Jangan Jadi Monyet

Alkisah ada seekor monyet yang terjebak banjir di sebuah pulau. Dia kemudian berhasil naik sampai puncak sebuah pohon kelapa. Begitulah kemudian dia terselamatkan dari banjir. Namun cobaan untuk sang monyet tidak berhenti sampai disitu, tiba-tiba muncul angin puting beliung yang mengancam posisi-nyamannya di pucuk pohon. Maka semakin kencang angin berhembus, semakin erat dia memeluk dahan pohon, hingga selamatlah ia dari angin tersebut.

Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba datanglah angin topan, sang monyet-pun kembali mengencangkan pelukannya agar tak terjatuh, hingga kemudian berhentilah angin topan tersebut dan sang monyet masih bisa bertahan di ketinggian.

Karena memang badai sedang mengamuk, maka setelah angin topan pergi, tiba-tiba datanglah angin tornado yang lebih dahsyat. Menghadapi angin ini sang monyet semakin mempererat pelukannya lagi, dan lagi, hingga angin tersebut beranjak pergi, dan sang monyet bernafas lega karena masih bisa bertahan.

Dalam kepayahan, sang monyet masih bersiaga karena khawati akan datang angin kencang lagi. Dia masih mempererat pelukannya di batang pohon sambil sesekali mengawasi sekeliling. Namun tak Nampak tanda-randa angin kencang datang kembali. Yang ada malah mendung berarak pergi, digantikan awan putih yang bergerombol mengisi lapangnya langit biru. Matahari cerah bersinar, dan anginpun lembut membelai seisi pulau.

Sang Monyet yang masih bertahan di pucuk pohon kelapa juga merasakan sapuan angin lembut ini. Angin yang sepoi-sepoi membuatnya semakin lama semakin mengantuk. Dan tiba-tiba …..Bruuukkk !!!! sang monyet terjatuh karena tertidur.

*** Sang Murabbi***

Malam minggu, saya nonton Sang Murabbi lagi, diatas adalah salah satu nasehat yang diberikan oleh Ust Rahmat Abdullah dalam film tersebut (tentunya dengan banyak gubahan🙂 ) ketika salah seorang jundi menanyakan mengenai godaan dan cobaan yang menggoyahkan keistiqomahan seorang pejuang dakwah.

Tentunya kita semua tahu peribahasa semakin tinggi pohonnya, semakin kencang anginnya. Hal ini bisa dianalogikan dengan semakin tinggi posis yang dicapai seseorang, maka kualitas godaan yang dihadapi akan semakin besar. Mungkin kita bisa berbangga diri ketika cobaan-cobaan besar itu bisa kita hadapi, seumpama angin putting beliung, angin topan dan angin tornado yang mencoba menjatuhkan si monyet diatas. Cobaan-cobaan besar itu terlihat oleh mata, sehingga kita masih diberikan waktu dan persiapan untuk menghadapinya. Mempererat pegangan dan meningkatkan kewaspadaan. Sehingga , angin besar itu lewat tanpa mampu menggoyahkan posisi kita.

Tapi, kesiapan seorang pejuang tidak hanya dibuktikan dengan gagahnya dia mengayunkan senjata untuk mengusir musuh, atau banyaknya perlengkapan perang yang dia miliki. Kesiapan itu juga menuntut kesiapan batin, keistiqomahan dalam melakukan perbuatan baik bagaimanapun kondisinya. Jangan sampai kita lalai terhadap angin sepoi-sepoi, menurut kita goncangannya sedikit saja namun ternyata melenakan dan mengakibatkan kehancuran yang lebih besar.

*nosy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s