Sejumput Rindu Untukmu


Hujan menumpahkan seluruh rasa ke bumi. Deras dan tak ada jeda. Begitupun dengan air mata Kinan. Awalnya dia tahan, tak ingin kedua anaknya ketika pulang nanti menemui matanya yang sembab. Ah…tapi rindu ini terasa benar tajam menusuk jiwanya. Entah dengan apa lagi dia ungkapkan perih itu. Yang dia tahu, untuk inilah Tuhan menciptakan air mata untuk wanita seperti dia.

Sejenak tadi, saat dilihatnya wajah teguh yang tergantung di dinding kamar. Kinan teringat Mas Pram. Awalnya Kinan hanya ingin mengenang Mas Pram. Hanya ingin memandang wajahnya. Hanya ingin menghabiskan sepinya. Hanya ingin ……… Kinan rindu padanya.

Penghabisan tahun ke-4 Mas Pram pergi, namun Kinan masih merasa luka itu baru ditorehkan dalam jiwanya. Bukankah tepat pada hari ini, 4 tahun yang lalu Kinan masih bisa melihat Mas Pram tersenyum padanya , meskipun saat itu wajah Mas Pram semakin tirus. Waktu itu dia bahagia, Kinan melihat wajahnya sangat cerah bercahaya. Mas Pram juga sudah mulai banyak makannya. Bubur yang tadi pagi dia buatkan dimakan habis. Sejak tumor limpha menggerogoti tubuhnya 1 tahun ini, Mas Pram memang banyak berubah. Badannya lebih kurus, makannya sudah tak bisa seperti biasanya. Mas Pram harus mengkonsumsi bubur dan jus, karena makanan biasa tak lagi mampu ia telan. Tak hanya itu, setiap hari ada saja obat yang harus diminum pagi , siang maupun sore. Namun Mas Pram tak pernah mengeluh, hanya ia kadang sering menyendiri. Bagi Kinan, sakit yang diderita Mas Pram tak pernah membuat Mas Pram berubah. Mas Pram tetap rajin bekerja, tetap dengan selera humornya. Bahkan dia melarang Kinan mengabarkan sakitnya kepada kolega bahkan saudaranya. Hanya kondisi fisik Mas Pram yang semakin kurus yang membuat banyak orang bertanya kenapa, dan Mas Pram hanya menjawab kalau pola dietnya berhasil dengan baik. Mas Pram juga selalu melarang Kinan menemani kontrol ke dokter. Mas Pram tidak mau Kinan juga ikut repot dan khawatir. Cukuplah Kinan repot mengurusi dua permata hatinya, begitu selalu Mas Pram menjawab saat Kinan bertanya kenapa.

Ah…. Entah kapan pengobatan Mas Pram memberikan hasil. Meskipun Mas Pram tak pernah sekalipun mengeluh. Kinan tahu, tak ada progress yang baik dari terapi yang dijalankan. Mas Pram bertambah kurus, makanan tak lagi bisa ditelannya. Kinan kini rajin membuat bubur dan jus buah agar suaminya tetap mendapat sumber energy bagi tubuhnya. Hingga sore kemarin, Mas Pram memutuskan untuk pulang ke rumah ibunda Kinan. Katanya ingin refreshing, Kinan menuruti saja apa kehendak suaminya, toh tidak ada salahnya menghabiskan liburan disana. Kedua anak mereka juga akan senang.

Pagi itu, Mas Pram mengimami shalat shubuh dengan khusyuk, begitu pula saat Dhuha, setelah selesai shalat Mas Pram memintanya memakaikan baju yang baru dibeli sebulan yang lalu. Tampak rapi, meskipun Kinan juga bingung untuk apa Mas Pram berpakaian serapi itu.
Memangnya Mas Pram mau kemana ?” Tanya Kinan sambil membantu memakaikan kemeja biru itu untuk suaminya
Hari ini hari penentuan, aku ingin pergi” Mas Pram menjawab tanyanya dengan tersenyum
Penentuan apa ? bukankah masih besok hasil lab Rumah Sakitnya keluar, kan Eka yang ngambil. Mas Pram tunggu disini saja, tak perlu ke Rumah Sakit sendiri” Kinan masih terheran-heran dengan perilaku suaminya. Bukankah kata Mas Pram hasil pemeriksaan laboratorium suaminya di sebuah Rumah Sakit besar di Kota baru akan keluar besok, kenapa bingung sejak sekarang ? apakah Mas Pram sangat khawatir akan hasilnya ?
Nggak, hari ini keluarnya, aku akan pergi sekarang “ kata suaminya meyakinkan
Tapi Mas Pram kan masih lemah, apa gak sebaiknya besok saja?”
Iya juga, kayaknya aku ingin tidur dulu, o ya bisa tolong ambilkan air putih, aku haus”
Iya Kinan ambilkan”
Manis ya …enak rasanya” Mas Pram meminum habis air yang disodorkan Kinan.
Ah.. hanya air putih saja kok, enak bagaimana “ Tanya Kinan heran, masak air putih saja dipuji rasanya.
Oh ya, mau tilawah ya ? gimana kalau disini saja, biar Mas ikut dengerin” Kata Mas Pram kemudian
Kalau begitu Kinan ambil mukena dulu ya Mas” Kinan beranjak pergi, dilihatnya Mas Pram mulai membaringkan diri di tempat tidur, ah bajunya lupa dilepas lagi, jadi aneh melihat Mas Pram tidur dengan baju serapi itu.
Tak berapa lama, Kinan kembali ke kamar dengan membawa mukena. Dilihatnya Mas Pram sudah terlelap tidur. Wajahnya sangat tenteram, seulas senyum tipis mengembang di wajahnya. Sejenak Kinan terpaku, wajah itu adalah wajah yang sepuluh tahun menanyakan kesediaannya untuk menikah. Ah.. kenapa jadi inget-inget masa lalu begini ? Kinan cepat-cepat menggelar sajadah di samping tempat tidur. Dilihatnya lagi Mas Pram yang masih tertidur, tapi …. tanpa sadar disentuhnya wajah itu, Kinan tercekat …….. Mas Pram bukan tidur, wajah itu masih hangat, senyum itu masih hangat, namun ……….tangan Mas Pram telah dingin. Kinan tak ingin menerka …… Kinan tak ingin mencari tahu. Kinan telah tergugu, tangisnya menghilang. Dia hanya memeluk suaminya dengan erat. Kinan hanya ingin memastikan Mas Pram masih ada disampingnya. Kinan tak tahu berapa lama ia bersimpuh, Kinan juga tak tahu berapa kali ia memanggil-manggil nama Mas Pram , yang ia tahu kemudian Paklek telah membelai kepalanya dan berbisik pelan “Sabar Kinan, masmu telah pergi ….dia telah pergi dengan nyaman. Jangan khawatir, sabar ya……..”

Saat itulah Kinan sadar, bahwa dia kehilangan …………..

Kinan tak lagi tahu apa arti kesedihan saat jenazah Mas Pram dikuburkan. Yang dia tahu hanyalah tiba-tiba ada ruang kosong dalam hatinya yang tiba-tiba tercipta. Kinan tak tahu bagaimana mengisinya. Yang dia tahu, segala sesuatu menjadi kurang setiap harinya.
10 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Kinan untuk tiba-tiba melepaskan Mas Pram pergi. Terlalu banyak kenangan yang diberikan, terlalu banyak hadiah yang didapatkan, dan terlalu banyak ruang indah yang masih Kinan siapkan untuk rumah tangga mereka. Semua rencana itu…..impian itu, kepergian Mas Pram membuat Kinan tiba-tiba menjadi manusia mati dalam satu hari.

**
Butuh waktu lama bagi Kinan untuk pulih. Tak lagi menangis mengenang Mas Pram dalam sepi, tak lagi melamun mengenang kenangan yang ditinggalkan Mas Pram seorang diri. Dia sadar, Romi dan Regi, dua malaikat kecil yang dititipkan Tuhan untuk mereka masih membutuhkan cintanya. Mas Pram memang telah pergi, namun tidak cintanya.

Meskipun berat, Kinan perlahan bangkit menata kembali puing-puing kesedihannya. Kinan menyadari, Mas Pram tak begitu saja meninggalkannya. Meskipun terlambat, Kinan menyadari Mas Pram telah membuatnya siap sejak beberapa waktu yang lalu.
Ah..mengapa Kinan tak sadar bahwa Mas Pram telah memberikan isyarat saat beberapa bulan yang lalu memaksa untuk mengadakan acara aqiqah untuk anak-anak mereka. Mas Pram bahkan memaksanya membuat SIM sendiri, padahal selama ini Kinan tak pernah pergi tanpa Mas Pram. Mas Pram juga telah membelikannya sebuah jaket tebal, yang ketika Kinan bertanya dengan keheranan untuk apa, Mas Pram hanya menjawab agar Kinan tak kedinginan kalau menyetir motor sendirian. Ah…. bukankah sebuah isyarat juga telah diberikan saat Mas Pram membelikannya tanah di dekat Rumah Ibunya agar Kinan tak lagi kesepian kalau Mas Pram pergi. Kinan hanya tak pintar membaca isyarat.

Kinan bahkan tak tahu kenapa Mas Pram tak mengucapkan sepatah kata perpisahan untuknya, apakah Mas Pram sakit ? namun waktu itu, paklek mengatakan bahwa wajah Mas Pram damai, seperti tidur dan tersenyum. Kinan tahu dia tak salah melihat, Mas Pram telah meninggalkannya dalam tenang, mungkin Allah lebih sayang padanya, lebih merindukan pertemuan dengan Mas Pram, dan lebih ingin Mas Pram dekat dengannya. Kinan tahu, suaminya adalah yang terbaik yang telah Allah berikan padanya dalam 10 tahun perkawinan mereka. Itu waktu yang cukup untuknya.

MasPram tak hanya membuatnya menjadi istri yang bahagia, namun juga memberikan banyak hikmah dalam tiap saat yang mereka lewati bersama.
Kinan mengenal makna murah hati dengan melihat Mas Pram sebagai pribadi yang suka menolong dan ramah kepada sesama.
Kinan mengenal makna kasih sayang dengan melihat Mas Pram sebagai pribadi yang sangat berbakti ketika merawat ibundanya yang sakit stroke hingga akhirnya meninggal dalam pelukannya.
Kinan mengenal makna cinta kasih dengan melihat Mas Pram sebagai pribadi yang sangat bertanggung jawab dan menyayangi keluarga mereka, Mas Pram yang tak sungkan membantu mencuci popok ketika anak mereka baru lahir, Mas Pram yang tak segan memasak ketika Kinan jatuh sakit, Mas Pram yang selalu berusaha memastikan rejeki mereka halal untuk dimakan setiap hari. Mas Pram yang tak pernah letih berdongeng untuk si kecil meskipun pekerjaan menumpuk setiap hari di kantornya. Mas Pram yang lucu, yang disiplin, yang baik, yang ramah, dan yang mencintainya.
Kinan tak tahu, tak tahu apakah Allah memang punya rencana indah untuk keluarga mereka saat membawa Mas Pramnya pergi darinya…………….

Banyaknya kawan yang takziah, menggambarkan Mas Pram bukan hanya suami yang baik, namun juga manusia dan sahabat terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Kinan tahu, semua sudah cukup baginya sebagai pertanda, Allah menyayangi Mas Pram dan menjaganya disana. Sama seperti Dia menjaga Kinan dan dua anaknya disini.

**

Penghabisan tahun ke-4, Kinan tahu bahwa ini rindu. Dan Kinan tahu bahwa tak pernah ada cukup air mata untuk menumpahkan semua rasa. Biarlah … mungkin disana MasPram juga selalu menjaga mereka dari Surga.
Pelan Kinan memandang langit ….

Dan engkau wahai cinta
Bisakah kau kirimkan untukku pengobat luka
Dengan sejumput senyuman dari Surga ……………………..

***
Di penghujung malam
Saat rindu padamu membekukan perasaan
Aku mencintaimu Ayah …..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s