Ah…ketika semua jadi biasa ……

Hari bertambah gelap, mendung telah lama bergelayut di ujung langit. Hanya tinggal menunggu waktu untuk memuntahkan seluruh isinya ke bumi. Rangga bergegas menaiki tangga penyebrangan jalan. Romi dengan berat badannya yang melebihi kuota terengah-engah mengikutinya dari belakang
“Ngga ja..ngan ce..pat-cep…pat lah ….” Romi tak tahan untuk tak mengadu
“Iya…tapi apa kamu mau kehujanan disini, liat tuh mendungnya gelap banget “
“I..yya…ta…pii…aku…ca..pekk” susah payah Romi mencapai tangga terakhir ke atas jembatan’
“Iya..iya…Tuang Besar, hamba tak akan meninggalkan paduka hehe” Rangga menepuk pundak Romi sambil nyengir.
Ah..kost mereka masih 300 meter lagi, mungkinkah bisa sampai di kost sebelum hujan ??? semoga bisa. Tadi sudah terpikir untuk membawa jas hujan, tapi karena menurut perkiraan mereka akan telat, tergesa-gesa membuat melupakan semua yang telah terencana. Akhirnya hujan yang 3 hari terakhir menyiram kota Depok datang lagi hari ini.
“Eh…aduh…” Romi agak limbung, badannya yang besar telah menabrak sesuatu
“Aduuh…” suara lain menyahut dari bawah kaki mereka
“Astaghfirullahhaladzhiiim….” Kontan Rangga terkejut, di bawah kaki mereka ternyata ada anak lelaki yang terbaring tanpa baju. Tak kelihatan dengan jelas karena memang lalu lalang orang yang padat di jembatan penyebrangan ini.
Hanya sekilas anak itu menoleh, lalu kembali berbaring dengan cueknya. Gelas plastik di depannya kosong, mungkin memang tak ada isi sejak pagi atau entahlah…..
Sambil menghela nafas Rangga kembali bergegas, ditolehnya Romi yang mengikutinya di belakang. Teringat percakapan mereka 3 minggu yang lalu saat pertama kali melihat anak lelaki itu di tempat yang sama.
“gak ada uang receh Rom ?” Rangga menoleh kepada sahabatnya
“Buat apaan ?” Romi merogoh sakunya
“Tuh…kasian anak itu, aku lupa gak bawa dompet nih” Rangga menyahut sambil menunjuk anak lelaki yang duduk bertelanjang dada di jembatan penyebrangan. Di depannya teronggok gelas plastik untuk menampung recehan atau kalau beruntung lembaran uang dari dermawan yang lewat. Dia tidak meminta dengan kata-kata, hanya pandangan mata yang nanar dan tangan menengadah yang menjadi isyarat.
“Udahlah Ngga, buat apa sih kasih anak itu sedekah, liat kan….orang lain aja cuek” kata Romi ketika itu
“makanya, ketika yang lain cuek, maka tugas kita untuk memberi perhatian”sahut Rangga sambil tersenyum
“ini masih sekali kawan, nanti kita akan lewat jembatan ini tiap hari, apa kamu bakalan ngasih tiap hari ?” Romi bertanya ketika telah beberapa langkah menjauhi tempat itu
“ya nggak juga sih, tapi nggak ada salahnya juga kalau ada rejeki ya bagi buat anak itu juga”
“Tapi kalau tiap hari ??? nggak mendidik lah Ngga. Sebaiknya cuekin aja, toh kita nggak mungkin kasih ke dia tiap hari, hemat men…”
“Bukankah kita nggak perlu menjadi kaya dulu untuk bersedekah sobat “ Rangga menoleh ke Romi yang terengah di belakangnya. Rangga memang harus sering bertoleransi karena Romi agak kelebihan berat badan 
“Tapi kalau di sini, ini udah biasa Ngga, udah kayak makanan tiap hari. Dicuekin aja juga nggak pa-pa kok, bukan masalah pahala atau dosa kalau nggak kasih ke mereka”
“Hmmm…. udah biasa ya ??”
Rangga masih memikirkan kalimat itu sampai sekarang, mungkin ada benarnya. Beberapa minggu lalu dia sangat bersimpati, bahkan menyempatkan diri menyiapkan receh dalam saku untuk anak itu. Tapi kesibukan kuliah, ketika tergesa sudah menjadi biasa. Maka melewati jembatan itu untuk kesekian kalinya, Rangga bahkan mulai merasakan kehadiran anak itu mulai pantas diabaikan. Langkah-langkah yang memburu dan lalu lalang orang yang padat membuat jejaknya tak terlihat. Dan Rangga sudah mulai terbiasa, iba itu sedikit-demi sedikit telah terkikis.
Dan saat kejadian tadi, ketika matanya kembali bersibobrok dengan mata sayu itu, Rangga masih merasa iba tak lagi menyentuh hatinya, apakah dia sudah terbiasa ??? Rangga menyimpan pertanyaan itu untuk dirinya sendiri.

*****
Hari ini ada proyek dari dosen yang harus Rangga kerjakan di lapangan. Survey perilaku masyarakat di bantaran kali sungai Ciliwung. Setelah naik KRL Depok-Jakarta yang penuh sesak tiap pagi, sampailah ia di tempat tujuan.
Sungai Ciliwung lebih mirip selokan, mampet dan hitam, apalagi baunya sungguh sangat menyengat. Rangga mengambil kamera dari tasnya, untuk beberapa menit ia telah asyik mendokumentasikan pemandangan sekitar Ciliwung.
Tak berapa jauh dari tempatnya berdiri, ada kerumunan orang sedang berdiri di tepi sungai. Dua orang diantaranya memegang galah bambu dan seperti sedang mendorong sesuatu di sungai, bergegas Rangga menghampiri mereka. Beberapa meter dari mereka, bau yang sangat menyengat ia rasakan. Seperti bau bangkai…..spontan Rangga menutup hidungnya dengan slayer.
Ketika telah agak dekat, ditajamkannya pandangan mata ke arah sungai, sesuatu mengapung disana, benda yang didorong para lelaki itu ke sungai. Beberapa saat selanjutnya Rangga mulai mengerti, sesuatu dari lambungnya seperti terdorong keluar. Dia benar-benar ingin muntah ketika menyadari apa sesungguhnya benda itu. Ya Allah……itu adalah mayat, benar-benar mayat. Rangga dengan jelas melihat bentuk tangannya tadi. Ketika gejolak perutnya sudah agak reda, perlahan Rangga menghampiri kerumunan itu .
“Ada apa pak ?” Rangga bertanya pada salah satu Bapak yang berdiri di bagian belakang
“Oh…ntu ada mayat,lagi di dorong tuh ma orang-orang”
‘Loh….kok malah dihanyutkan, bukannya diangkat ya pak ?”
“Ngapain diangkat? Bikin susah, lagian udah bau, kagak ada yang mau ngangkat, dihanyutkan aja”
“Kok gak lapor polisi pak?”
“Ngapain, tambah ribet lagi ntar, disini udah sering begitu dek, mungkin gelandangan yang hanyut atau korban pembunuhan, jadi daripada nyusahin, mending dihayutin lagi kesono, udah biasa begitu “
“Astaghfirullah haladzhiiim….” Rangga merasa harus pergi secepatnya untuk menenangkan diri.
Kembali kata “biasa” itu diucapkan disini. Padahal jelas-jelas tadi yang mereka perlakukan seperti bangkai ayam itu adalah jenazah manusia. Rangga tak bisa membayangkan, bahwa jenazah tersebut tak dikuburkan dengan layak, bahkan diperlakukan layaknya bangkai hewan. Itu sudah biasa…ah…sakti sekali kata itu.
Rangga masih tak habis pikir, mengapa kebiasaan bisa menjadikan sesuatu yang awalnya tak wajar menjadi wajar. Bahkan menjadikan manusia tak hanya kehilangan simpati, tapi juga menghilangkan rasa hormat pada sesama.

Dia takut, hatinya juga mulai terkena wabah “biasa” hingga tak lagi peka…..

“Ya Allah hindarkan hamba dari sifat yang tak terpuji, peliharalah rasa welas asih dalam hati hamba, berikanlah jalan penerang agar hamba tak tersesat dalam melangkahkan kaki ini, aamiin”
Pelan Rangga berdoa setelah sujud panjangnya dhuhur ini.

** di penghujung senja dalam usaha makin dekat denganMu

2 thoughts on “Ah…ketika semua jadi biasa ……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s