Ruang Rindu

Terburu-buru Rana merapikan jilbab putihnya. Ah…..sudah jam 06.30. Kenapa dia tadi kesiangan sih, mana si Nina tadi mandinya lama lagi. Kalu begini bisa-bisa dia terlambat ke sekolah. Dan yang pasti dia terlambat untuk satu hal, satu moment yang sekarang menjadi saat yang entah kenapa bisa membuatnya tersenyum tiba-tiba.

Secepat kilat dituruninya tangga menuju ruang tengah. Ibu kost yang sedang mencuci meneriakinya agar hati-hati.
“ Rana berangkat dulu bu !! “ cukup kiss by dari jauh aja untuk hari ini, besok pasti kucium tanganmu seperti biasa xixixie.

Ibu kost yang sabar dan penyayang ini menggeleng-gelengkan kepala. Entah kenapa anak kost-nya yang satu ini menjadi aneh seminggu terakhir. Wajah manis itu tak sadar selalu senyum-senyum sendiri🙂

Hups……sekali loncat dia sudah ada di jalan besar menuju sekolah. Dilihatnya belokan sebelum gang kompleksnya, tidak ada…hmmm semoga belum terlambat. Berdiri sebentar untuk menata nafas, maklum dia tadi lari-lari kecil sepanjang gang kompleks. Bahkan hampir saja menubruk abang sayur di belokan jalan.

Setelah nafasnya kembali normal, saatnya berjalan santai berasa tak pernah terjadi apa-apa. Satu … dua …tiga….Rana menghitung dalam hati. Dan pada hitungan ke-dua belas “ Assalamu’alaikum Rana ..” sebuah sapa terlontar dari sosok tampan bersepeda gunung yang melewatinya.

“Wa’alaikumsalam” dan kali ini Rana menjawabnya dengan senyuman lebar, meskipun sang pemberi salam sudah berlalu menjauh.

“Hei Ran..kenapa senyum-senyum ndiri?” sebuah tepukan ringan menyadarkan Rana yang sedari dari senyum-senyum gak jelas. Ternyata dia juga nggak sadar Tina temen sekelasnya menjajari langkahnya semenit yang lalu.
“Nggak…udah ngerjain PR belum ?” Rana berkilah, memalukan sekali kalau ketahuan Tina.
“PR apaan ?? hari ini adalah hari bahagia dalam seminggu. Hari yang nggak ada PR hahaha” Tina tertawa lebar, rambut kuncir kudanya bergoyang lucu tertiup angin
“Oh … iya ya, hari ini kan nggak ada PR” Rana ikutan tertawa lebar sekali, seminggu ini dia sama sekali nggak konsentrasi belajar atau mengerjakan PR, bahkan makan aja jadi ikutan nggak enak. Kenapa begini ya ?? Tanpa sadar Rana menepuk jidatnya sendiri.
“Kamu sekarang jadi aneh , sakit ?? “ kata Tina sambil menempelkan tangannya ke dahi Rana.
“Nggak ah…ngaco. Ayo buruan masuk kelas”

Mereka berdua bergegas masuk kelas XI IPA 1, sebelumnya Rana sempat melihat cowok itu menatapnya tersenyum di depan kelasnya yang berseberangan. Aduh ….tiba-tiba pipinya terasa panas.

**

Di daun yang ikut mengalir lembut, terbawa sungai ke ujung mata
Dan aku mulai takut terbawa cinta, menghirup rindu yang sesakkan dada
Jalanku hampa dan ku sentuh dia, terasa hangat di dalam hati
Kupegang erat dan kuhalangi waktu, tak urung jua ku lihatnya pergi
_Ruang Rindu-Letto_

Rana bahkan baru tahu namanya seminggu yang lalu. Padahal sapa itu hampir tiap pagi menemaninya berangkat ke sekolah sejak semester lalu. Pertama kali Rana hanya mengira itu sapa biasa, cowok itu memakai seragam yang sama dengannya, jadi pasti karena itu dia melempar salam. Tapi hampir setiap pagi setelahnya ketika tak sengaja mereka bertemu di jalan, sapa itu selalu terlontar. Sebulan belakangan bahkan ditambah dengan nama Rana setelah salam. Dan pagi setelahnya Rana baru sadar bahwa dia sering melihat cowok itu berdiri di depan kelasnya, menatapnya dari jauh dan melempar senyum. Dulunya Rana melihatnya tanpa sadar, berlalu begitu saja. Rana nggak tahu cowok itu senyum kepada siapa, dia hanya sesekali melempar senyum kalau tak sengaja bertatapan mata.

Cowok itu namanya Ben. Sejak itu hati Rana kebat-kebit tiap kali mendengar temannya menyebut nama Ben ketika berpapasan jalan. “Hai Ben” .. “Ben mau kemana ?” …..”Ben, keren kemarin basketnya, selamat ya. Jangan lupa besok menang lagi” dan Ben…Ben……nama itu tiba-tiba sekarang selalu muncul di sekitarnya, meskipun Rana sendiri tak pernah memanggil nama Ben dengan mulutnya sendiri, hanya mengejanya dalam hati.

“Oh dia itu Ben, anak XI IPS, kenapa ?” kata Tina saat dia bertanya tentang cowok yang tiap pagi selalu bersepeda lewat jalan yang sama.
“Oh yang namanya Ben itu ya hahahaha, kok aku gak pernah tahu ya” Rana menggaruk kepalanya yang tidak gatal
“Lah…lha wong kamu kuper, di kelas terus, kalau ngak gitu ke perpus, lab, ruang guru, ya mana tahu kalau namanya Ben, orang dia cukup terkenal kok, kapten tim basket sekolah “ Tina mendengus sebal.
“Hehehehe …..” Rana meringis sambil manggut-manggut . Ternyata dia terkenal to, dan aku yang kuper. Hyaks…..

****

Sejak saat itulah Rana mengenal rindu. Bukan rindu yang mengharu biru. Rana hanya ingi malam cepat berlalu dan pagi menyapanya lewat sosok yang bernama Ben. Dia baru sadar kalau hatinya akhir-akhir terasa bahagia, dan selalu ingin tersenyum. Meskipun PR dan laporan praktek Laboratorium menumpuk, Rana akan mengerjakannya dengan riang gembira, kalau perlu sambil bernyanyi lagu “Libur tlah Tiba” dan “Aku anak gembala”. Bahkan kalau boleh, dia juga ingin tersenyum kepada mang sayur, polisi, bang becak juga patung lumba-lumba depan sekolah yang entah kenapa sekarang terlihat unyu-unyu dan menggemaskan akhir-akhir ini.

Mungkin ini semua karena Ben. Meskipun nama itu tetap tereja hanya dalam hati. Dia tak berani lebih.

****
Hari kelulusan. Kegembiraan untuk semua orang. Wajah-wajah bahagia dari sosok-sosok dengan baju bagus, semua terlihat mempesona. Semua terlihat bahagia. Namun tidak disini. Di ujung taman sekolah. Tempat dua orang duduk terpaku menatap bunga Bougenville yang bermekaran. Keduanya telah terdiam hampir selama satu jam yang lalu.

Ben mengambil sesuatu di saku jasnya, masih ada bunga disana. Dia salah satu penerima penghargaan dari sekolah atas kontribusinya sebagai kapten tim dan pemain basket handal yang menyumbang banyak piala.

Diulurkannya benda itu ke arah Rana. Ketika Rana menatapnya, sebuah Bros cantik berbetuk mawar berkilau disana

“ Untukmu …. Kau luar biasa. Maaf hanya ini yang bisa aku berikan” kata-kata menggema di udara saat Ben mengucapkannya. Cukup untuk membuat mata Rana memanas untuk kedua kalinya hari ini. Pertama tadi saat ayah memeluknya bahagia. Dan sekarang, saat kata-kata Ben memeluk udara antara mereka berdua.

1 tahun yang lalu. Di taman yang sama. Di kursi taman yang kini telah berganti catnya, Ben juga pernah memberikan sesuatu yang membuat Rana berkaca-kaca. Sebuah Bros indah berbentuk hati yang berkilau. Ben sang kapten tim basket yang populer menyatakan cintanya. Sesuatu yang bahkan Rana tak berani memimpikan bila saat itu tiba. Rana tak berani, tak berani untuk kehilangan rasa gembira itu.

“Aku…..kau tahu, kita mungkin tak akan bertemu dalam waktu yang lama. Pendidikanku memberikan jadwal dan aturan yang ketat. Dan kau, aku tahu akan menjadi peneliti yang hebat. Semoga … kelak ketika kita bertemu, kita akan sama-sama bahagia” Ben selesai, hanya ini yang ia ingin katakan sekarang. Sedikit, berat namun melegakan.

Rana hanya terdiam. Diterimanya Bros itu. Dia tak ingin mengucapkan apa-apa. Melihatnya sekarang sudah cukup, berdoa dalam hati juga sudah cukup, bahkan menangis dalam hati …. Itu cukup sekarang.

“Maaf Ben, pernahkah kau berpikir kita berbeda ? aku pernah. Dan itu cukup membuatku terluka. Jadi mari kita putuskan untuk menganggapnya tak pernah ada. Kalau kau jatuh cinta sekarang, maka mungkin kau akan mengalaminya lagi dengan orang yang berbeda, namun sama denganmu”

1 tahun yang lalu kata-kata itu terucap dari bibir Rana yang bergetar. Jilbabnya yang seputih kapas berkibar ditiup angin. Dada Ben terasa sesak, kilau kalung salib di dadanya terasa sangat perih menusuk mata. Diremasnya tangannya sendiri. “Tapi kita kan masih SMA, aku bukan melamar untuk menikahimu sekarang, aku hanya….aku jatuh cinta padamu” dan kata-kata itu meluncur dalam keheningan yang lama.

“Ben…cinta yang sekarang akan menumpuk dan menggunung, bila kau sanggup menahannya, maka aku akan hancur bila menanggungnya. Aku tak berani meneruskan apa yang tak mungkin kujalani. Kuharap kau mengerti” Rana menjawabnya pelan. Ben tahu Rana juga terluka. Gadis itu, Ben tahu dia juga mencintainya. Tapi ……. Apakah cinta itu ? waktu itu Ben merasa dibohongi oleh kata-kata cinta pujangga yang manis bagai madu.

“Kenapa kita berbeda? “ Tanya itu menguap di udara ketika Rana meninggalkan Ben sendiri.

Ku mengira hanya dialah obatnya
Tapi ku sadari bukan itu yang kucari
Ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
Dan ku yakin kau tak ingin aku berhenti
Apakah itu kamu apakah itu dia
Selama ini ku cari tanpa henti
Apakah itu cinta apakah itu cita
Yang ’kan mengisi lubang dalam hati
_Lubang Di Hati-Letto_

***

10 tahun kemudian.

Hari ini, Rana melangkahkan kakinya di pelataran sekolah. Banyak yang berubah. Bunga-bunga yang dia tak tahu namanya sedang bermekaran. Bangku-bangku taman yang cantik menghiasi tiap sudut taman. Bahkan ada air mancur juga.

“Ben…..apakah kau melihatnya? Sungguh indah … bagaimana kalau kita ulang kejadian itu sekali lagi hari ini ? mungkin akan ada akhir yang berbeda ”

Pelan diletakkannya Bros Mawar yang cantik itu di bongkahan batu taman. Rana telah menyimpannya selama 10 tahun. Tak tergantikan sebagai penghias jilbab panjangnya. Sekarang mungkin sudah saatnya mengubur kenangan itu dalam-dalam. Seperti jasad Ben yang telah damai di komplek makam pahlawan. Sebuah peluru menembus dadanya ketika bertugas di perbatasan Afghanistan sebagai pasukan perdamaian. Misi yang membawa cerita baru, tak terlewatkan di tiap email yang Ben kirim ke Rana. Cerita yang membuat Rana menangis haru.

Sampai kini Rana masih belum mengerti, kenapa dia dan Ben bertemu di jalan ini, jalan para pecinta…… hingga perbincangan mereka beberapa tahun lalu terdengar jauh di dalam hatinya

“Ben …kenapa kau jatuh cinta padaku”
“Kenapa ?? aku hanya bisa menjawab kalau aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu, selalu …”
“Pertama kali ?? “ Rana mengernyit tak mengerti
Ben hanya tersenyum sambil menunjukkan sesuatu di tangannya. Rana tiba-tiba tersadar.
Syal biru milik mamanya tergeletak disana. Rana memakainya untuk membalut luka seorang anak yang terserempet sepeda motor di depan gang kost-nya setahun sebelumnya. Rana ingat, cowok ini juga ada disana, ikut membawa anak itu ke Puskesmas dengan sepeda gunungnya. Rana menepuk dahinya keras-keras. Ben hanya tertawa tak kalah kerasnya. Rana yang manis, yang anggun, dan pelupa.

Ku teringat hati
Yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi cinta
Perjalanan sunyi
Engkau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati cinta

_Sebelum Cahaya-Letto_

@ Mengenang Romansa saat SMA, apakah kau akan mengingatku dengan manis seperti aku mengingatmu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s