Surga …..

Terasa sekali nikmatnya …….. semua makanan lezat tersedia di depan matanya. Dia tak perlu lagi menelan ludah seperti sebelum-sebelumnya. Kali ini dia bisa makan sepuasnya, anehnya berapa banyakpun makanan lezat tersebut masuk ke mulutnya, tak ada rasa kenyang sama sekali. Pizza, ayam goreng, burger, bakso, soto, es krim dan semua yang biasa dia lihat terpajang di baliho mall tersedia hanya untuknya, yah…hanya untuknya.

Restu tak lagi memikirkan Bapak yang tadi mengajaknya masuk ke rumah besar ini. Toh dia tak pernah lagi menampakkan diri setelah menyilahkannya menyantap semua makanan yang tersedia di depan meja. Bahkan, kalaupun rumah besar ini istana, harusnya ada pelayan yang hilir mudik di dalamnya. Namun Restu sama sekali tak melihat satupun, hanya dia dan Bapak itu. Bahkan Restu tak sempat bertanya siapa dia, perutnya terlalu lapar dan tak sempat memikirkan apa-apa lagi selain menyantap yang tersedia. Toh …dia bisa bertanya kalau sudah selesai nanti.

Mungkin sudah 2 jam, atau 3 jam, atau bahkan …..ah…….untuk apa memikirkan waktu ya, yang pasti Restu sudah merasa bosan makan. Lucu memang karena baru kali ini Restu bosan makan enak. Padahal entah darimana datangnya, makanan di meja makan itu tak ada habisnya seberapa banyakpun ia makan. Ia tidak kenyang, hanya bosan makan. Dan kebosanan itu membuat Restu tak lagi berselera untuk mengambil lagi. Hmm…saatnya mencari Bapak tadi dan mengucapkan terima kasih, o ya tak lupa bertanya kenapa Bapak itu baik hati memberinya makan tadi.

Restu beranjak dari kursi yang bagus itu, hahaha lucu juga kalau Restu baru menyadari bahwa kursi yang didudukinya tadi adalah sebuah kursi yang berkilauan penuh dengan permata, bahkan keramik dan hiasan ruangannya juga berkilau karena terbuat dari emas. Di dorongnya pintu besar itu, dan Restu terpana, di depannya terhampar luas kebun bungan warna-warni, baunya pun semerbak karena mereka serempak mekar bersamaan. Ada tulip, mawar, melati , anggrek dan bayak lagi jenisnya, Restu tak tau namanya satu persatu. Mungkin dia bisa membawakan Emak satu kuntum bungan mawar, boleh tidak ya Restu minta, meskipun ada rasa gak enak, sudah diberi makan gratis masak mau minta yang lain lagi.

Tapi…sebentar, ada suara air disana. Bergegas Restu menghampiri gemericik air di balik rimbunan mawar. Dan Restu terpana, di depannya ada tiga buah sungai dengan warna air yang berbeda. Stu sungai putih, satunya warna madu dan satu lagi jernih…warna paling jernih yang Restu lihat. Agak penasaran dia pergi ke sungai yang berwarna putih, dicelupkannya tangan dan diraupnya air sungai itu, hmmm bau susu, ketika dicicipi..ternyata memang susu. Tak sabar dia menuju sungai warna madu, dan memang air itu madu, sangat manis dan lezat. Hmmm….bagaimana dengan yang satunya, entahlah Restu tak bisa menggambarkan betapa segar dan nikmatnya air itu terasa di mulutnya. Dipandangnya sekeliling….sebenarnya tempat apa ini ??? Kata Emak hanya Surga yang  punya sungai dengan air susu dan anggur, tapi…kalau ini surga, masak dia sudah mati ???

Ah Emak, Restu baru ingat, dia belum pulang sejak kemarin. Dua hari ini Restu tak dapat uang, semua orang lewat di depannya dg acuh. Paling banter melihatnya dengan wajah tak tega, namun tak juga uang diberikan ke dalam gelas aqua yang Restu taruh di depan tubuhnya. Dia benar-benar tak punya baju, dan tubuhnya memang kurus kering, tapi ternyata itu tak cukup membuat orang-orang yang lalu lalang memberikan selembar atau dua lembar uang untuknya. Ah…Emak pasti cemas, siapa yang membantunya makan dan mandi kemarin ? padahal Emak kan tidak bisa melakukan sendiri, tubuhnya yang lumpuh membuat Restu-lah yang harus mencari uang untuk makan sehari-hari. Tak terasa air matanya mengalir, Restu harus pulang. Boleh tidak ya makanan di meja tadi dia bawa untuk Emak ?? Tapi kemana harus dicarinya Bapak tadi ??

Restu memutar tubuhnya, tapi tak dilihatnya lagi Rumah besar tempat ia makan tadi, yang ada hanya hamparan bunga warna-warni. Diuceknya mata, mengharap air mata tak mengganggu penglihatannya, tapi tetap saja rumah besar itu te;lah hilang. Jantungnya kini mulai berdegup kencang, apa yang terjadi ?? dia harus pulang. Tapi kemana arahnya ??? mana jalannya ???

Restu berlari ….. tak dipedulikannya duri mawar menggores tubuhnya. Tapi sejauh apapun dia berlari, tak ada satupun jalan keluar. Tubuhnya telah letih, jiwanya telah lelah memikirkan Emak. Dan Restu menyerah, dibiarkannya hujan yang turun tiba-tiba mengguyur tubuhnya, dipejamkannya matanya, berharap semua hanya mimpi, ia ingin bertemu kembali dengan Emak. Meskipun disini bisa makan enak, tapi tak ada artinya kalau dia harus berpisah dengan Emak.

Beberapa lama kemudian, dirasakannya dingin mulai mengigit tubuhnya. Suara yang tak asing mampir di telinganya. Bising yang biasa. Pelan ia membuka matanya. Agak samar tampak gelas aqua di depannya. Beberapa receh telah mengisi ruang gelas itu. Kaki-kaki berseliweran di depannya, dan dingin ini masih mengginggit tubuhnya. ah..ternyata hanya mimpi, tapi Restu tak bisa bangun lagi, mungkin disana lebih baik, mungkin Emak juga bisa menyusulnya. Kalau dia bertemu dengan Bapak itu lagi, Restu akan memberanikan diri agar dia juga bisamengajak Emaknya ikut serta. Dingin…..dan mata  Restu terpejam lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s