Karena Tak Ada Cinta Yang Terlambat

Baginya, tak perlu sebuah alasan untuk menyukai seseorang, seperti yang dia rasakan pada gadis berjilbab itu. Setidaknya sekarang, ketika dia tak mampu menjawab sebuah pertanyaan yang terus berkecamuk di dalam hatinya, “kenapa kau menyukainya re ?”

Rasa itu masih melekat di hatinya, namun sekarang menjelma menjadi sebuah belati yang tajam menusuk jiwanya, membunuhnya pelan-pelan.
Ah…seorang pria pantang mengalirkan air mata, apalagi dirinya. Tapi sebutir air mata itu turun tanpa ia bisa tahan lagi. Menguraikan semua perih yang ada, mengalahkan semua ego dan keteguhan yang selama ini coba ia bangun. Dan sama seperti yang lalu, ia juga tak tahu kenapa kini ia menjatuhkan air mata untuk gadis itu.
“Ya Rabbi, jadikanlah ini sebagai penguat bagi jiwaku, maafkan aku karena lalai mengelola cinta dalam hatiku, berikan aku keteguhan hati dalam menerima semua yang Kau berikan untuk kebaikanku, dan aku yakin Kau telah menyiapkan seseorang yang lebih baik darinya untukku, maka istiqomahkanlah aku dalam jalan kebaikan . Aamiin”

Sebuah ketukan menyadarkannya, pelan dilipatnya sajadah dan disampirkannya di pinggir tempat tidur. Wajah Mama muncul di depan pintu, tangannya memegang undangan berwarna ungu.
“Ini undangan Lia ya Re ?, wah…. Mama kayaknya titip salam aja ya, besok kan ada undangan ke kantor papa juga”
“Iya Ma, Insya Allah nanti Re sampein”
“Kamu kenapa ? kusut begitu ?” Mama mengernyit heran
“Ah.. kurang tidur aja kok Ma, dari kemarin malam jaga, trus seharian tadi praktek di Rumah Sakit”
“Oh, ya udah, sudah makan ? jangan sampai badan kamu drop lo”
“Oke mama sayang, bentar lagi, masih mau ganti baju dulu”

Undangan itu kini berada di tangannya, setelah 4 hari ini tergeletak di meja ruang tengah. Undangan yang sampai di tangannya namun tak pernah ia buka, nama calon pengantin yang tertera di sampul depan undangan itu sudah membuatnya merasakan sedih yang tak biasa. Bahkan ia tak tahu jam berapa ia diundang. Dan selama 4 hari ini ia coba mengalihkan perhatian pada kesibukan pekerjaan, hingga sebuah sms tadi sore mengusik harinya. Sebuah sms untuk mengkonfirmasi apakah ia sudah menerima undangan untuk acara besok, sms dari Lia yang sebenarnya tak pernah ia harapkan ada, sms yang belum berbalas.

Lia , nama gadis itu. Mereka adalah kawan sejak SMU. Aktivitas-aktivitas kemahasiswaan selama mereka menempuh kuliah di tempat yang sama membuat mereka sering bertemu dan berinteraksi. Tak ada yang aneh dalam intensitas interaksi yang selama ini mereka bangun. Keduanya sama-sama memahami bahwa perasaan insani itu harus dibangun pada sebuah ikatan yang berbingkai ridhoNya. Namun seiring waktu berlalu, ketika mereka tak lagi memegang amanah yang sama, komunikasi yang ada berkembang menjadi diskusi ringan masalah pekerjaan dan kadangkala kabar keluarga. Dan Re menyadari ada yang aneh dalam hatinya bila sms dari Lia masuk ke inbox-nya. Ada rasa senang yang tak biasa, namun rasa malu itu membuatnya memendam rasa itu jauh dalam lubuk hatinya. Hanya dia dan Allah saja yang tahu.
Ketika satu persatu kawannya menikah, pertanyaan kapan menyusul menjadi pertanyaan rutin untuknya, Re hanya bisa tersenyum simpul sebagai jawabannya. Orang tuanya bukanlah orang tua yang memaksakan kehendaknya dalam menentukan jalan hidup anak-anak mereka, namun ayahnya menyiratkan bahwa Re paling tidak menunggu kakaknya menikah dulu sebelum dia. Re paham, ini adalah harapan yang agung, dan selama Re bisa memenuhinya, ia akan berusaha mewujudkan harapan keluarga. Maka rasa itu menunggu, tersimpan rapat dalam hatinya, sampai satu waktu ia bisa menyatakannya dengan jelas.

Ah…tapi kabar itu terlalu menusuk jiwanya. Ia terlalu yakin pada perasaan hatinya. Terlalu yakin bahwa Lia juga menyimpan perasaan yang sama untuknya. Bukankah secara tersirat dalam komunikasi mereka, isyarat-isyarat itu menjadi pertanda yang jelas ? ataukah ini hanya permainan syetan untuk mengacaukan hatinya ? yang jelas saat ini, ia terlambat. Seorang kawan sudah mendahuluinya meminang, dan Lia, ia tahu tak punya alasan untuk menolak pinangan lelaki sholeh itu. Dan Re sadar, seorang laki-laki seperti dia harus punya kebesaran hati untuk bisa menerima bahwa ada lelaki lain yang lebih siap untuk gadis yang diam-diam disukainya.

“Ana sedih sekaligus gembira menerima undangan anti, semoga keberkahan selalu menyertai kalian berdua, insyAllah besok kalau tidak ada halangan ana akan hadir”

Sebuah nama di list phonebooknya muncul, dipencetnya tombol send untuk sms itu, ada rasa sesak dalam dadanya, semoga esok hari sudah lebih baik.

*****

“Give thanks to Allah, for the moon and the Sun….”
Gadis itu terkesiap, tangannya yang sedari tadi sibuk menata souvenir di keranjang berhenti. Matanya menatap sebuah nama di layar Hp, ah….. baru dibalas sekarang. Dipencetnya tombol ok, dan sebaris pesan muncul disana.

“Ana sedih sekaligus gembira menerima undangan anti, semoga keberkahan selalu menyertai kalian berdua, insyAllah besok kalau tidak ada halangan ana akan hadir”

Entah mengapa tiba-tiba dadanya sesak, ada perih yang muncul tiba-tiba. Adakah kuasa ia menahan air mata yang jatuh tiba-tiba ? yang ia tahu kini ia terisak sendiri. Kenapa kalimat ini harus ia terima sekarang, bukankah dari dulu ia sudah berulangkali mengirim isyarat, tapi Re terlalu lambat. Tidak…..tidak boleh. Bukankah besok adalah hari bahagianya. Hari dimana seorang lelaki baik siap untuk menjadi imamnya. Kenapa ia harus diributkan oleh hal sepele ini ?. Bukankah malam-malam kemarin Allah telah memberikan isyarat yang jelas, dan tidak boleh ia sedikitpun meragukannya. Tapi, sesak itu menghujam dadanya, pelan ia meraba pinggiran gaun putih yang akan dikenakannya besok. Semoga besok akan lebih baik.

****

Epilog :
Di satu senja, dalam sebuah kereta,
“Tika……Apakah kau percaya, bahwa kadang ada cinta yang datangnya terlambat ?”
“Maksudmu ?” Tika menoleh tak mengerti
“Saat kita sudah terikat dengan seseorang, kemudian kita menyadari bahwa kita menyukai orang lain, dan dia juga memilki rasa yang sama dengan kita” pelan Lia menjelaskan pertanyaannya
“ Hmmm…. Aku tak tahu, yang aku tahu, rasa itu wajar, hanya kita sebagai manusia diberi kemampuan untuk mengelola cinta itu dengan bijak, agar ia senantiasa berada dalam Ridho-Nya. Kau pasti mengerti, kita tak perlu mengorbankan orang lain untuk alasan mencapai kebahagiaan kita. Pastinya keputusan untuk mencintai berbanding lurus dengan kemampuan untuk mengelola cinta itu untuk kebaikan di jalanNya” Tika tersenyum, ia bisa meraba ke arah mana perbincangan mereka sore itu.
“Pastinya….aku tak ingin mengalaminya Lia, kuharap kaupun begitu. Bila hatimu ragu, hanya Allah satu-satunya tempatmu bertanya. Kau selalu punya waktu, hingga tak pernah ada kata terlambat untuk cinta”

****

Suatu saat,,,
bisa saja orang yang dulu sangat peduli itu hanya menjelma menjadi fosil dalam sejarah hidupmu.
Dan dia yang kau kira tak nyata, hadir sebagai belahan jiwa penentu masa depan. Maka bersiaplah, jangan pernah patah🙂

_Helvi Tiana Rosa_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s