawab, abang ngerti Ranti butuh waktu untuk berpikir” tiba-tiba mata itu menatap Ranti, Ranti merasakan sesuatu berdesir di hatinya, entah apa namanya, Ranti hanya menyadarinya.
Seakan tak butuh jawaban, Bang Noe melanjutkan “Abang harus pergi ke Afrika satu tahun ke depan untuk jadi relawan kemanusiaan, sebenarnya abang sudah apply sejak setahun lalu, tapi baru diumumkan kemarin, abang merasa ini harus ditanyakan sekarang, karena…..abang yakin, ini pertanyaan penting untuk hidup abang selanjutnya”
Ranti masih merasa shock untuk kedua kalinya, masih tak tahu harus berkata apa
“Abang tak berharap banyak, mungkin tak adil, meminta padamu sekarang dan sekaligus meninggalkanmu, abang hanya merasa ini tak bisa ditunda lagi”
“Lalu…apa yang jadi keinginan abang selanjutnya “ Ranti akhirnya sanggup bertanya meskipun merasa suaranya bergetar
“Tunggu abang kalau adek bersedia…….setahun memang waktu yang lama, tapi abang hanya merasa inilah yang paling tepat ”
Ranti tak sanggup berkata lagi, seluruh mulutnya terkunci …..
“Dek Ranti juga masih setahun lagi kan sebelum lulus, jika dek Ranti bersedia, abang tak memaksa bila harapan abang tak jadi kenyataan….”
Ranti ……tak pernah tahu apa artinya cinta, bahkan Ranti tak pernah mengejanya selain untuk ayah dan bunda, Ranti juga tak tahu apa yang dirasakannya pada lelaki yang duduk disampingnya kini.

Suatu masa akan datang seseorang yang kau tak kuasa menolaknya memasuki hatimu, dia datang bersama angin, dia datang bersama mimpi, dia datang bersama keresahan, dalam kecemasan, dalam teka-teki,dalam rindu yang tak tertahan
Kau bahkan tak perlu mengeja kata cinta terlalu rumit, karena ia sangat sederhana
ia memasuki tiap jengkal aliran darah kita, seketika terucap tanpa perlu daya upaya, dan ketika takdir cinta memilihmu, bahka kau tak punya kosa kata “tidak” untuk menolaknya…..

Mereka masih duduk disana tanpa kata , hingga adzan maghrib berkumandang, dan senja itu di mata Ranti entah mengapa seperti Surga……………..
***
Satu tahun Bang Noe di Afrika, hanya seminggu sekali mengirim kabar, tentang sulitnya medan, anak-anak yang kelaparan, kasus-kasus gizi buruk, dan tentang apa saja.
Sampai suatu hari, masih dalam hitungan bulan sebelum waktu Bang Noe pulang, tiba-tiba email siang itu membawa kabar buruk
“Abang terpaksa pulang cepet dek, ada kelainan di jantung abang, dan sepertinya hanya bisa diatasi dengan operasi, paling cepat 1 minggu lagi abang tiba di jakarta”
Dalam satu minggu Ranti gelisah, hingga pesawat yang membawa Bang Noe tiba. Ranti tak percaya, Bang Noe sangat berubah, bertambah kurus, wajahnya makin tirus, tapi mata itu tidak berubah, Bang Noe tetap Bang Noe yang dulu. Yang selalu bisa membuat sudut hati Ranti bergetar ………..
Dokter di Jakarta mendiagnosa dua katup mitral jantung Bang Noe sudah tak tertolong, yang ketika di Afrika masih terdeteksi hanya satu katup rusak, dan hanya operasi pergantian katup yang bisa menolongnya, dengan katup mekanik atau katup alami dari babi, itupun dengan kemungkinan berhasil sangat tipis. Tentu saja pilihan pertama yang dipilih Bang Noe. Ranti menunggu semua proses yang dijalani Bang Noe dengan selaksa doa yang melangit di sepanjang waktu. Yang ada hanya harapan agar semua baik-baik saja.
Operasi berhasil, keadaan Bang Noe lebih baik. Setelah beberapa bulan pemulihan dan nasehat dokter tentang apa yang do n don’t, Bang Noe hampir kembali pulih seperti dulu. Beberapa hal yang berubah adalah Bang Noe labih banyak termenung, namun cahaya matanya masih seperti pertama kali Ranti melihat. Bang Noe masih semangat, dia tak putus asa meskipun katup jantungnya tak lagi sekuat yang Allah berikan di waktu menciptakannya.
Mereka masih sering menghabiskan waktu sore di danau, melihat riak lembut air danau yang hijau, sesekali menikmati gerimis dan hujan disana. Ranti kini membantu praktik pribadi Bang Noe di klinik, memastikan Bang Noe tidak terlalu lelah dan berpikir keras yang akan membahayakan jantungnya.
Tahun kedua setelah Bang Noe melamarnya dulu, entah kenapa kondisi Bang Noe semakin melemah, seringkali Bang Noe jatuh pingsan, atau tiba-tiba berhalusinasi melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Pernah suatu ketika Bang Noe datang dengan taksi dari sebuah seminar di hotel dalam keadaan pingsan, ternyata kata sopir taksi, Bang Noe tiba-tiba masuk dan mengangsurkan KTP-nya agar diantar ke alamat yang ada di KTP, sementara mobilnya ia tinggal di hotel. Ketika sadar Bang Noe bahkan tak ingat apa yang sudah dilakukan sebelumnya. Keluarga dan Ranti kini semakin ketat menjaga dan menemani kemanapun Bang Noe pergi. Dokter yang memeriksa memastikan bahwa Bang Noe tak boleh sekalipun dibebani dengan pekerjaan dan pikiran berat, sesuatu yang semua tahu tak bisa dilakukan Bang Noe.
Hingga pada suatu hari, ……
Bang Noe meminta bertemu di danau
Ranti datang lebih dulu, menunggu Bang Noe dengan cemas.
Tak berapa lama Bang Noe datang, tak berkata apapun. Ranti menahan diri untuk tak bertanya, ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan Bang Noe, namun Ranti tak mau menebak tentang apa.
“Tik..tik… Tik..tik” suara degup jantung mekanik Bang Noe mengisi kesenyapan antara mereka berdua, katup jantung itu menemani Bang Noe hampir setahun ini.
“Dek….Abang merasa….abang tak akan mampu bertahan lebih lama” suara Bang Noe memang pelan ketika mengucapkannya, namun bagi Ranti lebih mengagetkan dari apapun.
“Abang jangan pernah berpikir seperti itu”
“Abang juga dokter dek, abang tahu ini tak akan bertahan lama, abang sering merasa dia tak mampu………”
“Abang memang dokter, tapi bukan Tuhan” Kalimat Ranti mengeras
“Memang bukan…tapi abang mengerti kondisi abang”
“Itu bukan alasan untuk abang membuat Ranti menangis” kini Ranti tak bisa menahan diri, ditatapnya Bang Noe, namun lelaki itu tak bergeming, masih lurus menatap permukaan danau yang tenang.
“Abang tau, banyak hal yang tersia-sia, harusnya dek Ranti memperoleh yang lebih baik” kata-kata Bang Noe selanjutnya amat memukul perasaan Ranti
“Bang…Ranti memang nggak akan pernah bisa mengukur cinta dan setia, tapi Ranti rela duduk dan menemani abang sampai kapanpun, Ranti ingin mendampingi abang hingga akhir nanti, kalaupun abang jadi pergi, setidaknya ada Ranti disana menemani” pelan kalimat itu terucap dari bibir Ranti.
“Abang tak bisa, lebih baik kita berhenti disini”
“Ranti menolak !!!, Ranti ingin Bang Noe menikahi Ranti secepatnya “ entah kenapa Ranti punya keberanian membentak Bang Noe, dan sekali ini berhasil membuat Bang Noe tersentak dan memandangnya tajam.
“Jangan bodoh, aku tahu sifat wanita, aku tak ingin membuatmu bersedih dan menderita”
“Tau apa abang tentang menderita … yang Ranti tahu , Ranti ingin selalu bersama abang, gak peduli apapun yang terjadi pada abang” Ranti mengucapkannya dengan tegas, biar Bang Noe tahu, Ranti benar2 mengucapkannya dengan kesungguhan.
“……………….” Bang Noe hanya memandangnya, kemudian “apakah Ranti siap menghadapi apaun ?”
“Iya…Ranti siap, dan Ranti tahu konsekuensinya, biarlah Allah yang memutuskan untuk kita”

Dan bahkan engkau tak perlu mengucapkan cinta dalam bahasa yang begitu rupa
Karena hati telah sama-sama mengerti
Apa yang diinginkannya………

Satu bulan kemudian, pernikahan mereka berlangsung dengan mewah, sebenarnya Ranti ingin ini sederhana, namun kedua orang tua mereka punya banyak kolega, ya…bagaimana lagi, bukankah semua sama-sama berbahagia.
Bulan pertama bagi Ranti adalah waktu yang sangat sempurna, melayani Bang Noe sebagai istri, menyiapkan makan untuknya, menyediakan baju yang akan dipakainya ….sungguh dia merasa ini bahagia yang paling bahagia. Meskipun tinggal dengan orang tua Bang Noe, Ranti tak masalah sedikitpun, mereka tak ada bedanya dengan ayah dan bundanya. Toh ….dengan Bang Noe segala hal yang ada hanyalah keindahan.
Hingga di usia 2 bulan pernikahan mereka, Bang Noe tiba-tiba pingsan ketika mau berangkat ke klinik. Sejak saat itu Bang Noe tak sadarkan diri, dokter menyatakan ada bakteri yang menyerang jantungnya, dan jantung itu tak lagi sanggup membantu Bang Noe bertahan. Sudah seminggu Bang Noe koma, Ranti dengan setia menunggui dan tak beranjak dari sisinya, seringkali Ranti bicara, mengajaknya bercanda, meskipun tak ada respon, Ranti paham Bang Noe mengerti disana….entah dimana, Bang Noe pasti mendengarkan ceritanya seperti biasa.
Sampai suatu ketika, Ranti tiba-tiba jatuh pingsan, dokter yang memeriksanya kemudian memberikan kabar yang tak pernah disangka akan dia dengar, di dalam rahimnya telah tumbuh janin berumur 6 minggu. Ranti tak tahu harus bagaimana……dalam ingatannya tiba-tiba terlintas saat dimana Bang Noe memegang tangannya waktu itu, di malam pertama mereka “Dek…terima kasih telah bersedia menjadi bidadari abang, abang hanya ingin meminta satu hal kalau adek bersedia, sampai kondisi abang siap, bisakah kita menunda dulu untuk punya momongan ??”
“Ah…Bang Noe maafin Ranti ya , tapi Ranti yakin Bang Noe juga senang, bukankah ini anugerah Allah buat kita” pelan Ranti membisikkan kabar gembira itu di telinga Bang Noe, berharap ada senyum dari bibirnya yang tertutup masker.

Allah menulis garis takdir manusia dengan sangat adil, Tak ada yang cela
Sikap manusia ketika menerimanya yang membuat takdir itu menjadi tak lagi sempurna. Hingga ia kadang dinilai jelek dan hina
Namun…..jika kau memahami, bahwa Allah tak pernah membiarkan setetespun air mata mengalir tanpa arti, maka Dia akan memberimu damai yang tak ada batasnya.

Seminggu setelah kabar itu, Bang Noe pulang…………..pulang menuju pelukanNya. Ranti bahkan telah kehabisan air mata ketika mengiringi Bang Noe dengan lantunan doa. Calon bayi mereka, akhirnya juga tak bisa dipertahankan, Ranti terlalu lemah dan payah, hingga tak sanggup memilikinya hingga ia lahir ke dunia. Mungkin Bang Noe lebih sayang padanya dan memilih membawanya pergi. Menunggu Ranti di Surga..
********
Ranti merasa tak ada yang mengurangi kebahagiaanya sedikitpun, ia hanya ingin benar-benar memahami mengapa jalan ini memilihnya sebagai aktor utama. Ia bahagia telah mengenal Bang Noe, ia bahagia telah menemani Bang Noe dalam ikatan suci meski hanya 3 bulan, bahkan ia bahagia meskipun kini tak ada lagi Bang Noe disampingnya.
Bukankah bahagia itu dekat, ada dalam tiap hati yang bersyukur.
Berada di danau itu, menyesapi tiap detiknya, Ranti tahu bahwa rasa bahagia itu tidak akan berubah, meskipun apa yang ada disekitarnya berubah.
Itulah mengapa, ketika mama menyuruhnya menikah lagi, Ranti masih belum bisa, tidak hanya belum bisa melupakan Bang Noe_dan menurutnya Bang Noe tak akan dilupakan_, Ranti kini bahagia ……. bukan diukur dengan status pernikahan saja ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s