Jakarta di sini

Tanjung Priuk

Siang menyengat, barisan kendaraan mengular di lampu merah. Asap polusi menghitamkan pagar dan atap halte. Sungguh inilah Jakarta🙂.
Sudah hampir 1 jam menunggu, tapi No 80 belum muncul juga. Kami masih terjebak dalam asap polusi dan riuh kendaraan, menghitung mobil-mobil dengan warna putih yang terlihat selama itu ( sudah hampir 20 buah hehe ).

Keriuhan lain tiba-tiba muncul ketika kurang lebih 6 buah kendaraan berat bermuatan besi-besi bekas beriringan melintas. Diatas hampir semua truk, 3-4 anak terlihat memilih beberapa besi, mereka mungkin naik beberapa meter sebelum lampu merah. Ketika terdengar suara raungan sirine polisi yang memekikkan telinga, anak-anak itu tampak mulai panik. Tepat di depan kami, 3 orang anak kecil (mungkin rentang usia 10-12 tahun) sibuk menyeret beberapa batang besi di atas sebuah truk yang berhenti karena lampu masih menyala merah. Setelah raungan sirine polisi semakin dekat, beberapa batang besi yang beratnya berkilo-kilo itu dijatuhkan ke aspal jalan begitu saja (mereka benar-benar main-main…..main-main dengan nyawa mereka sendiri dan orang lain), menggetarkan tanah yang kami pijak. Sebuah mobil beruntung terhindar dari goresan pecahan besi dengan berhenti mendadak. Beberapa motor memilih berhenti beberapa ratus meter sebelumnya, menghindari bahaya. Keriuhan mulai bertambah peserta, sirine polisi bergabung dengan klakson mobil dan motor , juga teriakan anak-anak yang memberi peringatan kepada teman-teman mereka untuk bergegas. Kemacetan otomatis bertambah parah dan chaos.

Kami masih menunggu, tak hanya No 80, tapi juga apa yang akan terjadi selanjutnya ??

Beberapa anak nampak kesusahan menyeret bongkahan besi mereka, tak hirau pada mobil-mobil dengan klakson meraung yang terganggu dengan kehadiran mereka di tengah jalan. Beberapa diantara anak-anak itu masih bertahan di atas truk, mencoba mengais beberapa bongkahan besar besi berharga (untuk mereka, lebih berharga daripada nyawa mereka sendiri). Tak berapa lama, dua orang polisi dengan tongkat di tangan mulai beraksi, menghalau dan mengambil beberapa bongkahan besi yang terserak di jalan raya dan trotoar (tak sempat terselamatkan oleh tangan-tangan kecil itu). Yang masih bertahan di atas truk segera turun dan berlari berpencar, gesit meliukkan tubuhnya diantara mobil-mobil yang merambat pelan.

Pertunjukan usai ?? Belum .

Beberapa besi yang berhasil diambil cepat dinaikkan ke metro mini yang melintas, tentu ditingkahi omelan sopir yang takut ditangkap oleh polisi. Saya sempat beradu pandang dengan seorang anak yang baru saja berhasil membalas omelan pak sopir dengan tak kalah garangnya,membuat sang sopir dengan terpaksa mengangkut mereka. Umurnya mungkin masih 12 tahun, dengan tubuh kurus dan kulit menghitam terpanggang matahari. Wajah dan pandangan mereka sekeras besi, bukan wajah anak kecil yang ingin saya lihat.

5 menit setelahnya, raungan sirine polisi tak lagi terdengar. Beberapa orang di halte masih menjadikan topik perburuan besi tersebut menjadi topic utama.

Berapa harga yang didapat mereka dari bongkahan besi itu ? dimana mereka menjualnya ? bagaimana anak-anak sebanyak itu membagi hasil perburuan mereka ? apakah mereka melakukan aksi berbahaya itu setiap hari ? dimana orang tua mereka ? . Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar tak mendapat jawaban.

Ketika No 80 datang, saya sudah mendapatkan sisi lain Jakarta hanya dalam waktu kurang dari 10 menit. Ketika menoleh ke jendela, sebuah layang-layang terlihat meliuk di langit yang kelabu.
Yah …. setidaknya masih ada layang-layang di langit Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s