iNI tENTANG sAHaBat #2

setelah bertempur dengan imajinasi *yg agak nyleneh, akhirnya melanjutkan bagian dari  sebelumnya https://azzahra5.wordpress.com/2011/06/14/ini-ttg-sahabat-cerpen/

judulnya ??? masih blank tuh😀

***

Malam itu …. bulan menggantung penuh di langit.  

“Kau bukanlah pilihan Rindu, tapi keputusan …” Rio mengucapkannya dengan yakin.

 

Rindu terdiam, hatinya masih ragu menjawab permintaan Rio yang tiba-tiba. Menikah bukanlah sesuatu yang harus ditunda bagi wanita seumuran Rindu, namun dengan Rio ?? Sungguh Rindu tak pernah sekalipun memikirkannya.

 

Jus di gelasnya telah kosong sejak tadi, namun mereka masih bertahan dalam kebisuan. Rio dengan kecamuk pikirannya sendiri, menerka-nerka apa jawaban Rindu, sedangkan wanita di depannya belum berucap sepatah katapun.

“Ah……. Rabbi, aku berserah pada apapun yang akan Kau putuskan untukku” Rio bergumam dalam hati.

“Sebenarnya ……..”kalimat itu menggantung di bibir Rindu.

Rio menunggu kelanjutannya, namun Rindu kembali menunduk. Tangannya meraih gelas jus yg telah kosong, mengaduk-aduk isinya meskipun tak perlu. Ah…..Rio tak sabar.

“Apa ? … aku siap menerima jawaban apapun, atau ………..tidak sekarang juga tidak apa-apa” sekilas ditatapnya wanita ini. Mereka sudah saling kenal dan berteman dekat selama 9 tahun, namun baru kali ini Rio berani megutarakan niat itu setelah sekian lama.

 

“Ini bukan sesuatu yang aku duga Rio ……. , ini bukan yang pertama, kau pasti tahu mengapa hal itu tidaklah menjadi hal yang terakhir” Rindu menarik nafas panjang, sukar baginya untuk menjelaskan sesuatu yang tengah mengaduk-aduk perasaannya.

“Aku tidak tahu …. tapi aku mengerti” Rio tersenyum, “tapi apakah itu berarti aku tak boleh meminta? “

“Bukan begitu,…….tapi ……… bisakah …kau beri aku kesempatan waktu, agar hatiku tak lagi ragu”

“Pasti, aku paham, ada waktu untuk memutuskan, tapi harus kau tahu, kau adalah jawaban dari doa-doaku, adakah yang lebih baik dari pilihan Allah untukku ? “

“InsyaAllah, Dia akan memberikan jawaban yang sama untukku, hanya saja aku butuh waktu untuk berpikir” Rindu menelan ludah, untuk kesekian kalinya hatinya mengaduh, betapa rapuh ia karena tersentuh rasa yang tak semestinya ada. Bukankah Allah sudah pernah memperingatkannya dulu, ketika ia telah lalai tak menyerahkan semua keputusan dan harapan padaNya semata.

 

“Bisakah ku antar pulang ? tak nyaman membiarkanmu pulang sendirian … kalau kau mengijinkan. Aku juga ingin bertemu Bunda “ Kalimat itu mengambang di mulut Rio. Mereka telah sampai di pintu lobi Restoran tempat mereka bertemu. Sudah larut malam, mengantar Rindu pulang selarut ini baginya kewajiban, namun ia tahu hanya Rindu yang berhak memberi keputusan.

“Tidak apa, masih pukul 10, nanti akan kusampaikan salam pada Bunda, beliau pasti mengerti. Mungkin lain kali, kalau kau bersedia mampir kerumah”

 

Rindu masih seperti dulu, ia tahu itu.

 

****

Dulu pernah aku berharap kepada selain-Mu

Dan aku kecewa ….

 

Kini

Semua harapku kuserahkan padaMu

Dan aku yakin

Kau memberikan yang terbaik

Untuk bahagiaku

 

Aamiin …………..

 

Tak pernah Rindu segundah ini, pertemuannya kembali dengan Rio kali ini mengusiknya. Dia memang bukan sosok baru. Persahabatan mereka telah teruji sejak 9 tahun yang lalu. Meskipun kewajiban studi membawa Rio jauh di negeri seberang, bukan berarti tak ada komunikasi diantara mereka. Teknologi yang berkembang membuat mereka masih leluasa berbincang di kala senggang, seperti saat kuliah dulu. Bertukar cerita tentang proyek penelitian Rindu, kuliah dan pekerjaan Rio, kabar keluarga, atau hanya saling sapa, komunikasi mereka berkembang di dunia maya, tanpa perantara. Satu bulan yang lalu Rio kembali, dan kemarin saat Rio meminta bertemu, hanya berdua….tanpa Rinta dan Beben sahabat mereka ikut serta, Rindu telah merasa akan ada sesuatu. Dan benar saja, di depannya tanpa ragu, Rio meminta ijin untuk menghadap Bunda, meminang Rindu menjadi istrinya. Dan itulah yang membuat Rindu ragu, siapkah ia ? adakah kejadian dulu terulang kembali ? Rindu tak bisa memungkiri, bahwa ini saatnya, namun tetap saja masih ada satu ketakutan yang menghantui pikirannya.

Ah …. kalau soal rasa, Rindu percaya bahwa Allah memberikan rasa itu untuk semuanya. Rindu hanya perlu menyuburkan benih tersebut selama ia bersama seseorang yang akhirnya Allah kirimkan untuknya.

“Tok…tok……” ketukan pintu menyadarkan Rindu.

“Rindu …. sudah tidur ??” pelan suara Bunda di luar kamar.

“Tidak Bunda, Rindu baru selesai shalat” bergegas dibukanya pintu untuk Bunda.

 

Mereka duduk di pembaringan, dua orang wanita yang dipersatukan ikatan darah dan kasih sayang. Rindu tahu, dia satu-satunya permata Bunda. Apapun yang membuat Rindu bahagia, akan membuat Bunda bahagia. Dan Rindu ingin Bundanya selalu bahagia.

 “Bunda tahu ….. segala sesuatu yang telah terjadi  membuatmu lupa pada satu hal sayang, bahwa tak ada satupun masa lalu yang akan mengganggu masa depan. Masa lalu memang memberikan jejak, namun ia tidak diciptakan untuk menghalangi masa depan. Kau telah banyak belajar dari pengalaman bukan ??, atau …apakah kau masih menyimpan luka itu sedemikian dalam ? “ Bunda menatapnya lembut.

“Sejujurnya Rindu telah menguburnya dalam-dalam Bunda, tapi …. Rindu merasa ketakutan itu muncul tiap kali Rindu ingin melangkah maju, Rindu tidak ingin keputusan yang Rindu buat nantinya hanya berdasarkan ketergesaan saja, hanya karena Rindu dikejar usia, dan sekali lagi …. Rindu tak ingin lagi kecewa, ketika seorang sahabat baik pergi karena kesalahan yang sama ”

“Kalian adalah teman baik, Rio dan Bisma juga adalah sahabat baik. Bunda memahami akan sulit bagimu menjalani semua ini nanti. Apakah Rio tahu tentang Bisma? “ Bunda menyelidik

“Tidak Bunda, Rindu rasa dia tak usah tahu. Rindu sudah menganggap Bisma tak lagi ada dalam kisah Rindu”

 “Bunda rasa kau telah mengerti, tak baik juga menyimpan dendam. Bunda juga sangat kecewa dengannya, namun Bunda yakin kau akan mendapat yang terbaik dan yang paling pantas daripada Bisma”

“Pasti Bunda…..terima kasih”  

“Rio telah bertemu dan berbicara dengan Bunda ….. Bunda melihat ketulusan dari wajahnya, kebenaran dari kata-katanya. Tapi … keputusan mutlak tetap ada di tanganmu. Kau yang lebih mengenal Rio lebih dari Bunda. Jangan lupa, Allah tak pernah tidur untuk kau mintai pendapat dan bantuan sayang, tidurlah…selarut ini lebih baik cepat istirahat”

“Iya Bunda, Bunda juga istirahat ya”

 

Ah….hidup tak pernah serumit ini kan Tuhan ???

Bukankah Kau berikan semua hambaMu pilihan

Dan tiap pilihan yang Kau berikan adalah pilihan baik

Salah satunya adalah yang terbaik

Bantulah aku..

Mensyukuri tiap karuniaMu

Menyabarkan diri tiap ujianMu

Dan memastikan diri untuk tetap memasrahkan hati hanya kepadaMu

 

****

Pelan dilihatnya tampilan wajah dalam cermin itu, wajah yang amat ia kenal. Namun sekarang…..tampak lain dari yang biasanya. Bunda bilang  ia tambah cantik akhir-akhir ini. Rindu selalu tersipu kalau Bunda sudah menggodanya begitu. Ah….setengah jam lagi, Rio dan keluarganya akan datang. Bunda juga tadi dilihatnya telah siap di ruang tamu, tampak cantik seperti biasanya. Namun terlihat lebih cantik, mungkin karena Bunda hari ini juga sangat bahagia.

Rindu memang tak pernah ragu pada keputusannya, namun untuk yang satu ini, ia telah membiarkan Rio menunggu beberapa lama. Bayangan masa lalu yang pernah ia jalin dengan Bisma sedikit banyak membuat Rindu hati-hati dalam melangkah. Dan ketika memberi jawaban itu kemarin, Rindu hanya berharap ini benar-benar bantuan Allah dalam meringankan langkahnya. Dan hari ini, Rio tak menunggu lama untuk membawa kedua orang tuanya datang meminang. Maka Rindu masih terpesona, jawaban Allah memang tak segera, namun Rindu masih tak menyangka, jawaban doanya akan terjawab dengan cara yang begitu tak terduga.

“Kami kesini, meminta Rindu bersedia mendampingi anak kami Rio dalam menjalani hidupnya, tentu saja bila nak  Rindu bersedia. Oleh karena itu kami hari ini datang dengan tujuan meminang nak Rindu untuk anak kami Rio” Pak Johan ayah Rio memulai agenda formal hari ini.

Rio tampak tenang di sebelah ayahnya, sedangkan Rindu duduk di sebelah Bunda, menyaksikan acara-demi acara mereka berlangsung dengan lancar.

“Alhamdulillah…insyaAllah bulan depan akad nikah kita laksanakan” Paman selaku wakil keluarga Rindu membacakan keputusan pertemuan hari itu.

‘Alhamdulillah ….”syukur itu menyeruak ke langit.

 

Maka sejatinya …

Takdir penyatuan jiwa manusia telah ditetapkan Allah dalam rahasia

Manusia hanya diwajibkan berusaha dalam pencariannya

Dan kelak bila saatnya tiba

Ia akan terpesona, betapa takdirNya tampak begitu luar biasa

Bahkan malaikatpun turut bersyukur menyaksikan proses pencariannya

 

 

 **** 

Malam itu, bintang di langit berpendar dengan indahnya. Rio dan Rindu duduk berdua di teras Villa. Ini malam pertama mereka, bersama dengan leluasa. Setelah akad nikah dan resepsi dari pagi sampai sore, keluarga mereka sepakat memberikan waktu 4 hari agar mereka menghabiskan waktu di salah satu villa milik paman Rio di Puncak.  

“Hm….sayang..”Rio memegang tangan Rindu mesra

“sayang ??? apa nggak ada nama panggilan lain??” Rindu tersenyum geli melihat raut muka Rio ketika memanggilnya sayang untuk pertama kali.

“Gak ada, kenapa memang ?? merusak awal romantis aja nih anak” dengan gemas dipencetnya hidung Rindu yang masih tertawa.

“Iya, bolehlah, tapi aku harus adaptasi dulu, gak pa-pa kan kalau kadang aku masih belum bisa nahan tawa” dipandangnya raut muka Rio dengan seksana untuk pertama kali, hmm… lucu…., Rindu kembali tergelak.

“Parah…….gimana bisa jadi pasangan romantis kalau begini” Rio menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

“Iya cinta ….bercanda kok “ digenggamnya tangan Rio, lelaki yang telah mengisi sudut jiwanya sebagai sahabat yang baik, dan kini sebagai pilihan terbaik Allah untuk menjadi imamnya.

“Nah..gitu dong, Cinta…..dan Sayang, itulah yang membuat jiwa menemukan kedamaian saat bertemu dengan belahannya” dan Rio kini tak sungkan lagi mencium kening wanita cantik disampingnya.

 

Dan hanya jiwa-jiwa sabar

Yang cemerlang dalam keistiqomahannya

Menjemput takdir itu dengan bahagia yang membuncah ruah

Memenuhi ruang antara bumi dan langitNya

 **** 

Fiuhhh…keren yah ^^

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s