Indahnya Bertetangga

Islam telah berwasiat untuk memuliakan tetangga dan menjaga hak-haknya, bahkan Allah menyambung hak tetangga dengan ibadah dan tauhidNya serta berbuat bakti kepada kedua orang tua, anak yatim dan kerabat, sebagaimana firmanNya:

 “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (QS. An Nisaa’:36)

 

Yang disebut saudara bukan hanya mereka yang mempunyai ikatan darah dengan kita, bahkan saudara terdekat kita adalah tetangga kita, satu marga atau bukan🙂

Indahnya bertetangga, bukan hanya karena kita akhirnya tidak hidup sendiri di komplek, tapi juga karena kita bisa berkirim-kirim makanan hehehe.

Bagi saya dan keluarga, punya tetangga yang baik sangat penting , mengingat kami tinggal jauh dari keluarga besar. Jadi kalau ada keperluan, yang paling dekat untuk membantu adalah tetangga saya.

Dan saya sangat bersyukur sekali diberikan tetangga nomor satu di dunia. Kemarin waktu ibu saya sakit dan terpaksa di rawat di Rumah Sakit (dan saya sedang tidak ada di rumah) yang mengurus semuanya dari mulai menginap untuk menjaga ibu sekaligus menjaga adik di rumah ya tetangga saya.

Kenapa tetangga saya begitu baik ??? jawabannya adalah karena memang dari sananya udah baik hehe, tapi benar apa yang dianjurkan Rasulullah :

“Dari Abu Dzar beliau berkata: “Kekasihku shallallahu ‘alaihi wassalam telah berwasiat kepadaku, jika kamu memasak kuah daging maka perbanyak kuahnya kemudian lihat keluarga tetanggamu dan berikanlah sebagian kepada mereka.”

Dengan saling mengirimkan makanan atau dengan silaturrahim, maka akan mengeratkan tali persaudaraan. Awalnya saya menganggap remeh kebiasaan ibu kalau habis mudik, selalu membagi oleh-oleh kepada tetangga kami setiap pulang mudik, tapi ternyata dengan kebiasaan tersebut bisa mengeratkan ukhuwah dengan tetangga. Tak jarang ketika lebaran tiba, ibu tidak perlu membuat kue-kue lebaran buatan sendiri karena kami mendapat kiriman beberapa toples kue dari tetangga J. Seringkali rumah yang kami tinggal untuk mudik ke rumah nenek, menjadi lebih bersih ketika kami kembali, bahkan pernah suatu ketika, sudah ada pagar baru dan rumah yang belum sempat di cat sudah kembali cling dengan warna baru ketika kami kembali, siapa pelakunya ??? tetangga kami yang baik tentunya hehehe.

 

Mungkin kebiasaan saling berkirim sayur atau saling menyapa ketika sama-sama bertemu ketika menyapu halaman menjadi kebiasaan remeh yang tak diperhitungkan. Namun dari sanalah tali persaudaraan itu membentang kuat, hingga ketika tiba waktunya ia menjadi penopang bagi satu oleh yang lain, tali itu sudah menjadi kuat untuk diandalkan.

Imam Ibnu Abi Jamroh berkata: “Menjaga tetangga termasuk kesempurnaan iman. Orang jahiliyah dahulu sangat menjaga hal ini dan melaksanakan wasiat berbuat baik ini dengan memberikan beraneka ragam kebaikan sesuai kemampuan; seperti hadiyah, salam, muka manis ketika bertemu, membantu memenuhi kebutuhan mereka, menahan sebab-sebab yang mengganggu mereka dengan segala macamnya baik jasmani atau maknawi. Apalagi Rasulullahshallallahu ‘alaihi wassalam telah meniadakan iman dari orang yang selalu mengganggu tetangganya. Ini merupakan ungkapan tegas yang mengisyaratkan besarnya hak tetangga dan mengganggunya termasuk dosa besar.”

Semoga kelak saya, anda … kita menjadi saudara terbaik bagi tetangga kita, aamiin🙂

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s