Si Motor Musium ^_^

Barang museum, itulah komentar orang kalau melihatnya. Pak Satpam kantor saya dulu malah sering menertawakan saya kalau keliatan susah payah nyalain-nya “Waduh mbak, beli yang baru aja, masak kalah sama motor saya hahaha” komentarnya sambil membantu saya merayu “si motor museum” agar bisa berbunyi. Yup, Honda Astrea Prima keluaran tahun yang sama dengan tahun kelahiran saya, itulah motor peninggalan ayah saya yang hingga kini setia mengantar saya kemanapun saya pergi (kecuali kabur hehehe). Motor ini meskipun tua tapi masih lumayan nyaman dipake, sejak ayah saya memegang hak kepemilikannya, si motor memang rutin dipoles di salon eh bengkel🙂. Begitupun ketika sekarang tanggung jawab kepemilikan beralih ke ibu, juga masih agak rutin dirawat di bengkel, tapi ya karena model penampakannya yang jadul itulah yang bikin dia kadang jadi bahan olokan di kantor (bagaimana tidak, si motor keliatan mencolok di antara apitan motor-motor ngejreng keluaran terbaru yang lainnya). Meskipun begitu, saya mah enjoy aja, lha mau gimana lagi hehehe *pasrah. Uniknya, motor saya jadi aman*dari incaran maling xixixi, sering sang tukang parkir nganterin kunci ke meja saya sambil senyam-senyum mengerti*bahwa saya memang selalu lupa untuk nyabut kunci kalau parkir hehe. Kalaupun si kunci gak dianter juga, saya percaya si motor juga gak akan pergi kemana-mana🙂.
Motor ini sangat berharga karena sejarah yang dimilikinya, dari mulai yang cuman dinaiki bertiga (saya, ayah saya, dan ibu) sampai kemudian dinaiki berempat (saya, ayah saya, ibu dan adik).
Dia juga mengikuti penuh metamorphosis dunia saya , dari mulai saya SD (ayah saya membelinya waktu saya belum masuk sekolah), SMP di kota yang jauh dari rumah, SMU (ayah saya biasanya memakainya untuk nganter saya sekolah di kota ba’da shubuh setiap senin pagi *balada anak kos yang pulang tiap pekan), kuliah (ayah mengantar saya bukan lagi ba’da shubuh, terkadang shubuh-shubuh ke terminal demi mengejar jam kuliah pagi di awal pekan), sampai saya bisa menaikinya sendiri waktu ayah saya tak lagi bisa mengantar saya kemana-mana. Cerita saya akhirnya bisa menaikinya memang cerita yang mengharukan🙂. Saya baru bisa sendirian kencan dengan si motor ketika saya baru lulus kuliah. Yup….dengan terpaksa pula. Hal ini karena saya harus berangkat kerja sendirian, ketika ayah saya yang biasanya nganter kemana-mana sudah tidak ada lagi.
Dengan latihan hanya sehari *bangganya saya, akhirnya saya bisa naik motor sendiri horeeeeeeee. Sejak saat itulah dia menemani saya kemanapun saya pergi, baik panas, angin, hujan, cerah maupun mendung, saya dan dia menjadi sahabat setia. Tak jarang kadang dia jadi tempat curhatan juga waktu di jalan :p.
Ya,….Dia menyaksikan saya berubah menjadi anak yang tidak mandiri menjadi mandiri🙂
Tapi gak semua cerita tentang saya dan motor saya indah, ada satu waktu dimana saya menyakitinya hikz….. Sebuah tragedy tabrakan membuat dia kehilangan mata(spion)nya sebelah kanan, dan saya mengalami oedema di kaki sampai seminggu. Tapi untunglah saya selamat, ibu juga ikutan bahagia ketika mengetahui anak perempuan satu-satunya cuman lecet saja hehehe. Sejak saya bisa naik sepeda sendiri, memang cuman satu kali saya jatuh alias tabrakan dengan si motor ini, tapi bukan berarti saya juga cuman sekali itu ngalamin insiden. Sebagai pengendara yang berpengalaman (jatuh)…..saya juga pernah dua kali jatuh dari motor, tapi pake motor orang hehehe *bangganya. Yang satu karena nyelip akibat jalan licin (akibatnya motor teman saya yang cling jadi tergores), yang kedua akibat salah mengantisipasi turunan tajam di tikungan akhir menuju cangar (yah…yang ini motornya lumayan lecet tapi Alhamdulillah saya selamat *begitu pula penumpang yang saya bawa, saya sampai sujud syukur, motornya juga*karena dia nyungsep)

Back to motor museum, gak semua yang ngeliat dia jadi pengen ketawa, ada juga yang tertarik*kan unik. Bahkan ada seorang makelar yang nawarin buat membeli si motor ini dengan harga yang lumayan buat nambahin nuker sama baru. Tapi karena ni motor punya sejarah yang gak bisa dituker dengan apapun, maka dengan penuh kekuatan kami mempertahankannya. Bagaimanapun dia adalah warisan. Warisan dari seorang ayah yang mencintai keluarganya, warisan dari jaman yang membuat sebuah nilai perubahan. Karena yang namanya sejarah, takkan bisa tergantikan oleh apapun.

Itulah kenapa, motor ini masih ada disini. Di teras rumah , ketika siang lelah berjemur di terik matahari.🙂
.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s