Luka …

Arga meraih gagang pintu dengan tergesa, pot yang pecah di teras rumah sudah cukup memberi pertanda. Benar saja, dilihatnya ibu duduk tersedu di pojok ruangan. Beberapa pecahan kaca gelas masih berserakan di sekitarnya.

“Ibu, apakah dia lagi …..” Arga memeluk sang ibu, dari bibirnya terdengar gumaman tertahan.

‘em…….oh …..uh” suara itu tercekat dalam kerongkongan, tergesa dihapusnya air mata yang sudah menganak sungai sejak tadi
“ibu…tidak apa-apa ?” suara itu terdengar dari bibir Arga, dilihatnya lebam di pipi ibunya.

“ah … uh….” Sekali lagi suara itu tercekat dibarengi gerakan tangan dan pelukan. Gerakan tangan yang biasa Arga lihat ketika terjadi hal yang sama. Berkali-kali…bertahun-tahun, dan Arga tahu ibu tak kan pernah apa-apa untuk melindunginya, meskipun dia tak pernah bisa melindungi diri sendiri. Tidak apa-apa, ibu tidak apa-apa……suara itu menggaung dalam hatinya, suara ibunya yang hanya dapat ia dengar ketika air mata mereka mengalir bersama kepiluan yang dalam. Suara ibunya….suara yang disimpan Tuhan hanya untuk Ia dengar.
Tapi kali ini …. tangan itu bahkan berani memukul ibunya.

Bergegas dipapahnya ibu duduk di kursi, memberikan segelas air untuk menenangkannya. Ah ibu ….Arga menggigit bibirnya sendiri, merasa perih itu menusuk hatinya yang paling dalam.

Untuk kesekian kalinya, dilihatnya sekeliling, ada banyak pecahan kaca dan gelas. Bi Inah masih belum pulang dari belanja

**
“ Bu, hari ini kenapa ayah tak datang ? Kan Arga ulang tahun “ Rengekan kecil yang terucap di pagi hari saat Arga bangun ditanggapi ibu dengan senyum tipis, senyum anggun bidadari.
Arga cukup mengerti jawabannya, meskipun ibu tak mengucap sepatah katapun.
Tapi, kali ini lain ……. Arga butuh jawaban.
“Ibu …….. bisakah ibu minta Ayah untuk datang ? “
Seketika garis senyum itu berkurang, dengan pelan ibu menggeleng dan tangannya memberi isyarat, bahasa yang sudah mulai dikenalnya sebagai kalimat “Jangan sayang, ayah hari ini sibuk” . Arga diam, anak kecil ini bosan dengan alasan sama ketika ia bertanya kemana ayah setiap hari.
Itu 20 tahun yang lalu.Ulang tahun yang ke-5
**

Ketika membuang serpihan kaca itu di tempat sampah, Arga masih ingat untuk tetap menyimpan kepingan kaca yang tipis dan tajam itu di ruang dalam hatinya, cukup banyak untuk menghujani seseorang itu hingga mati.

**
‘Apa yang kau ajarkan pada anak itu !!!!, beraninya dia menentangku, ayah kandungnya sendiri!!! “. Suara itu menggelegar di ruang tamu.
“Ayah ?? aku tak punya ayah sepertimu !!” Suara itu menggema menyaingi teriakan ayahnya, Arga bahkan tak percaya bahwa itu suaranya sendiri.

Plakkkk ………… Tangan itu sudah benar-benar melayang ke pipinya, Arga meringis. Sebaris senyum tergambar di wajahnya. Ibu yang sejak tadi hanya berdiri disampingnya sekarang bergerak kearah laki-laki itu, wajahnya memohon agar dia tak lagi menanggapi ucapan Arga.
“Baik, kalau perlu tampar lagi, bukankah selama ini kau hanya berani melakukan itu pada ibuku !!”Arga benar-benar tak tahan.
‘Kau….beraninya kau berteriak seperti kepadaku, dan kau Arni, apa yang kau lakukan. Kau !!! “ tangan itu menunjuk wajah Arga” Sekali lagi kau berani melawanku, lebih baik kau pergi dari sini !!” laki-laki itu kembali naik darah
‘Pergi ??? Rumah ini rumah ibuku, kau tak berhak mengusirku!!” Arga tak kalah berang
“Kau….dasar anak tak berguna!”
“Sama tak bergunanya sepertimu bukan ?” Arga tertawa mengejek
“Kau ………..” kata-katanya berhenti, Arni istrinya masih memegang tangannya.
Klimaks …hari itu, pertengkaran keluarga yang memuncak. Arga tak tahan melihat setiap hari ayahnya menyakiti hati ibunya. Bukan dengan kekerasan fisik. Namun kata-katanya yang menyakiti perasaan, Arga tahu itu lebih tajam dari senjata apapun, cukup perih untuk menorehkan luka di hati ibunya selama bertahun-tahun.

Laki-laki itu merasa berkuasa penuh atas istrinya. Toh dari awal, dia tak pernah ingin menikahinya. Takdir yang kejam memaksanya, ayahnya dulu berkeras menikahkannnya dengan gadis itu untuk menyelamatkan perusahaan mereka yang bangkrut. Dan dengan pernikahan mereka, perusahaan ayahnya memang tak lagi bangkrut, tapi dia bagaikan burung dalam sangkar. Orang tua gadis itu membeli hampir semua saham perusahaannya, memastikan dia tak macam-macam dengan anak gadisnya. Mengikatnya dengan tali yang sangat erat namun tak terlihat.

Gadis itu memang cantik, dia begitu menawan saat pertama kali melihatnya, namun sayang ….dia bisu. Sangat memalukan, dia tak pernah memamerkan ke rekan kerjanya. Hidupnya adalah bekerja, rumah hanya sebagai singgahan bila ia ingat. Kewajiban sebagai suami ia tunaikan hanya untuk melindungi perusahaannya, bukan….perusahaan dimana dia menjadi direktur utama meskipun bukan miliknya seutuhnya. Saham terbesar masih milik istrinya. Dia merasa dipecundangi. Lingkungan kerja dan para wanita cantik sempurna yang mengelilinginya karena kemewahan dan ketampanan yang ia miliki membuatnya lupa pada rumahnya, pada keluarga yang telah memberinya hadiah indah, seorang anak laki-laki bernama Arga. Pulang hanya untuk menyambut ayah mertuanya ketika berkunjung, dan selama ini istrinya telah menjadi lawan bermain yang sangat cantik. Memenuhi pertemuan keluarga dengan rona bahagia, tak tercium perilaku yang sebenarnya. Bisik-bisik ketidakharmonisan keluarga yang kadang menyebar selalu terbantahkan, ia mengakui istrinya sangat pintar menjaga kehormatan diri dan keluarga. Meskipun ia tak pernah sekalipun meluangkan waktu untuk memberinya rasa hormat yang sama.

Tapi hari tu, anak laki-laki yang selama ini juga selalu manis untuk menjadi kolega sandiwara keluarga harmonisnya menjadi pemberontak. Menentangnya dengan kata-kata yang tak pantas. Ia kaget mengetahui anaknya telah menjadi seorang pemuda yang berani menentang kekuasaannya. Kekuasaan mutlak tak terbantahkan di rumahnya sendiri. Hari itu 17 tahun sejak dia melihatnya pertama kali dalam bentuk bayi merah.
**

Seseorang itu, ia tahu sudah terlambat untuk menemuinya hari ini. Ia tak terlalu cepat menggerakkan kaki untuk pulang ketika desir hatinya memburu tiba-tiba. Desir hati yang juga telah terbiasa datang ketika ibunya butuh bantuan, ketika seseorang itu kembali datang mengusik kehidupan mereka.

**
Sudah larut malam ketika Arga pulang, Bi Inah yang selalu setia sejak bertahun-tahun yang lalu membukakan pintu.
“Ibu sudah tidur bik” tanyanya lembut
‘Sudah Den, baru saja”
“Oh, ya sudah”
“Den Arga mau saya buatkan minum hangat ?”
“Nggak usah bi, bibi tidur saja, maaf jadi menunggu, saya kan punya kunci rumah”
“Ngak pa-pa, saya juga biasa tidur malam kok den, nggak bisa tidur hehe”Bi inah menjawab sambil tersenyum.
Pelan dinaikinya anak tangga, pintu itu agak sedikit terbuka. Mungkin ibu lupa menutup pintu tadi. Ketika Arga akan menutup pintunya, sekilas dilihatnya wajah ibunya yang lembut tertidur di sofa. Pasti ibu tadi menunggunya pulang, meskipun Arga sudah mengabarkan pulang larut, ibu biasanya masih menunggunya sambil membaca.

Setelah membaringkan ibunya di tempat tidur, menyelimutinya, mencium kening dan menggenggam tangannya, itulah bahasa aku mencintaimu. Dia tersenyum, itu yang biasanya ibu lakukan untuknya setiap malam, tak pernah jeda. Kecuali beberapa tahun terakhir ini, ketika Arga mulai tumbuh dewasa, mulai sibuk dengan sekolah, dan mulai membangun hidupnya sendiri.

Beberapa buku nampak berserakan di meja baca ketika Arga akan mematikan lampunya. Sebuah buku bersampul hijau lembut menarik perhatiannya, tulisan tangan ibunya yang rapi terlihat di salah satu halaman yang terbuka, buku harian ibunya. Arga membacanya
“Arga, aku menjadi seorang ibu dengan kehadirannya. Menjadi ibu, membelai rambutnya, mengajarkan padanya hidup sesungguhnya, hidup yang sebaik-baiknya, hidup yang akan melihatmu sebagaimana kau melihatnya. Aku selalu tahu kau akan tumbuh menjadi anak yang kuat dan baik. Bagaikan sebuah pohon yang rindang, dengan akar kokoh dan buah yang segar, memberikan manfaat bagi setiap orang. Itulah impianku.

Dulu aku pernah menyesal, ketika malam-malam berlalu tanpa bisa menyanyikan lagi nina bobo, tanpa bisa memberimu dongeng yang hebat, tanpa bisa memberimu ucapan selamat malam. Tapi …. Dia selalu meyakinkanku, bahwa Dia-lah yang akan melakukannya untukku, Dia-lah yang akan selalu menjagamu, selama aku tak pernah berhenti meminta, bahkan meskipun aku tak pernah meminta.

Aku tahu tak akan bisa menjadi sosok ibu terbaik karena kelemahanku. Tapi dia telah menjadi anak terbaik yang aku punya. Sekarangpun dia menjadi seorang pemuda yang baik dan tampan. Nilainya nomor satu, santun dan baik menjadi pujian untuknya setiap aku mengunjungi ke sekolah, program-program social dengan kawan-kawannya membahagiakan hatiku.
Kuharap, ketika Arga kelak tumbuh menjadi semakin dewasa, dia akan mengerti, bahwa setiap kesempurnaan itu dilihat dari tiap keping kebahagiaan yang mengisi hati. Seperti aku, menjalani kesempurnaan hidup karena Arga selalu mengisi tiap gelas kebahagiaanku setiap hari. Terima kasih Allah Arga dan semua yang indah hari ini ……”

Arga hanya mematikan lampunya, tak menutup halaman itu. Melangkah keluar dan bersandar di pintu. Dadanya sesak seperti biasa ketika ia tanpa sengaja menemukan diari ibunya dengan halaman terbuka. Ibunya tak pernah tahu ia telah membacanya. Bahkan ia merasa tak perlu memberi tahu ibunya.

Arga tahu ibunya menderita, karena pernikahannya tak bahagia. Tapi, tak pernah sekalipun ibunya menulis ketidakbahagiaanya dalam diary-nya. Halaman itu penuh dengan kata-kata syukur karena moment-momonet bahagia. Saat melihat Arga pertama kali dalam bentuk bayi merah, saat melihat Arga pertama kali merangkak, saat melihat Arga pertama kali mengucap kata mama……papa….lalu bermetamorfosa menjadi ibu dan ayah. Saat pertama kali Arga masuk sekolah, pertama kali Arga menang lomba lukis, meraih piala lari, naik kuda pertama kali, saat pulang dengan kaos penuh lumpur karena bermain bola, dan saat Arga merajuk karena tak diijinkan ikut naik gunung karena ibu terlalu cemas. Semua moment pertama kali itu menjadi bait-bait puisi syukur ibunya, semua pertama kali tercantum disana, kecuali pertam kali lainnya yaitu moment pertama kali ia marah pada ayahnya, pertama kali ia membanting mainan dari ayahnya dan moment saat ia pertama kali beradu mulut dengan ayahnya, semua kepedihan itu tak ada disana.
**

to be continued …. (kapan-kapan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s