Asing

Langit mulai gelap, mendung hitam bergelayut di langit utara. Siap menumpahkan semuanya. Lalu lalang kendaraan makin kencang, berlomba dengan hujan untuk sampai di rumah masing-masing lebih dahulu. Tak terkecuali orang-orang yang berjalan kaki di trotoar yang sempit. Berlomba dengan waktu mempercepat langkah kaki sambil sesekali mendongak mengharap langit berbelas kasihan. Ah…tentu saja mungkin tetap kuyup, mengingat beberapa tetes hujan sudah mulai berjatuhan. Di ujung jalan, para anak-anak pengojek payung dengan riang mengembangkan payung warna-warni untuk memberikan teduh, tidak gratis tentunya🙂. Ah….hujan memang selalu memberikan sensasi bagi warga kota ini.

Wanita paruh baya itu semakin mempercepat jalannya, loket stasiun tinggal sepelemparan lagi. Huf…..terasa benar sesak dalam dadanya. Tapi, tak boleh kalah. Sebentar lagi curahan bah dari langit pasti akan membuatnya tambah sesak, bila ia tak cepat mencapai stasiun.

Tiba di depan loket, sang penjaga loket tersenyum sambil memberikan tiket, setiap hari membeli tiket pulang pergi membuat mereka saling tahu meskipun tak akrab.
“Lima menit lagi buk keretanya” Ujarnya dari balik loket
“Iya jang, hujan deres nih kayaknya abis ini” jawabnya
“Iya buk, hati-hati. Ini kembaliannya” seulas senyum terukir di wajahnya, menyenangkan.
“Iya jang, makasih ya”

Bressss…………seperti yang sudah diduga. Rintik hujan tadi berubah serupa curahan air terjun niagara. Deras tak tertembus. Untung dia sudah sampai di stasiun. Penjaga pintu tadi sempat mengingatkan tasnya yang terbuka, kebiasaan lupa menutup setelah membeli tiket. Ah…ia ternyata sudah mulai sering melupakan banyak hal. Cucunya bilang mungkin oma sudah mulai demensia🙂. Tapi setidaknya ia masih bisa pulang pergi naik KRL sendiri.

Tak ada tempat duduk yang kosong, terpaksa dia berdiri menunggu. Tampisan air hujan dari luar dan atap stasiun tetap saja membasahi sweaternya, atap stasiun tua ini memang bocor dimana-mana, dalam hitungan menit pasti air sudah akan menggenangi lantainya. Para calon penumpang lain sudah mulai sibuk membuka payung mereka masing-masing, melindungi diri dari air hujan yang menjangkau masuk ditiup angin.

“KRL ekonomi jurusan Bogor akan masuk jalur 1, Jalur 2 persiapan masuk Commuter line Jurusan Jakarta Kota” suara merdu terdengar nyaring, keretanya akan segera tiba.

Dari arah utara masuk kereta penuh sesak dengan penumpang, bergelayutan di pintu. Hujan deras menghalangi mereka berada di atap seperti biasanya.

Suara kereta bergemuruh dari arah selatan, berpapasan jalan dengan kereta ekonomi yang mulai berangkat. Bergegas ia masuk di gerbong terakhir. Tak seperti kereta dari arah berlawanan, gerbong ini sepi, hanya beberapa orang wanita di dalamnya. Sibuk dengan hp dan lamunannya masing-masing. Masih ada kursi kosong, bahkan lapang, di pinggir sendiri. Dihempaskannya badan disana, dadanya sudah mulai terasa nyeri lagi, ada apa ini, yang pasti dia harus cepat sampai rumah.

Di luar, hujan terus menggila. Di beberapa stasiun berikutnya, para penumpang naik dengan wajah kuyup dan payung di tangan. Kebanyakan dari mereka langsung duduk, membuka tas, dan memainkan Hp; entah sms, entah chatting facebook; entah melihat potret pasangan. Beberapa yang lain sibuk dengan buku di tangan dan earphone di telinga. Khusyuk. Beberapa malah tidur dengan nyenyak, seperti seorang ibu di depannya. Ah…dingin di luar sampai terbawa ke dalam gerbong. Sepi.

Deg……nyeri itu datang lagi, kali ini lebih hebat. Seperti seribu jarum menusuk ulu hatinya. Dipejamkannya mata, istighfar. Nyeri itu semakin hebat, tangannya kini mulai terasa dingin, gemetar memegang dada. Sensasi nyeri itu semakin menyebar, ke punggung dan lengan kirinya. Nafasnya mulai terasa sesak. Ah….tangannya menggapai meminta pertolongan, memanggil , tapi tak satupun kalimat yang keluar. Pandangannya mulai kabur, namun ibu di depannya makin terlelap. Gadis di kursi seberang masih asyik membaca buku dan mendengarkan musik. Yang lain, masih khusyuk dengan Hp-nya masing-masing. Tak ada yang tahu, tak sadar. Allah……Allah……pelan mulutnya mengumandangkan asma Allah. Sesaknya mulai berkurang kini. Matanya kini sepenuhnya terpejam. Menjemput cahaya.

20 menit kemudian.
Seorang petugas tiket berteriak. Innalillahi wa inna ilaihi rojii’un. Penumpang yang lain tersentak. Satu kematian lewat tanpa mereka ketahui.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s