Ketika Hanya Lisan Kita Yang Berkehendak

“ Allahu Akbar………… Allahu  Akbar”

Asyhadu alla ilaha illallah  ………… Asyhadu alla ilaha illallah  “

Suara adzan itu menggema di ruang 13  Rumah Sakit Saiful Anwar Malang, saya dan perawat yang sedang berjaga sontak kaget dan mencari asal suara. Jam masih menunjukkan angka 2 dini hari, tidak mungkin adzan berasal dari masjid Rumah Sakit. Benar saja……ternyata suara adzan tersebut berasal dari salah seorang pasien yang sedang dirawat karena cedera kepala berat dan dalam keadaan koma sejak 3 hari yang lalu.Kami langsung berlari ke arah pasien dengan keheranan mengingat kondisi pasien saat itu masih dalam kondisi tidak sadar.

“Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah ………… Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah

Hayya ‘alash sholah  ………… Hayya ‘alash sholah

Hayya ‘alal falah  ………….. Hayya ‘alal falah

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Lailaha ilallah ………………”

Suara Adzan itu berkumandang dengan lantang dan lengkap sampai akhir. Dan ajaibnya psien tersebut adzan dalam kondisi yang masih tidak sadarkan diri. Kami yang berkumpul di dekat ranjang pasien langsung bertakbir “ Allahu Akbar……Subhanallah”. Salah seorang kawan saya langsung memeriksa tekanan darah dan nadi pasien, semua masih normal, namun GCS yang menjadi tolak ukur tingkat kesadaran pasien masih rendah, yang artinya pasien tersebut masih dalam keadaan koma.

“Subhanallah ya dek…., baru kali ini saya melihat pasien disini adzan, biasanya sih mereka teriak-teriak nggak karuan. Dalam beberapa keadaan memang pasien yang mengalami cedera kepala berat mengalami penurunan kesadaran namun masih bisa mengerang dan menggumamkan kata-kata yang tidak jelas” kata pak Yadi, salah seorang perawat senior,  yang masih mendampingi kami di dekat pasien.

“ Iya ya pak. Kebanyakan pasien disini, dengan keadaan yang sama biasanya menggumam tidak jelas, atau malah yang keluar dari mulutnya berupa makian” Rani kawan saya menimpali.

“ Sebagian besar malah yang kami lihat seringkali memaki dengan kalimat yang buruk….. apakah mungkin itu adalah sesuatu yang biasa mereka katakan dan masih bisa diungkapkan walau dalam keadaan tidak sadar? ” tanya saya

“Itulah uniknya memori manusia. Otak mereka menyimpan semua hal yang terjadi selama hidup mereka, pasien-pasien seperti ini, kadang masih bisa mengeluarkan suara meskipun bukan berupa kalimat lengkap, dan biasanya yang keluar dari mulut mereka adalah apa yang terekam dalam memori mereka. Apabila mereka terbiasa dengan kalimat buruk, maka yang terucap tanpa sadar adalah kalimat-kalimat buruk dan sebaliknya kalau mereka terbiasa berkata baik. Seringkali kami bisa menilai watak pasien-pasien disini hanya dengan mendengar apa yang mereka katakan dalam keadaan koma. Dan biasanya yang sering mengeluarkan kata-kata tidak sopan dan mengumpat adalah anak-anak muda yang ternyata meman suka melawan orang tuanya. Tapi terus terang baru kali ini saya melihat ada pasien adzan lengkap dari awal sampai akhir”

“Subhanallah……apakah mungkin beliau adalah muadzin ya pak ?” Leni bertanya dengan takjub

“Mungkin saja , coba besok kita tanyakan pada keluarganya, ayo ambil sahur , keburu imsak” ujar  Pak Yadi mengakhiri pembicaraan.

“Iya pak silahkan, kami sudah ambil tadi”

Setelah pak Yadi pergi, kami bertiga masih berada di dekat si pasien untuk memonitor perkembangannya.

“Hebat ya dia. Waktu adzan tadi gilaaaa !!!!……suaranya kenceng banget, giliran udah selesai, mak bleg…..koma lagi, dicubit juga gak respon” kata Rani

“Iya emang hebat. Tapi gak usah ngliatin dia kayak gitu, ntar naksir lagi hehehe” saya menggodanya

“Ih apaan sih , tapi …. Aku kagum lo sama dia, coba bandingin ma pasien-pasien yang lain yang seumuran, mereka biasanya malah memaki-maki gak karuan”

“Iya, mungkin Allah mengingatkan kita juga Ran, seringkali kita gak sadar sudah lalai menjaga lisan kita dari kata-kata yang tidak berguna, padahal Allah sudah mengingatkan bahwa kelak, anggota tubuh kita akan dimintai pertanggung jawabannya “ teman saya Leni menyambung

“Maksudnya …??” Rani masih gak ngeh rupanya

“Ya itu tadi, dalam keadaan sadar, apa yang kita ucapkan adalah apa yang kita pikirkan. Artinya otak kita mengendalikan apa yang akan kita keluarkan dari lisan kita. Kita masih bisa mengerem atau bahkan berpikir ulang apakah kalimat itu baik untuk diucapkan atau tidak. Tapi disini kita bisa melihat, meskipun dalam kondisi tidak sadar, ketika otak kita tak lagi memegang kendali atas diri kita, lisan tetaplah mampu berbicara diluar kendali pikiran kita. Nah bukankah apa yang terjadi esok kurang lebih sama seperti itu ? Tangan, kaki, atau anggota tubuh kita yang lain mampu bercerita meskipun Allah membekap akal pikir kita, karena apapun yang kita lakukan sudah Allah catat sebagai pertanggung jawaban mereka sendiri”

“Subhanallah…..iya ya, astaghfirullah haladzhiiim….semoga Allah selalu menjaga diri kita, lisan kita, dan anggota badan kita dari perbuatan yang tidak benar…aamiin” Kami mengamini doa Rani

“Udah yuk, kita sahur dulu” kata Leni sambil menggandeng tangan kami.

“Baik ustadzah Leni !! “ kata Rani yang diakhiri suara mengaduh karena tangan Leni sudah keburu mencubit pundaknya.

*****

Kami masih penasaran dengan pasien tersebut, sehingga keesokan harinya kami menyempatkan waktu bertanya pada salah satu kerabat dari pasien.

Benarlah dugaan kami , ketika kami tanyakan kepada kakak si pasien, ternyata dia memang sering dimintai bantuan untuk menjadi muadzin di surau dekat rumahnya sejak kecil. Selain itu di kampung, dia terkenal sebagai anak rajin dan tak pernah neko-neko, seorang anak yatim penurut yang bekerja sebagai penjaga toko di salah satu pusat perbelanjaan. Dia tertabrak mobil ketika akan bekerja hingga dilarikan ke Rumah Sakit ini.

****

Subhanallah….saya sadar, itulah hadiah yang diberikan Allah di Ramadhan saat itu. Terus terang, pertama kali saya dan teman-teman merasa Ramdhan itu adalah Ramadhan  yang tidak menyenangkan, tidak ada waktu berkumpul dengan keluarga seperti tahun-tahun lalu. Malah harus kami lewati dengan tugas bertumpuk di Rumah Sakit. Tapi saat itu, kami merasa Allah menegur kami, bahwa dalam kondisi sehat, menjalani Ramadhan adalah berkah dibandingkan dengan orang lain yang melewatkan Ramdhan dalam kondisi sakit.

Tak hanya menegur, Allah juga memperlihatkan sebuah pelajaran yang berharga. Menjaga lisan kadang menjadi hal sepele yang kita abaikan, semoga  moment Ramadhan menjadi waktu terbaik untuk belajar menjaga yang terucap dan yang terlintas dalam pikiran kita. Karena dengannya Allah akan menjaga kita dengan sebaik-baik penjagaan baik saat tersadar ataupun tidak. Apabila di bulan Ramadhan kita telah belajar menjaga tutur kata yang baik, maka jadikanlah kebiasaan itu melekat hingga terjaga lisan kita sampai akhir nanti. Hanya Allahlah sebaik-baik penjaga. J

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s