Kartini ….

Kedatangan 21 April besok ditandai dengan meriah di Detos (salah satu pusat perbelanjaan Depok). Sebuah panggung sudah dimeriahkan dengan berbagai balon warna-warni, diatasnya tampak beberapa anak kecil dengan berpakaian daerah dari berbagai penjuru negeri memenuhi panggung. Lucu dan menggemaskan, meskipun…….agak malu-malu🙂.

21 April biasanya berkaitan erat dengan dua frasa populer yaitu Kartini dan emansipasi. Meskipun saya mulai ragu dengan pemaknaan emansipasi di masa sekarang yang banyak digembar-gemborkan di media. Kartini dahulu dalam surat-suratnya menyuarakan keprihatinan akan nasib wanita di jamannya dan ditempatnya yang tidak boleh bersekolah. Wanita dianggap cukup tahu tentang masalah menyediakan makanan dan melayani suami, tanpa harus dibekali dengan macam-macam ilmu di bangku sekolah. Mungkin itulah impian Kartini, bahwa wanita sama dengan pria dalam hak mendapatkan pendidikan, dan kemudian menjadi emansipasi dan berakhir dengan kesetaraan gender. Apakah konsep tersebut sama ? ah….saya tidak akan membahasnya disini, mungkin lain kali🙂

Seminggu yang lalu, saya mengikuti proses ujian proposal tesis seorang teman. Salah satu pengujinya adalah seorang ibu yang datang dengan membawa bayinya yang masih berumur kurang lebih 3 minggu. Saya menduga mungkin sang ibu tidak tega meninggalkan bayi di rumah meskipun telah menyiapkan ASI yang sudah dipersiapkan sebelumnya, atau mungkin belum ada babysitter yang bertugas menjaga selama ibu bekerja. Tapi yang pasti, perjuangan ibu ini luar biasa. Sebuah kewajiban yang diemban oleh wanita pemberian Allah adalah menjadi seorang ibu, dan di lain pihak , kewajiban profesi yang harus dijalani dalam waktu bersamaan adalah menajdi seorang pendidik yang bertanggung jawab atas anak didiknya. Dua kewajiban yang mau tidak mau harus dilakukan bersamaan tanpa ada salah satu yang terabaikan.

Saya melihat fakta, bahwa bertahun-tahun kemudian impian Kartini melihat para wanita berada di bangku sekolah tercapai dengan mengagumkan. Tidak hanya setingkat SR, tapi juga doktor hingga profesor. Pencapaian tersebut bukan hanya dalam bidang pendidikan, wanita telah bergerak dengan bebas dalam tiap profesi dan pekerjaan. Ruang yang dulu pernah diklaim hanya milik pria juga kini bisa diisi oleh wanita, bisa dilihat bagaimana posisi sopir, satpam, tentara, penjaga pom bensin bahkan kuli juga memiliki wanita sebagai salah satu pengisinya. Kartini, melihat mereka dalam gambar hitam putih dibalik kaca pigura.

Dibalik itu semua, perjuangan seorang ibu untuk mencapai sebuah gelar akademik sungguh…sungguh….sangat membutuhkan pengorbanan. Saya memiliki banyak kawan satu kuliah yang notabene merupakan seorang ibu dari anak yang masih bayi, masih TK, masih SD dan rentang usia lain yang notabene masih membutuhkan kehadiran nyata seorang ibu di rumah. Perjalanan kuliah mereka rata-rata sering dibersamai dengan air mata yang mengalir ketika mengingat anak-anak mereka yang kadang harus ditinggal di rumah dengan pengawasan nenek, babysitter atau ayah mereka dalam waktu lama, bahkan kadang ada yang baru bisa pulang menjenguk 1 bulan sekali. Menurut saya, inilah pengorbanan yang sebenarnya.

Pertanyaannya apakah salah bila seorang wanita, seorang istri,dan atau seorang ibu meninggalkan keluarganya untuk bekerja atau bersekolah lagi dan harus meninggalkan keluarga dalam waktu yang agak lama ?. Saya melihat, bahwa kewajiban kami (saya juga wanita , meskipun blm mjadi istri atau ibu🙂 ) sebagai bagian dari keluarga adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Namun ada kewajiban lain yang menunggu, perbaikan diri dan posisi kita di masayarakat sebagai anggota sebuah profesi juga membutuhkan peran kita sebagai bagian dari amanah yang harus ditunaikan. Yang penting adalah ketika kita bekerja atau kuliah, kita tidak meninggalkan kewajiban sebagai istri atau ibu. Tetap ada waktu untuk pulang, karena kewajiban melayani keluarga adalah kewajiban mendasar yang harus dilakukan sejak janji dalam sebuah pernikahan atau sebuah kelahiran dari rahim mengikat kita dalam ikatan status “istri” dan “ibu”.

Pekerjaan sebagai istri dan ibu itu amanah yang menuntut kewajiban, profesi juga amanah, jadi ….peran wanita dalam keluarga jangan lagi dipermasalahkan dalam sebuah kalimat pertanyaan “apakah menjadi istri berarti berhenti bekerja ? “.

Saya tidak pernah menyangsikan tekad dan niat para ibu yang bekerja dalam posisi penting dan menuntut sebagain besar waktunya untuk berada di luar rumah dalam menyeimbangkan perannya sebagai ibu di rumah. Saya juga tidak pernah menyangsikan tekad dan niat para ibu yang memutuskan untuk kuliah lagi dengan meninggalkan keluarga mereka di rumah. Mereka masih seorang istri dan juga seorang ibu, yang menempatkan keluarga mereka menjadi prioritas nomor satu dalam hidup mereka. Saya tidak pernah menyangsikan, karena saya menjadi saksi yang menyaksikan air mata, uraian rindu dan tiap kali keluh kesah yang tanpa sadar keluar bila mereka mengingat keluarga mereka di rumah.

Mereka adalah istri dan ibu, yang memposisikan diri dalam kepingan impian Kartini dengan sebaik-baik syukur atas takdir mereka sebagai wanita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s