Selimut Debu _Berpetualang Lewat Buku_

Bagaikan debu, khaak
Tipis dan tak terlihat
Namun dia nyata ada

Debu, atau Khaak dalam bahasa Afghanistan adalah juga berarti tanah kelahiran, tanah tumpah darah kalau bahasa kita. Menggambarkan betapa debu merupakan bagian dari kehidupan orang Afghanistan sehari-hari. Tak ada yang dapat mengelak dari debu, dia bahkan bisa menembus kain penutup kepala dan Burqa para wanita, dan menjelma menjadi bagian tak terpisahkan dari orang Afghan.

Mendengar Afghanistan, biasanya di benak kita langsung terbayang tentang perang, mujahidin, Taliban, manusia perahu (sebutan untuk para imigran gelap yang tertangkap di perairan Indonesia dalam perjalanan menuju Australia), dan Osama Bin Laden. Yup…Afghanistan kerap muncul di berita karena konflik yang melanda negeri itu, serangan bom bunuh diri dan juga karena dulu sering disebut sebagai tempat persembunyian Osama Bin Laden. Tapi siapa sangka ada surga tersembunyi disana, yang mungkin tak pernah terjamah berita dan diliput media. Dia hanya cerita yang berembus dalam dunia para petualang, menyihir mereka untuk menembus kekeringan gurun dan mencari kebenarannya. Dan dalam buku Selimut Debu Agustinus Wibowo, gambaran surga Afganistan tergambar jelas
“Itu adalah surga tersembunyi. Di peta ini bisa kau lihat. Wakhan itu disini. ……….. “Diapit Tajikistan,Cina dan Pakistan. Begitu terpencil dan terkucilkan. Sebuah surga di ujung dunia, terkunci waktu” (Selimut Debu, hal 11-12)
Kalimat dari seorang pengelana Jepang inilah, yang membuat Agustinus Wibowo mengatakan bahwa ia terinisiasi untuk pergi ke Afghanistan. Melihat gambaran surga dan membuatnya menjadi nyata dalam pandangan mata. *dalam hati saya juga ikutan ngiler hehe
Tak hanya alam bagaikan surga yang digambarkan disini, namun juga segala macam budaya, karakter penduduk, konflik dan semua hal yang paling kecil sekalipun. Membaca bukunya saja membuat saya berasa berpetualang disana, dan bikin mupeng untuk benar-benar mengunjunginya suatu ketika *bermimpi boleh kan🙂
Buku ini bukan novel, hampir sama seperti buku Geografi , tapi membacanya tidak seperti membaca sejarah, kita akan membacanya seperti membaca novel, bedanya ini adalah kisah nyata, ditulis dari kisah perjalanan seorang Agustinus Wibowo menjelajahi Afghanistan sebagai seorang Backpacker *salut karena Afghanista adalah Negara konflik, kalau mau jalan-jalan kan mending ke Swiss atau New Zealand yang kata gambar indah banget hehe
Buku ini selain menggambarkan kondisi masyarakat Afghanistan yang terdiri dari beberapa etnik, dengan kekhasan budaya masing-masing, juga menggambarkan bagaimana perang telah menghancurkan tidak hanya kemapanan dan kesejahteraan masyarakat, namun juga situs-situs budaya dunia yang tersimpan disana. Siapa sangka, Afghanistan yang saya kenal merupakan Negara muslim, adalah Negara yang mempunyai Patung Budha termegah yang pernah ada, tersembunyi di balik batu-batu cadas lembah Bamiyan. Bahkan Afghanistan sebenarnya adalah negeri suci umat Budha sedunia. Tapi….patung Budha berlapis emas dan tembaga dengan tinggi mencapai seratus kaki itu hanya tinggal kenangan, Taliban menghancurkannya karena tak mengijinkan penggambaran manusia dalam bentuk apapun.
Agustinus Wibowo dalam perjalanannya tak hanya menceritakan secara gambling mengenai kehidupan, budaya dan pandangan orang Afghan sehari-hari. Dia yang notabene merupakan non-muslim seringkali dihadapkan pada realita yang timpang. Masyarakat Afghan yang notabene sebagian besar adalah muslim (baik yang mengaku sunni atau syiah) memiliki keunikan tersendiri. Ada yang menolaknya menumpang truk hanya karena dia non-muslim. Ada yang tak memperbolehkan menggunakan alat makan karena dia seorang non-muslim, padahal dia melihat beberapa dari mereka tidak melakukan shalat meskipun mereka mengaku muslim, juga praktek tipu daya lainnya. Namun tak dapat dipungkiri, bahwa penulis sangat kagum terhadap budaya masyarakat Afghanistan yang memuliakan tamu mereka, bahkan dikatakan bahwa tamu adalah raja, bagi mereka pantang memberikan tamu mereka pada orang lain, bahkan kalau perlu akan dibela meskipun nyawa taruhannnya *oleh karena itu ada desas desus bahwa Osama Bin Laden aman tersembunyi disini karena dia adalah tamu yang dilindungi.
Realita lain yang terpampang dengan jelas adalah kondisi Afghanistan sebagai Negara yang penuh konflik. Perang telah menyebabkan banyak hal terjadi di Negara ini. Kemiskinan meneylimuti hampir tiap daerahnya. Para orang-orang cacat, wanita yang kehilangan suaminya, anak-anak yang kehilangan orang tuanya, dan tangisan kepiluan lainnya. Disisi lain, meskipun kehancuran jelas tergambar disana, namun harapan-harapan tidaklah ikut hancur. Penulis menggambarkan kondisi Rumah Sakit dan tempat rehabilitasi untuk para penyandang cacat yang para pegawainya adalah orang-orang yang cacat karena perang. Bagaimanapun hanya orang cacat yang bisa memahami dan merehabilitasi para penyandang cacat lain. Begitu juga fenomena menjamurnya lembaga social dunia yang berada di Afghanistan. Agustinus menggambarkan betapa masih lemahnya manajemen pengelolaan lembaga-lembaga social yang ada (yang sebenarnya bertujuan untuk memulihkan kondisi Negara pasca perang), banyaknya korupsi dan penyimpangan dana menjadi sebuah kenyataan miris yang dilihat disana, meskipun tetap ada orang yang benar-benar peduli diantara mereka.
Perang membuat bom bunuh diri menjadi biasa, perang membuat nyawa manusia seperti tak ada harganya. Di Kandahar (tempat paling berbahaya disini) bahkan ada satu lelucon yang dicantumkan disini *suer lucu banget, tapi miris

Pembeli : berapa harga kepala kambing ini ?
Penjual : Lima puluh Afghani
Pembeli : Lima puluh ? terlalu mahal ! Dua puluh afghani saja.
Penjual : Apa ? Dua puluh afghani ? Kamu gila ! Kamu kira ini kepala manusia ??

(hal 123)

Nah…hal lain yang digambarkan buku ini adalah tentang surganya🙂, keindahan alamnya ternyata luar biasa *bisa dilihat dari gambar-gambar yang ada di buku juga. Ternyata dibalik hamparan debu dan batu cadas, juga terhampar permadani alam yang indahnya luar biasa *itulah yang mereka sebut surga tersembunyi. Tapi juga siapa sangka, bahwa diantaranya yang cantik itulah terhampar ladang opium yang luasnya berhektar-hektar, bagi mereka tanaman opium layaknya tanaman padi aja kalau di Negara kita. Candu bagi masyarakat Afghan juga ibarat rokok kretek hehehe *miris ya. Yup…beberapa petani memang berprofesi menjadi petani opium🙂

Satu lagi fakta yang mencengangkan, lucu tapi juga menjijikkan bagi saya pribadi, adalah tentang bachabazi dan “playboy”. Apa itu ?? hmmm….lebih baik gak usah dibahas disini *jadi bikin aneh🙂
Kalau ada yang sempat baca Kite Runner *ya begitulah kira-kira

Yang pasti, buku yang saya beli 2 tahun yang lalu ini sangat asyik untuk dibaca, kita berpetualang tanpa harus pindah dari kursi *kalau anda membaca sambil duduk di kursi tentunya hehehe. Gak kalah kok sama buku petualang lain missal lima sekawan🙂
Hidup Agustinus Wibowo !!!!

nb :untuk lengkapnya liat gambar2 dan profil penulis di www.Avgustin.Net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s