Pembajakan Yang Menguntungkan Or Merugikan ?

Ngerjain tigas kuliah sudanh jadi kerjaan rutin yang nggak kenal waktu. Bayangkan, kadang mulai ba’da shubuh sudah pegang buku yang tebalnya setebal bantal(huhu..), atau browsing jurnal (hikz……), belum juga kelar biasanya dilanjutin ba’da makan, ba’da mandi, ba’da jalan2 (hehehe…) kadang tengah malampun masih saja berkutat dengan buku-buku n jurnal (hidup mahasiswa !!! )

Seperti sekarang, didepan laptop, buka fesbuk (lhooo …..*hehehe sekalian gitu), buka PR juga kok🙂. Sambil browsing jurnal berkualitas dan gratis diunduh (tapi sayang bahasa asing hikz) dan mantengin buku tebel yang juga bahasa asing (sekalinya kuliah di indonesia kok ya bukunya pake bahasa asing, berasa kuliah di negeri orang ^_^).

Nah .. yang jadi masalah sebagian besar (bahkan hampir semuanya) buku yang jadi sumber pustaka buat ngerjain tugas ini adalah ILEGAL alias BAJAKAN (saya sbenernya agak nyesel nulis ini, tapi ya….mau gimana lagi)

Masalahnya produktivitas orang-orang di negeri kita untuk nulis buku ilmiah sangat kecil dan belum bisa memenuhi kebutuhan para pencari teori, adanyapun kebanyakan adalah penerjemah untuk menyalin buku-buku asing ke dalam bahasa Indonesia, sedangkan buku yang berdasarkan hasil pemikiran mendalam dan penelitian terbaru masih sangat jarang dimunculkan. Jadi, nggak heran dong kalau kebanyakan buku-buku referensi adalah buku berbahasa asing, dan nggak heran juga dong kalau buku-buku itu harus diimpor dari negeri asing, daaaaan… nggak heran juga dong kalau harganya mahal. Dan akhirnya , back to the fact bahwa mahasiswa itu (kalau ada yang murah kenapa harus beli mahal hehehe), dan untuk memenuhi kebutuhan khusus mereka maka para “bajak buku” itupun bermunculan. Pembajakan buku ini bisa beraneka ragam jenisnya, mulai dari produksi percetakan tapi kualitasnya jelek (tulisan kabur, kertas buram, halaman kosong dsb) sampai dengan percetakan yang bukan percetakan, dan yang terakhir ini buanyak jumlahnya disekitar kampus. Mereka sebenernya adalah kios fotokopi, dari yang awalnya memfotokopi per halaman, jadi meningkat per buku, dari mulai yang hanya sebatas permintaan, meningkat menjadi “pesanan”. Dan jreng…jreng…..buku2 yang notabene “barang mewah” itupun menjadi andalan produksi yang juga banyak diminati (so sad yah ….)

Hmmm… kalau saya pribadi sebenernya kurang setuju (kalau nggak setuju berarti saya anti, kalau saya anti berarti saya nggak beli, lah kalau saya nggak beli berarti saya nggak bisa belajar eh lebih tepatnya nggak bisa ngerjain tugas ^_^). Nah.. di satu sisi, pembajakan itu sama dengan menginjak-nginjak harga diri sang penulis asli (menghina, merendahkan n nggak menghargai), tapi di satu sisi pembajakan buku utamanya buku-buku referensi akademik kini sudah menjadi hal biasa (nggak dianggap melanggar hukum). Layaknya rokok, komoditi ini menginjak-injak pasal yang biasanya ada di halaman kedua yang memuat pasal-pasal pembajakan (ironis karena jg ikut di copy) di hasil bajakannya, jadi ya lewat aja, kayak perokok yang sampe hafal peringatan bahaya merokok tapi tetep ngerokok😦.

Apalagi, buku-buku kesehatan (kedokteran dan keperawatan) kayaknya paling banyak menjadi korban pembajakan, dan saya …. bisa dikatakan menjadi penikmat korban pembajakan itu (huhu…..). Jadi nggak heran, mayoritas buku yang kami punya berasal dari kios fotokopi(gubrak …..).

Bagaimana ini ??? saya belum tahu. Yang pasti, saya masih menggunakan buku semacam itu (malah banyak, hampir semuanya). Di perpus kampus aja, bisa dihitung kok mana yang asli, bahkan mungkin jumlahnya agak berimbang sedikit antara yang asli dan fotokopi (nah..ini). Dan nggak bisa dipungkiri juga, bahwa industri bajak-membajak ini berkembang pesat di area sekeliling kampus, simbiosis mutualisme dengan mahasiswa.

Wuaaaa…. Ya Allah semoga Kau memberikan rahmat pada ilmu yang kami pelajari meskipun sebagian kami baca dari buku bajakan.
Aamiin …..

Harapan ; semoga di tahun-tahun selanjtnya pemerintah, atau siapapun itu bisa menangani masalah ini, Aamiin. (Mungkin agar kami tidak jadi korban, pembajakan hilang, tapi buku murah kami dapatkan ^_^)

NB :
akarta-RoL– Tim PMPB (Penanggulangan Masalah Pembajakan Buku) Ikapi DKI Jakarta menyebutkan sarang penjualan buku bajakan di Jakarta yang semula hanya terbatas di Senen dan Kwitang, kini semakin meluas.
“Bahkan sarang penjualan buku bajakan di Jakarta tidak hanya terbatas di sentra buku saja, namun sudah merambah ke kawasan dekat kampus,” kata Ketua Tim PMPB, HR Harry, di Jakarta, Senin (23/1).

HR Harry menyebutkan kawasan yang menjadi lokasi beredarnya buku bajakan tersebut, antara lain, Kramat, Glodok, Jatinegara, Kramat Jati, Jalan Waru, dan Bungur, serta kawasan di sekitar lingkungan kampus.

Menurut dia, khususnya di kawasan Jalan Waru diindikasikan telah mem`foto copy` buku yang kemudian diperjualbelikan sedangkan di Bungur merupakan kawasan percetakan untuk memproduksi buku bajakan.
“Sejak lima tahun lalu sampai sekarang, industri penerbitan mengalami kerugian mencapai angka Rp 6 miliar akibat maraknya aksi pembajakan buku tersebut,” tandasnya.

Gimana kalau bedain buku palsu or bajakan ?
Secara kasatmata buku-buku palsu dapat mudah diketahui. Cirinya, cetakan agak buram,warna coverbuku akan terlihat renggang (tidak rapat) jika dilihat memakai kaca pembesar, tidak ada hologram pengaman, halaman kata pengarang kabur, dan cetakannya tidak rapi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s